Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Gara - Gara Tik Tok


__ADS_3

Keluarga adalah segalanya. Tempat menanamkan cinta, tempat pulang saat urusan dunia terasa melelahkan dan juga merupakan tempat berlindung paling aman. Seburuk apapun seseorang, keluarga adalah yang sanggup menerima dengan tulus, saat seluruh dunia mungkin menolak, sebab keluarga adalah muara kasih sayang. Maka memiliki sebuah keluarga adalah anugerah yang teramat besar.


Begitu pun dengan seorang pria paruh baya bernama Tuan Gunawan Sudarmadi. Baginya keluarga segalanya. Ia boleh dingin di mata dunia, namun dalam lingkungan keluarga ia adalah seorang pemimpin yang sempurna. Di balik sikapnya yang tegas cenderung galak, ia adalah pribadi yang hangat.


Malam itu, dimana seluruh keluarga sedang berkumpul di sebuah ruangan, ia menatap satu persatu anggota keluarganya. Dimana Wira, anak semata wayangnya sedang duduk bersebelahan dengan Surya, seseorang yang baginya sudah seperti anak sendiri, sedang asyik dengan game onlinenya. Di sisi lain Via sedang duduk bersama Shera yang kini tengah menunggu hari persalinannya. Malam itu ia dan suaminya sedang berkunjung ke rumah itu.


Seulas senyum tipis hadir di sudut bibirnya. Pria paruh baya itu kini sedang menikmati secangkir teh hangat bersama istri tercintanya, menikmati masa tua bersama sambil mengawasi kedua cucunya, Lyla dan Gael yang sedang bermain.


"Lyla, jangan lama-lama main hape-nya, Nak! Nanti matanya sakit," ucap sang opa. Gadis kecil itu menoleh, dengan senyum yang sangat menggemaskan.


"Iya, Opa. Lyla lagi main tik tok sama Dede Gael," jawabnya lalu kembali fokus pada layar ponsel, sembari mengajari adiknya yang sedang duduk di baby Walker untuk melakukan gerakan yang sama. Tentu saja si kecil Gael tidak akan mengerti apapun. Hanya suara cekikikan lucu yang terdengar dari sana, saat melihat kakaknya melakukan sebuah gerakan.


"Ayo, Dede, ikutin kakak! Begini caranya," ucap Lyla sambil mengangkat tangannya ke atas, lalu memutar tubuhnya, membuat Gael kembali tertawa.


Tak jauh dari Lyla dan Gael, Via mengawasi kedua buah hatinya sambil mengobrol dengan Shera. Senyumnya mengembang saat menatap Lyla yang kini sangat aktif dan penuh semangat. Walaupun kadang masih ada khawatir jika Lyla terlalu lama bermain.


"Lyla, sini sebentar, Sayang," panggil Via, sehingga Lyla segera mendekat pada sang bunda.


"Iya, Bunda."


"Malam ini harus cepat tidur, Lyla kan besok mau ikut opera di sekolah. Nanti bangunnya kesiangan."


"Iya, Bunda. Tapi Lyla mau main sama Dede Gael dulu. Dede Gael juga belum mau bobo."


Mendengar pembicaraan Via dan Lyla, Shera hanya tersenyum. Kini baginya tidak masalah jika Lyla lebih mencintai Via dibanding dirinya yang merupakan ibu kandung Lyla. Bila mengingat semua perjuangan Via untuk Lyla, rasanya sangat egois jika ia masih cemburu.


"Di Opera besok Lyla jadi apa, Sayang?" tanya Shera dengan seulas senyum.


"Jadi Putri Salju, Bunda. Lyla punya gaun yang cantik yang dibuatin sama Bunda Via. Bunda Shera mau lihat gaun Lyla?"

__ADS_1


Wanita itu mengulurkan tangan pada Lyla sehingga gadis kecil itu segera mendekat pada bundanya itu. Shera mendudukkan Lyla di sisinya dan mengecup wajah gadis mungil itu.


"Bunda mau lihatnya besok saja. Lyla pasti jadi Putri Salju paling cantik di dunia."


Lyla tersenyum senang, lalu mengusap perut bundanya yang sudah membesar itu. "Bunda, Dede bayinya kapan keluar dari perut Bunda?"


"Sebentar lagi, Sayang" jawab Shera sambil mengusap rambut Lyla. "Lyla akan punya adik baby boy lagi, seperti adik Gael."


"Iya, Bunda."


"Ya sudah, sekarang Lyla tidur ya ..."


Lyla menjawab dengan menggelengkan kepala. "Lyla mau main tik tok dulu, Bunda. Lyla mau punya tik tok kayak Chella."


Ia segera berlalu dan meraih sebuah ponsel milik Via yang dipinjamkan padanya, lalu dengan cepat menghampiri sang ayah yang rupanya masih asyik dengan game online-nya bersama Surya.


Menghentikan kegiatannya sejenak, Wira menatap Lyla. "Ada apa, Nak!"


Lyla menunjukkan pada sang ayah ponsel milik bundanya yang ia pinjam, lalu dengan penuh semangat, ia berkata, "Ayah, Lyla juga mau buat video kayak Chella. Chella punya video tik tok yang bagus."


"Tik tok?" Kening Wira mengerut, lalu menatap Surya seakan meminta jawaban. Namun laki-laki itu hanya menyahut dengan mengedikkan bahu. Wira kembali menatap Lyla dan bertanya, "Tik tok itu apa?"


"Video, Ayah... Kayak punya Chella." Lyla membuka sebuah video milik Chella, lalu memperlihatkan pada sang ayah. "Begini, Ayah!"


Sepasang bola mata Wira membulat penuh, menatap layar ponsel itu, ia tampak terkejut, saat mendapati makhluk yang sedang melakukan gerakan aneh dalam video tersebut ternyata adalah Marchel bersama putrinya, Chella.


"Marchel?" seru Wira keheranan. Tawa Wira menggema di ruangan itu, membayangkan Marchel, seorang dokter yang selama ini sangat keren melakukan gerakan yang baginya terlampau memalukan. "Apa yang dia lakukan? Dia terlihat sangat aneh." Wira mencoba menahan tawanya.


Surya pun mendekat, lalu ikut menatap layar ponsel. Lalu beberapa saat kemudian segera menggeser posisi duduknya ke ujung sofa, saat menangkap bahwa Lyla sedang ingin membuat video serupa. Tak ingin menjadi korban, ia memilih menghindar.

__ADS_1


"Ayah, Lyla juga mau buat video seperti ini sama Ayah. Boleh, ya ..." pintanya dengan memelas.


Seketika tawa Wira terhenti mendengar permintaan Lyla yang baginya sangat berat. Mana mungkin ia mau melakukan gerakan bodoh seperti yang Marchel lakukan demi menyenangkan anaknya. Membayangkan dirinya menari seperti itu membuatnya geli sendiri. Ia kembali menatap Surya, seolah meminta bantuan, namun Surya hanya merespon dengan lirikan di ekor matanya dan berpura-pura tidak mengerti.


Image ku bisa rusak ini. batin Wira. Ia segera mengusap pucuk kepala Lyla.


"Sayang, Ayah mana mengerti membuat video seperti itu. Coba lihat, gerakannya aneh begitu? Itu namanya apa coba?"


"Ini namanya tari burung gagak, Ayah!"


"Ya ampun burung gagak." Wira menepuk dahinya, sementara Surya mengulum bibir menahan tawa. Akan tetapi ia berpura-pura tak mendengar apapun.


Rasanya Wira ingin membenamkan tubuhnya di dalam tanah saja, agar terhindar dari permintaan tak masuk akal itu. Ia menatap sekeliling, mencoba mencari tumbal lain. "Sayang, Ayah tidak bisa membuat yang seperti itu."


"Tapi Chella sama Om Marchel bisa, kenapa Ayah tidak bisa?" Mata Lyla sudah mulai berkaca-kaca. "Lyla kan juga mau punya video kayak Chella."


Wira menghela napas panjang, berusaha membujuk gadis kecilnya. "Jangan sama Ayah, Nak. Sama yang lain saja. Kan di rumah ini banyak orang."


Tak terima, Lyla terlihat sedih dan kecewa sebab Wira terus menolak untuk membuat video itu.


"Huwaaa Opa ayah jahatt!" Teriak Lyla, membuat semua tatapan sinis tertuju pada Wira.


"Wiraaa!!!" Terdengar suara berat Tuan Gunawan memanggil. Jika sudah seperti itu, Wira tak punya pilihan lain lagi.


Kenapa harus selalu aku yang menjadi tumbal? gerutu Wira dalam hati.


🌵🌵🌵🌵


Edisi gabut, Gak tau mau nulis apa. Jadi maapin kalau bab ini berantakan dan garing banget🤦🤦🤦

__ADS_1


__ADS_2