
"Bagaimana kau tahu?" tanya Wira sembari menarik kursi dan duduk di sana dengan santainya.
Willy terkekeh, "Senyummu itu menyebalkan. Seperti habis menang piala Oscar saja."
"Wil, apa boleh aku minta tolong?" ucap Wira menatap serius sahabatnya itu. Willy memicingkan mata, jika Wira sudah berkata ingin minta tolong, sudah pasti itu sesuatu yang sulit.
"Aku tidak mau!" Willy menyahut dengan cepat, membuat Wira memelototkan matanya.
"Aku kan belum bilang."
"Aku sudah tau apa tujuanmu kemari."
Mendengar ucapan Willy, Wira hanya mampu tersenyum pelik, lalu menunjukkan wajah memelasnya. "Ayolah, Wil. Tolong aku! Kau tidak mau kan, aku jadi duda untuk yang ke dua kalinya."
Entah mengapa ucapan Wira yang hendak meminta tolong membuat Willy merasa dikelitik. Ia tertawa terbahak-bahak di ruangan itu hingga sakit perut.
"Jadi kau sedang cemburu, ya?" tanyanya, lalu tertawa lagi setelahnya. Karena tak kunjung berhenti tertawa, Wira akhirnya melayangkan kotak tissue ke tubuh Willy.
"Kau bisa kan, memindahkan Dokter Evan ke bagian lain? Jangan di bagian Maternal atau apalah namanya yang berhubungan dengan wanita hamil."
"Aku harus memindahkannya kemana? Dia kan memang calon Dokter Obgyn."
"Terserah!" ucap Wira menekan. "Yang penting pindahkan saja..Aku tidak mau dia terus dekat-dekat dengan Via."
"Begitu begitu saja kau sudah kebakaran. Sekarang kau tahu kan, rasanya cemburu seperti apa ..." Dokter Willy tertawa lantang. "Makanya kalau punya istri itu diperhatikan. Kau tidak pedulian, tapi saat melihat laki-laki lain memperhatikannya kau marah. Kau baru sadar kan, seistimewa apa seorang Via."
Rasanya udara dalam ruangan dokter itu seakan tak cukup untuk Wira bernapas. Ia melirik Willy dengan kesal, lalu berkata, "Aku sudah memperhatikannya mulai hari ini!"
"Baru juga perhatian kecil sudah bangga. Suami di luar sana membahagiakan istrinya dengan menuruti semua keinginannya juga biasa saja."
Dan, ucapan Willy membuat Wira akhirnya bungkam. Ia sadar, selama beberapa bulan menikah belum pernah melakukan sesuatu untuk Via.
__ADS_1
Setelah pembicaraan singkat penuh sindiran itu, Wira memilih keluar dari ruangan Willy. Tinggallah sang dokter seorang diri di dalam ruangan dengan tawa yang tertahan.
"Aku kan sengaja menugaskan Evan di ruangan Via biar kau cemburu. Aku juga yang menyuruh Elsa minta tolong Evan untuk membawakan Via kebab Turki. Haha sepertinya berhasil," gumam Dokter itu.
******
_
_
_
_
_
_
_
"Bunda..." panggilnya dengan senyum merekah.
"Jangan lari-lari, Sayang. Nanti Lyla jatuh." Via kemudian memeluk gadis kecil kesayangannya itu dan menggendongnya. Ia kecup wajahnya dengan sayang. Lalu setelahnya menyalami kedua mertuanya dan mengobrol sebentar.
"Anak bunda tidak cengeng kan?" tanya nya pada Lyla sambil membelai rambut dan wajah.
"Tidak, Bunda. Lyla kan anak baik."
"Wah, pintarnya anak bunda. Makanya bunda sayang Lyla." Ia kembali memeluk.
Wira yang baru saja masuk ke rumah membulatkan matanya saat mendapati Via sedang menggendong Lyla. Buru-buru, ia mendekat.
__ADS_1
"Via, turunkan Lyla. Kau tidak boleh mengangkat beban berat dulu," seru Wira.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja."
"Tapi Lyla berat. Lyla sama ayah saja, ya?" tawarnya sambil menarik pelan lengan anaknya.
Lyla melingkarkan tangannya pada tubuh Via semakin erat. "Tidak mau! Lyla mau sama bunda, Ayah."
"Sayang, bundanya masih sakit. Kan ada adik bayi di perut bunda. Jadi bunda belum boleh gendong Lyla dulu."
Mendengar Ucapan ayahnya membuat bola mata gadis kecil itu telah berkaca-kaca. Sebab belum lepas rasa rindunya pada sang bunda, ayahnya sudah melarang digendong.
"Mas, aku tidak apa-apa." Menyadari raut wajah sedih Lyla, Via segera mengulurkan tangannya, tak ingin jika Lyla sampai merasa tersisih karena akan memiliki seorang adik. "Sini, Nak, sama bunda saja, ya ... tadi ayah cuma bercanda, kok."
Ia meraih lagi tubuh kecil Lyla dan membawanya untuk duduk di sebuah sofa panjang. Lyla pun tak pernah melepaskan melepas pelukannya dari sang bunda.
"Via, istirahatlah, Nak. Biar ibu saja yang menemani Lyla. Kau butuh istirahat banyak."
"Tidak, Bu. Aku masih mau bersama Lyla," sahut Via sambil mengusap-usap punggung anak gadisnya itu.
Hingga beberapa menit berlalu, Via melirik ke sudut ruangan dimana ada sebuah freezer berukuran besar yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Ia melirik ibu mertuanya yang sedang membicarakan sesuatu dengan Wira.
"Bu, kenapa ada freezer besar di sana?" tanyanya sambil menunjuk ke sudut ruangan.
"Oh, itu es krim yang dikirim langsung dari Singapura ... Ayah yang memesannya secara khusus. Katanya itu untukmu."
Via menganga tak percaya mendengar jawaban santai ibu mertuanya. Hanya demi memenuhi ngidam tertunda itu, ayah mertuanya sampai memesan es krim dari Singapura.
"Maaf, Bu... Sepertinya aku membuat ayah repot."
"Repot apanya, tidak sama sekali," sahut ibu tersenyum tipis, lalu melirik Wira dengan ekor matanya, seakan memberi tatapan mengancam. "Via, lain kali kalau menginginkan sesuatu, beritahu ibu atau ayah saja. Jangan beritahu suami durjanamu ini," sindirnya membuat Wira terdiam.
__ADS_1
*****