
6 bulan kemudian ....
Malam tak selamanya membawa kegelapan yang mencekam. Kehadiran ribuan bintang yang bertabur di gelapnya langit adalah janji semesta, bahwa di antara kegelapan, akan datang cahaya yang menerangi. Begitu pun dengan bintang yang membutuhkan kegelapan agar sinarnya dapat terlihat.
Malam itu ...
Alviana Andini, seorang wanita muda yang telah melawati lika-liku kehidupan, sedang berdiri di sebuah perbukitan yang cukup indah. Pandangannya berkeliling menatap tempat yang baginya sangat indah. Di bawah sana, pemandangan kota terlihat jelas, dengan lampu-lampu yang terang benderang. Langit pun tampak indah dengan ribuan bintang yang berkerlap-kerlip.
Via memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam, meresapi hembusan udara malam yang sejuk. Rasanya sangat tentram dan damai.
Tak lama berselang, sesosok tangan tiba-tiba melingkar di perutnya. Senyum yang tadinya tipis pun mengembang. Tangan Via terulur membelai wajah sosok lelaki yang kini memeluknya erat.
"Selamat malam, Sayang ... Sudah lama, ya?" bisik Wira dengan mesra.
"Tidak begitu lama," jawabnya. "kita mau apa di sini, Mas?"
"Surprise!" seru Wira, lalu mendaratkan sebuah kecupan sayang di pipi kanan sang istri. Ia membalikkan tubuh Via hingga kini berhadapan dengannya. "Ini kan pertama kalinya kita berkencan setelah menikah. Memang aku tidak boleh romantis?"
"Kan tidak biasanya seperti ini. Mas Wira kan tidak suka jalan-jalan keluar rumah. Selama ini kita hanya menghabiskan waktu berdua di kamar saat ada waktu luang."
Laki-laki itu tersenyum tipis, lalu menarik sang istri ke dalam pelukannya. Ia kecup kening dengan penuh cinta, lalu menatap dalam-dalam matanya. "Tapi sekarang aku ingin suasana berbeda. Setelah semua hal berat yang kita lalui, kita butuh waktu lebih banyak berdua."
Via kemudian menyandarkan kepala di dada suaminya itu. Meresapi hangatnya kebersamaan mereka. "Dimana pun itu, aku akan selalu merasa bahagia, Mas. Bukankah, tempat paling indah bagi seorang istri itu adalah di pelukan suaminya?"
"Hu-um. Itu benar. Tapi tempat paling indah bagi para suami adalah di antara kedua ..." Wira tidak melanjutkan ucapannya, setelah Via mendongakkan kepala menatap tajam suaminya itu.
"Mesum lagi kan?" ucap Via dengan bibir mengerucut.
"Ampun, Sayang... Aku kan hanya bercanda. Ayolah, santai sedikit. Belakangan ini aku merasa kau sangat galak."
"Bukan aku yang galak, Mas Wira yang senang membuat ulah."
"Baiklah, ampuni aku. Jangan rusak malam romantis ini." Wira menarik pergelangan tangan Via, dan membawanya ke sebuah kursi kayu yang terdapat di puncak perbukitan itu. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?"
"Aku ada kejutan untukmu. Beberapa menit lagi." Ia kembali melirik arah jarum jam, kemudian menatap ke bawah sana. Hingga dirasa sudah waktu yang tepat. "Sekarang tutup mulutmu!"
"Mulutku?" Via menunjuk mulutnya sendiri.
"Bukan, maksudku, matamu Sayang. Ayo tutup matanya dulu."
"Kenapa aku harus tutup mata?"
Wira menghela napas mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang terus dilontarkan oleh sang istri. "Ayolah, kau pasti akan suka."
Walau pun merasa ragu, akhirnya Via memilih percaya saja dengan mulut manis suaminya itu. Baginya Wira sangat aneh, terkadang bermaksud memberi kejutan romantis, malah berakhir menyebalkan, sebab Wira bukanlah sosok suami bucin dan romantis seperti kebanyakan di novel-novel.
Hingga beberapa saat kemudian ...
"Sekarang buka matanya," ucap Wira.
"Suka?" tanya Wira menatap sang istri.
Via belum dapat berkata-kata, selain menikmati kekagumannya pada kejutan indah dari suaminya itu.
"Bagaimana Mas Wira melakukannya?" ucapnya tanpa melepas pandangan dari indahnya langit malam itu.
"Ada saja. Aku kan suami romantis."
Tak ingin kehilangan saat-saat romantis itu, Wira menarik sang istri, dan memberi ciuman mesra. Menyadari mereka sedang berada di tempat terbuka, Via segera mendorong dada suaminya itu agar menjauh darinya.
"Mas, ini tempat terbuka. Kalau ada yang lihat, aku kan malu."
"Ya ampun, Sayang. Coba lihat sekeliling, di sini tidak ada orang lain. Hanya kita berdua."
"Tetap saja. Aku tidak mau ada yang melihat kita."
__ADS_1
Wira kembali menggeser posisi duduknya sehingga kini menempel di tubuh Via. "Baiklah, kalau tidak mau di tempat terbuka. Aku sudah menyiapkan sebuah kamar yang indah di sebuah villa. Malam ini kita akan menginap di sana. Bagaimana?"
"Menginap?" tanya Via diiringi anggukan oleh Wira. "Gael bagaimana?"
"Kan ada ibu. Ada beberapa pengasuhnya. Dia tidak akan kenapa-kenapa ditinggal bundanya semalam saja. Ayolah, Sayang. Aku sedang berencana untuk punya banyak anak."
Sekali lagi, Wira mencoba merayu, namun Via tetap menggeleng. Ia tak ingin terpisah dengan anaknya walau semalam saja. "Kita bisa melakukannya di rumah seperti malam-malam sebelumnya."
Wira menghela napas frustrasi. "Sekali-sekali menginap di luar kan tidak apa-apa. Masa iya, kejutanku harus berakhir sia-sia. Aku sudah lama menantikan malam ini."
"Tapi kan besok pagi aku harus menyiapkan ..."
"Aku tahu itu!" Wira buru-buru menyela. "Kita akan kembali pagi-pagi sekali. Mau ya ... Mau kan, kau tega sekali ya..." ucapnya memohon dengan wajah sememelas mungkin.
Tak tega menolak permintaan suaminya, Via akhirnya mengangguk tanda setuju. "Baiklah ... Tapi janji kita akan pulang pagi-pagi sekali. Aku tidak mau terlambat."
"Iya, Sayang ... Tapi malam ini yang hot ya ..." pintanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Via tersenyum sipu, lalu kembali menyandarkan kepala di dada sang suami, sambil menikmati indahnya malam bertabur kembang api itu.
"Mas, siapa yang menyalakan kembang api sebanyak ini?" tanya Via.
"Sudah, jangan pikirkan. Yang penting kau suka kejutannya, kan?"
"Suka, Mas."
Dan, di balik keromantisan Via dan Wira, ada tiga lelaki yang sejak tadi sedang bekerja keras. Di bawah sana mereka menyalakan ratusan kembang api sambil menggerutu kesal. Dokter Willy, Dokter Marchel dan Surya sepertinya cukup kesal dengan permintaan mendadak Wira.
"Bagus ... dia yang menikmati bulan madu bersama istrinya, kita yang repot," ujar Dokter Willy sembari berdecak kesal.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Haloo semuaaaaa.....
__ADS_1