Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Via Istriku, Dia Milikku!!


__ADS_3

Selepas menidurkan Lyla, Wira kembali ke kamar. Via baru saja selesai mandi dan masih terbalut jubah mandi berwarna putih. Menyadari raut wajah sang suami yang nampak lain dari biasanya, membuat Via tak berani berkata-kata. Ia masih belum dapat melupakan sikap dingin Wira dulu saat hubungan mereka belum membaik. Via sampai takut membayangkan jika Wira kembali seperti dulu.


"Aku mau mandi dulu," ucap Wira dingin tanpa menatap sang istri. Via hanya menatap punggung tegak suaminya itu, namun tak ada kata yang terucap.


Sekarang aku yakin pasti ada masalah. Sejak menemukan Lyla, Mas Wira tidak pernah sedingin ini padaku. Apa Mbak Shera berhasil merayu Mas Wira? dalam batin Via.


Wanita itu pun segera berganti pakaian dan mengeluarkan setelan piyama untuk Wira. Dengan pikiran berkecamuk, ia duduk di meja rias, menyisir rambut panjangnya yang tergerai indah. Ia menatap dalam pantulan dirinya di cermin.


Aku memang tidak secantik dan sesempurna Mbak Shera. Aku hanya wanita biasa. Dan posisiku di hati Mas Wira hanya sebagai ibu pengganti untuk Lyla. Kenapa membayangkan itu saja rasanya sakit? Apa aku cemburu melihat Mas Wira masuk berdua dengan Mbak Shera ke dalam ruangan dokter? dalam batin Via.


Kini kedua bola matanya telah dipenuhi cairan bening, membayangkan apa yang dilakukan Wira dan Shera di dalam ruangan itu. Saling memberi semangat kah? Saling menggenggam tangan kah? Atau mereka masing-masing teringat pada masa lalu yang indah. Memikirkan semua itu membuat Via merasa terbakar.


Tak berselang lama, Wira keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang. Tatapannya langsung tertuju pada Via yang duduk di hadapan sebuah cermin. Wanita itu tampak telah berganti pakaian. Wira menatap Via dari ujung kaki ke ujung kepala. Tiba-tiba ucapan Willy kembali terngiang di benaknya.


Dia itu bukan sembarang anak magang. Dia seorang calon dokter sekaligus pengusaha cafe yang kaya raya.


Sedangkan kau siapa? Walaupun kau anak tunggal dari Tuan Gunawan yang kaya raya, tapi kau sendiri hanyalah karyawan biasa di perusahaan Ivan.

__ADS_1


Mereka lumayan dekat, aku sering melihat mereka menjaga Lyla bersama...


Lihat betapa dekatnya mereka ...


Ucapan Willy terus terngiang membuat Wira menghela napas panjang, dengan gurat kekesalan yang terlihat jelas. Hasutan dua dokter tak berakhlak itu membuat Wira merasa sedang berdiri di permukaan matahari. Rasanya benar-benar panas.


Ia kembali melirik Via yang sedang melamun menatap pantulan dirinya di cermin.


Via .... Wajah polosnya yang cantik alami, kulitnya yang halus, rambut panjangnya yang tergerai indah, sikap lemah lembutnya, kasih sayang dan ketulusannya. Dengan segala kesempurnaan itu, laki-laki mana yang tidak menginginkan Via. Aldi saja sampai rela kehilangan proyek besar hanya untuk Via. Dan Evan adalah ... Tiddakkkk!! Via istriku, dia milikku!! gerutu Wira dalam batin.


Tersadar dari lamunan, Wira memejamkan mata. Ia melangkahkan kakinya mendekat pada Via.


"Ini piyamanya, Mas," ucapnya sembari menyodorkan setelan piyama pada Wira.


Wira meraih pakaian yang diberikan Via, namun melemparkannya ke sembarang arah. Tatapannya kini tak dapat diartikan oleh Via.


"Ma-mas kenapa?" tanya Via. Dalam hati menduga suaminya sedang marah besar. Perlahan kakinya mundur ke belakang, seiring dengan langkah kaki Wira yang terus maju.

__ADS_1


"Aku? Memang aku kenapa?" Wira balik bertanya. Sorot matanya yang tajam membuat Via merinding. Ia ingat betul sorot mata itu sama seperti saat Wira mabuk dan akhirnya memaksa merenggut kesuciannya.


Punggung Via telah menempel dengan dinding, sementara Wira tepat berada di hadapannya. Wanita muda itu memberanikan diri mendongakkan kepala, menatap mata sang suami.


Tangan Wira terulur dan melingkar di pinggang Via. Ia menariknya lembut, sehingga kini tubuh Via menempel dengan tubuhnya. Dalam keadaan masih bingung, Via mencoba melepaskan diri dengan mendorong dada Wira, namun semakin erat tangan Wira melingkar di pinggangnya.


"Ma- Mas ..."


"Apa mas mas? Diam!" ucapnya lembut namun terdengar menakutkan bagi Via.


Dan, tanpa banyak bicara lagi, Wira mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya dengan bibir Via. Bukan dengan ciuman lembut, tapi dengan sedikit memaksa dan menuntut balasan. Sebuah ciuman yang seakan ingin menjelaskan bahwa dirinya lah pemilik tubuh yang kini berada dalam dekapannya. Via masih mencoba melepaskan diri, namun Wira tak memberinya celah. Ia mengunci tubuh Via dan menahan tengkuknya sehingga wanita itu tak dapat bergerak sama sekali.


******


like


komen

__ADS_1


Thengkyuh


__ADS_2