Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Tidak Boleh Kehilangan Harapan


__ADS_3

Teriakan Via yang menggema membuat Wira dan ibu begitu terkejut. Mereka saling melirik dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa dengan Via?" tanya ibu. Belum sempat Wira menyahut, sudah terdengar kembali teriakan selanjutnya.


"Mas Wira ... Lyla ...!"


Seketika tubuh Wira terasa meremang mendengar tangisan istrinya itu. Terlebih, ia menangis sambil meneriakkan nama Lyla. Sontak, laki-laki itu segera memindahkan Gael yang berada di pangkuannya ke sofa dan berlari menuju lantai atas dengan tergesa-gesa.


Begitu pun dengan ibu yang sama terkejutnya. Ia memanggil seorang pengasuh Gael, dan meminta menjaga bayi kecil itu. Kemudian dengan segera, ibu pun menyusul Wira ke kamar Lyla.


Setibanya di sana, Wira dikejutkan dengan Via yang menangis sambil memeluk Lyla. Air matanya pun jatuh tak terasa, saat mendapati darah keluar dari lubang hidung gadis kecil itu, walaupun tak begitu banyak. Namun wajah pucat pasi Lyla sudah membuatnya lemas. Begitu pun dengan ibu yang juga histeris.sesaat setelah memasuki kamar itu.


Wira segera mendekat, dan meraih tubuh Lyla. Ia peluk erat putri kecilnya itu. Merasakan suhu tubuh Lyla yang tak biasa, kekhawatirannya kian bertambah. Dengan berlinang air mata, ia menepuk pelan wajah anaknya itu, sambil memanggil namanya dengan lembut.


"Lyla Sayang ... Lyla bisa dengar ayah?"


Tak ada respon sedikit pun dari Lyla, membuat Wira kembali memeluknya.


"Ada apa dengan Lyla?" tanyanya sambil mengecup ubun-ubun putrinya itu.


Via mengusap air matanya, "Aku tidak tahu, Mas," Via mencoba menahan tangisnya. "Begitu aku kemari Lyla sudah seperti ini. Mas, ayo cepat bawa Lyla ke rumah sakit!" lirih Via.


Wira yang masih membeku karena terkejut, segera tersadar dari ketakutannya. Ia berdiri, dan dengan setengah berlari, segera beranjak keluar kamar sambil menggendong Lyla. Begitu pun dengan ibu dan Via yang mengekor di belakangnya.


"Bu, aku dan Via yang akan membawa Lyla ke rumah sakit. Ibu tetap di sini bersama Gael," ucap Wira sebelum naik ke sebuah mobil, dimana seorang sopir telah siap mengantarkan mereka.


"Baiklah, hati-hati. Wira, Via, jangan panik, Nak. Tenanglah." Dua orang itu mengangguk, lalu segera naik ke mobil.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵


_


_


_

__ADS_1


_


_


_


_


Langit mendung sore itu seolah mewakili suasana hati sebuah keluarga. Perlahan tetesan air hujan mulai membasahi bumi.


Via duduk di sebuah kursi di depan sebuah ruangan berpintu kaca, dengan sisa air mata yang terlihat di ujung mata. Tatapannya kosong, tak ada suara, tak ada Isak tangis. Yang ada hanya irama jantung yang berdetak lebih cepat. Begitu pun dengan Shera yang duduk di sisinya sambil menahan tangis. Ia genggam erat tangan Via yang sejak tadi gemetar menunggu putri kesayangan mereka.


Sementara Wira sejak tadi berjalan kesana-kemari dengan raut kecemasan yang terlihat jelas. Di dalam ruangan itu para dokter sedang menangani Lyla.


Hingga satu jam kemudian, seorang dokter anak yang selama ini menangani Lyla tampak keluar dari ruangan itu. Wira pun segera mendekat pada wanita itu.


"Dokter Irene, bagaimana anakku?" tanya Wira.


Sang dokter membuka masker yang menutupi hidung, lalu menghela napas panjang. Ia melirik Via setelahnya. Wanita itu pun terlihat meragu, seolah tak tega menjelaskan kondisi Lyla.


Wira menyahut dengan anggukan, sementara Via melirik Shera. Ibu kandung Lyla itu pun mengangguk pelan. "Kau saja yang ke sana bersama Wira. Aku akan menunggu di sini saja," ucap Shera menepuk punggung tangan Via.


Seolah berusaha menguatkan hatinya, Via menarik napas dalam, lalu berdiri menghampiri Wira. Dengan saling merangkul, mereka mengikuti langkah dokter yang sudah berjalan lebih dulu.


Sementara Shera masih membeku. Tangisnya pun pecah, sehingga Surya segera menyandarkannya di bahunya.


"Mas, apakah ini hukuman untukku karena perbuatanku di masa lalu?"


"Jangan bicara begitu. Percayalah Lyla akan baik-baik saja."


"Aku tahu aku salah karena pernah membuangnya. Aku bukan ibu yang baik. Tapi kenapa bukan aku saja yang dihukum? Kenapa aku dihukum melalui Lyla?"


Surya melingkarkan tangannya ke tubuh istrinya itu. "Tuhan tidak pernah menghukum manusia, Shera, melainkan hanya mengingatkan. Kau sudah menyadari perbuatan mu salah. Dan itu sudah cukup. Apa yang terjadi sekarang, adalah bagian dari takdir."


Tangis Shera kembali terdengar memecah kesunyian, membawanya pada penyesalan yang tak berkesudahan.

__ADS_1


🌵🌵🌵🌵🌵🌵


"Aku minta maaf kepada kalian. Kondisi Alyra saat ini tidak begitu baik. Trombositnya sangat menurun di bawah lima puluh ribu. Dan kondisi ini cukup mengkhawatirkan," jelasnya sambil membaca sebuah map berisi rekam medis milik Lyla.


Mendengar penjelasan dokter, Via memejamkan mata. Rasanya tak sanggup lagi untuk mendengar lebih jauh. Kini ia hanya dapat berharap akan ada mukjizat seperti saat sebelumnya, dimana Lyla mampu melewati masa-masa sulit.


"Lakukan apapun untuk anakku, Dokter," pinta Wira.


Dokter Irene pun mengangguk pelan. "Tentu saja. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk Alyra. Untuk sekarang ini, harus secepatnya dilakukan transfusi darah. Kami juga sudah menghubungi bank darah untuk menyiapkan beberapa kantong darah. Jika diperlukan anggota keluarga bisa bersiap-siap untuk menjadi pendonor jika diperlukan."


"Baik, Dokter."


Via memberanikan diri mengangkat kepala, menatap dokter itu. "Dokter, anakku sudah pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya. Kali ini dia akan baik-baik saja, kan? Seperti sebelumnya."


Dokter Irene hanya tersenyum. Ia ingat Lyla memang pernah beberapa kali mengalami penurunan kesehatan, namun tak separah sekarang hingga trombosit menurun dan kehilangan kesadaran.


"Tetaplah berdoa. Kita tidak boleh kehilangan harapan."


Baik Wira maupun Via tak sanggup lagi berucap. Pasrah, mungkin itu yang terbaik. Mengenai kesehatan Lyla, mereka percayakan sepenuhnya pada tim dokter.


Selepas pembicaraan dengan dokter, Wira dan Via menuju tempat dimana Shera dan Surya menunggu. Lyla baru saja dipindahkan ke sebuah ruangan. Tampak Shera sedang menangis bersandar di bahu suaminya. Namun, wanita itu segera mengusap air mata nya saat melihat kedatangan Via dan Wira.


Tanpa sepatah kata pun, Via berjalan menuju jendela kaca, dan menatap ke dalam sana. Melihat Lyla terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis yang melekat di tubuhnya bagaikan sayatan bagi Via. Ia kemudian teringat sebuah kisah yang mengajarkannya untuk bersabar.


Dikisahkan bahwa Nabi Ayub adalah hamba yang memiliki kesabaran yang dipuji Allah. Dengan segala ujian hidup yang tidak mudah, Ia tetap bersabar. Kehilangan seluruh harta dan kedua belas anaknya tidak menyurutkan kesabaran dan keikhlasannya menerima apa yang ditakdirkan untuknya. Tapi, mengapa aku begitu rapuh? Saat aku menyadari bahwa Lyla hanyalah titipan, mengapa hatiku tidak ikhlas untuk melepasnya. Lalu, apakah aku masih layak untuk meminta?


*****


...Like...


...^^^ Komen ^^^...


...Banyakin...


...up lagi...

__ADS_1


...Di Share juga biar makin banyak yang baca 😌🤭...


__ADS_2