
"Maksudmu membuang 300juta sel anak itu apa?" Sekali lagi Wira bertanya dengan raut wajah over bodoh yang membuat Marchel dan Surya geleng-geleng kepala.
"Sebenarnya kau ini pernah belajar biologi tidak?" Marchel bertanya dengan kesal.
Wira memutar bola mata pertanda sedang memikirkan sesuatu. Ia menerawang ke masa sekolah dan kuliah, mencoba mengingat pelajaran biologi yang pernah hinggap di otaknya. Namun walaupun otaknya sudah lelah ber-traveling, tetap saja tidak menemukan benang merahnya. Dalam benaknya bertanya, apa benar di pelajaran biologi ada yang seperti itu?
Willy juga pernah menjelaskan padaku tentang seorang wanita yang akan bersalin yang mengalami bukaan satu sampai sepuluh. Dan sampai sekarang aku tidak tahu bukaan apa yang dia maksud. Apanya yang terbuka? Dan sekarang Marchel menjelaskan lagi tentang membuang anak di kamar mandi? Apa semua dokter segila mereka? gerutu Wira dalam hati.
Ia kemudian membalas lirikan menyebalkan dari Marchel, seolah tidak ingin dicap sebagai pria bodoh.
"Sembarangan ... Tentu saja aku pernah belajar biologi," jawabnya begitu percaya diri. "Tapi aku tidak pernah mempelajari cara membuang 300juta sel anak di kamar mandi seperti yang kalian jelaskan."
Dan, jawaban menyebalkan Wira berhasil membuat Surya tertawa terbahak-bahak. Sejenak melupakan Shera yang tengah berjuang di dalam sana. Entah dengan cara apa mereka dapat menjelaskan agar Wira mengerti. Sepertinya makhluk menyebalkan satu itu memang belum pernah melakukannya.
"Coba kau tanya pada Marchel. Sepertinya dia cukup berpengalaman. Sampai rela main tik tok dengan anaknya, hanya agar tidak digantung di kamar mandi," ucap Surya lalu kembali tertawa setelahnya.
"Untuk apa bertanya padanya?" Wira menyahut dengan kesal. "Bertanya padanya atau pun Willy sama saja dengan menyesatkan." Dengan gaya sombong bin angkuh, ia meraih ponsel dari saku jaketnya. "Be smarter than your smartphone!" (Jadilah lebih pintar dari ponsel pintarmu) ucapnya dalam bahasa Inggris agar meyakinkan bahwa dirinya tidak sebodoh itu.
Surya mengeryitkan dahi mendengar ucapan Wira, lalu memberi kode pada Marchel.
"Kalau kau punya ponsel pintar, tanya saja pada google," lanjut Wira. "Tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh google."
"Baiklah, silahkan!" ujar Marchel. Ia ingin menertawakan kebodohan Wira. Bahkan untuk hal seperti itu, ia sampai harus bertanya pada google.
Dengan tidak tahu malunya, Wira mengetikkan kata kunci 'membuang 300juta sel' lalu menekan simbol telusuri.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, pencarian berhasil, tampak sebuah penjelasan diikuti beberapa gambar di sana. Kerutan di alis Wira semakin mendalam. Bukannya menemukan jawaban, ia malah semakin bingung.
"Kenapa adanya gambar kecebong semua?" tanya Wira menatap layar ponselnya.
"Be smarter than your smartphone!" jawab Marchel dan Surya bersamaan sambil tertawa lantang.
"Diam saja kalian! Ini kata kuncinya pasti salah." Wira menatap curiga pada Marchel dan Surya. "Kalian mau menipuku ya?"
Marchel menghela napas panjang, menjelaskan sesuatu pada Wira adalah sebuah pekerjaan berat. Ya, dalam keadaan bahagia, kinerja otaknya kadang tidak berfungsi dengan baik.
Baru saja Marchel membuka mulut ingin menjelaskan lebih jauh, pintu kaca itu sudah terbuka, bersamaan dengan suara tangisan bayi yang memecah keheningan. Dokter Willy keluar dari ruangan itu dengan senyum bahagia.
Surya bangkit dari duduknya, matanya menyapu ke dalam ruangan itu, namun terhalang oleh sebuah tirai besar.
"Bagaimana dengan Shera? Dan anakku?" tanya nya dengan raut wajah tegang.
Surya menghela napas panjang. Setelah sebelumnya harap-harap cemas selama beberapa jam, akhirnya ia dapat bernapas lega. "Syukurlah, terima kasih, Wil. Kapan aku bisa melihat mereka?"
"Sebentar lagi."
Surya pun mendapat pelukan dan ucapan selamat dari Marchel dan juga Wira. Menjadi seorang ayah untuk pertama kali memang luar biasa bahagia. Itulah yang dirasakan Surya.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
_
__ADS_1
_
_
_
_
Setelah memastikan segalanya baik-baik saja, Wira akhirnya pulang ke rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika ia baru tiba. Kini harapannya hanya satu, bahwa Lyla sudah tidur. Namun pikirannya masih terbayang oleh pembicaraan bersama Marchel. Setelah mengamati gambar dan membaca penjelasan google, akhirnya ia mengerti, membuat nya merasa malu di hadapan dua teman durjana nya itu.
Apa-apaan mereka. Kenapa juga pekerjaan seperti itu harus mereka sebut dengan istilah bersolo karier atau membuang 300juta sel di kamar mandi. Aku mana mengerti istilah bodoh seperti itu.
Wira menggerutu sambil menjejaki anak tangga satu persatu, dengan tatapannya yang menyapu setiap bagian rumah itu.
Aman! Lyla tidak terlihat. Artinya gadis kecil itu sudah tertidur di kamarnya. Sebab jika tidak, ia mungkin akan meminta sang ayah membuat video tik tok bersama.
Baru saja Wira memutar gagang pintu kamar, sudah terdengar suara memanggil.
"Ayah!"
****
Maap gak lucu.
Happy reading
__ADS_1
Like
Komen banyakin