
Pagi ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh si malaikat kecil Lyla. Dengan balutan gaun indah berwarna kuning berpadu biru, ia begitu bersemangat memulai harinya. Ini adalah pertunjukan pertamanya di sekolah, yang ingin ia persembangkan untuk sang bunda.
“Ayah.” Lyla berlari kecil menuju sebuah mobil dimana ayahnya berada. Wira baru saja tiba setelah mengurus beberapa pekerjaan penting di kantor. Ia merentangkan tangan, menyambut putrinya itu dan memeluknya. “Maaf, ya … Ayah terlambat.” Ia melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas pagi. “Acaranya sudah mulai, ya?”
“Belum, Ayah … Lyla lagi siap- siap sama Bunda,” jawabnya. “Opa sama oma juga ada di dalam.”
“Ya sudah, ayo kita masuk!” Wira mengecup wajah gadis Lyla dengan gemas, lalu menggendongnya memasuki gedung tempat berlangsungnya opera hari itu.
Sepanjang jalan Lyla terus berceloteh ria, menceritakan ada apa saja di dalam sana. Ia juga bercerita tentang Chella yang punya video tik tok baru dengan ayah ibunya. “Ayah, nanti Lyla mau main tik tok sama ayah, ya?” bisik Lyla di telinga sang ayah.
Tak ingin membuat anaknya kecewa sebelum tampil, Wira terpaksa mengiyakan permintaan itu. “Boleh, Sayang. Tapi hari ini tampil di opera harus bagus, ya?”
“Ahhsiaappp!!!” ucap Lyla penuh semangat.
“Ya ampun … Lyla dengar dari mana kata ahsiaaap itu?” tanya Wira heran, sebab si kecil Lyla punya banyak istilah baru yang kadang membuat Wira bingung sendiri dalam mengartikannya.
“Lyla lihat di Youtube, Ayah. Masa Ayah tidak tahu. Cara bilangnya bengini, ahhsiaapp!” Lyla memberi contoh dengan mengikuti cara salah seorang youtuber yang terkenal dengan kata ahsiap.
Mendengar itu, Wira hanya dapat geleng-geleng kepala sendiri. “Dulu ayah, om Marchel sama Om Willy mainnya kelereng sama batu, Nak. Bukan youtube,” ujarnya. “Lyla tidak boleh kebanyakan nonton youtube, ya. Nanti matanya sakit.”
“Iya, Ayah.”
Suasana sudah sangat ramai, tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Di sudut sana ada Marchel, Surya dan lainnya, yang sudah duduk manis menunggu. Senyum jahil pun terbit di sudut bibir Wira, saat mengingat video yang ia tonton semalam. Betapa lucu dan menggemaskannya Marchel dan surya.
__ADS_1
Ia menurunkan Lyla dari gendongannya, sehingga gadis kecil itu segera menuju ke belakang panggung untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain. Sementara Wira melangkah menuju barisan kursi untuk para orang tua.
“Ehm …” Wira berdehem seraya menjatuhkan tubuhnya di kursi, membuat Surya dan Marchel menoleh padanya. “Kalian sudah lama?”
“Belum lama,” jawab Marchel. “Kau hampir terlambat. Untung saja operanya ditunda satu jam, kalau tidak, kau akan digantung anakmu.”
Wira terkekeh pelan, kemudian menatap satu-persatu beberapa orang yang hadir di sana. Untung saja kursi mereka cukup berjarak dengan kursi para istri yang duduk bersama di sudut lain. “Kau atau aku yang akan digantung.”
Marchel yang belum mengerti maksud ucapan Wira hanya melirik dengan ekor matanya. “Heh, kami sudah datang sejak sejam yang lalu. Memangnya kau, dasar jam karet …”
“Hehe … Setidaknya aku bukan ayah takut anak, atau suami takut istri seperti kalian yang rela menari gagak demi menyenangkan anak istri.”
Bagai petir menyambar di siang bolong. Surya dan Marchel begitu terkejut mendengar sindiran Wira. Kini mereka saling melirik dengan wajah merona merah, saat menduga Wira telah menonton video tik tok mereka. Terutama Surya yang semalam tetap dalam mode cool saat Lyla meminta membuat video sejenis itu. Rasanya ia ingin menyembunyikan wajahnya di dalam batu saja.
Awas saja kalau nanti Lyla berhasil membuatmu menari gagak. Aku pasti akan menertawakanmu habis-habisan. gerutu Marchel dalam hati.
Sementara Surya diam seribu bahasa. Sebab ia sempat berpura-pura tidak mengerti saat Lyla mendesak ingin bermain tik tok.
Tidak lama berselang ....
“Mas …” terdengar panggilan Via yang membuat tawa Wira terhenti. Sehingga Marchel dan Surya bernapas lega. Setidaknya Wira tidak akan semenyebalkan itu jika sedang bersama pawangnya.
“Kenapa, Sayang?” panggilan sayang yang diucapkan wira membuat Marchel dan Surya membuat mimic wajah seperti hendak muntah. Sebab Wira yang selama ini kaku telah berubah menjadi seorang suami romantis.
__ADS_1
“Opera akan dimulai. Ayo kita semua pindah ke kursi depan. Aku mau melihat Lyla dari jarak yang lebih dekat. Ayah, ibu, Sheila dan Mbak Shera juga duduk di depan.”
“Baiklah.”
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk pindah ke kursi depan, agar dapat melihat anak-anak dari jarak yang lebih dekat.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Dunia anak-anak memang penuh warna-warni. Dunia dimana mereka tidak mengenal kata benci atau pun marah. Mereka membangun surganya sendiri dengan cara yang unik.
Pertunjukan opera hari itu pun dimuali. Lyla, Chella, dan anak lain yang terlibat dalam pertunjukan itu tampil memukau dengan kostum masing-masing. Tepuk tangan meriah terdengar menggema diiringi tawa para tamu saat anak-anak tampil dengan menggemaskan.
Duduk di barisan para orang tua, senyum Bahagia tak pernah lepas dari wajah Via. Ia mengusap setitik air mata yang membasahi wajahnya. Jika melihat ke masa lalu dimana Lyla dengan semangat yang menyala berjuang melawan sakitnya. Kini gadis kecil itu dapat menjalani hidup layaknya anak-anak lain. Tampil dalam sebuah opera di sekolah dengan menggunakan kostum putri adalah satu dari ribuan harapan dan impiannya yang terwujud.
“Sayang, akhir-akhir ini aku merasa kau sangat cengeng.” Wira mengeratkan genggaman tangannya.
“Aku menangis bukan karena sedih. Aku sangat bahagia melihat Lyla hari ini. Rasanya Tuhan telah mengabulkan semua doaku. Lyla sembuh, dan sekarang aku punya Gael, ayah, ibu dan Mas, ” ucap Via penuh syukur. Rasanya semua perjuangannya terbayar sudah. Masuk ke dunia malam yang seakan mengotori nilai kesuciannya sebagai seorang gadis mungkin adalah sebuah kesalahan. Namun, dari kesalahan itulah ia belajar untuk tetap bersyukur dan ikhlas menjalani hidup.
Dengan seulas senyum, Wira mengecup punggung tangan sang istri. Ia merangkul Via dan menyandarkan di bahunya.
“Ya, kita harus banyak-banyak bersyukur. Kau benar, Tuhan menjodohkan kita dengan cara yang unik. Aku sempat membenci dunia setelah kehilangan Lyla. Aku bahkan menyalahkan takdir yang kurang bersahabat denganku. Tanpa kusadari bahwa semua itu adalah cara Tuhan untuk menyatukan kita. Kau menemukan Lyla, dan akhirnya dia menjadi jembatan yang mempertemukan kita.”
Ya, Tuhan selalu memberi apa yang manusia butuhkan dan selalu menjawab setiap doa. Hanya manusia lah yang terkadang kurang bersabar dalam menunggu proses perwujudan doa-nya.
__ADS_1