
Sebulan berlalu tanpa terasa ....
Pagi hari selalu diawali dengan sesuatu yang manis. Di dalam sebuah kamar, sepasang anak manusia masih betah terbaring di bawah selimut. Selepas menjalankan ibadah menjelang fajar, Via kembali tertidur pulas. Tak biasanya, sebab selama ini begitu terbangun, wanita itu akan segera menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk sang suami. Namun, beberapa hari belakangan rasa malas sedang menjadi teman sejatinya.
Wira yang telah terbangun sejak tadi masih betah dengan membelai buah kesukaannya, buah yang tidak berasal dari pohon🤭. Dilihatnya arah jarum jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Ia melirik Via yang masih terlelap dengan tangan melingkar di perutnya. Merapikan rambut yang menutupi wajah polos wanitanya itu, lalu menatap dengan penuh cinta. Ia beri kecupan-kecupan sayang di wajah itu. Seulas senyum tipis selalu hadir kala mendapati bibir yang akan mengerucut lucu, saat merasa terganggu dengan ulahnya.
"Selamat pagi, Sayang!" Wira kembali memberi kecupan bertubi-tubi setelahnya.
"Ehm ... Sudah pagi, ya?" Via menggeliat, merentangkan tangan ke samping. Perlahan ia membuka mata. Namun, cahaya mentari yang masuk melalui celah jendela seakan menusuk mata. Ia kembali menarik selimut tebal itu menutupi kepala, menghindari sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman.
Jika biasanya di pagi hari ia menyambut mentari dengan membuka tirai dan jendela, kini ia seakan tak nyaman dengan silaunya cahaya itu.
Wira melepaskan pelukannya. "Aku harus cepat ke kantor. Ini hari pertama aku kembali ke perusahaan ayah."
Via membuka mata mendengar ucapan sang suami. "Iya, Mas. Aku lupa, maaf." Menyibak selimut, bermaksud segera turun dari tempat tidur untuk menyiapkan keperluan sang suami, namun Wira menahannya.
"Tidak apa, Sayang ... Istirahat saja. Kau pasti lelah mengurus Lyla seharian, ditambah aku di malam hari."
"Kalau begitu aku siapkan pakaian Mas Wira saja, ya."
Sambil tersenyum Wira menggeleng, "Tidak usah, aku bisa. Kau sudah terlalu memanjakan ku dengan mengurus semua keperluanku. Kau juga butuh istirahat kan?"
Wira segera bangkit dari pembaringan, meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Via, masih dihinggapi rasa malasnya. Wanita itu pun dibuat heran, ada apa dengan dirinya yang beberapa hari ini merasa malas untuk melakukan apapun.
*****
_
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
"Bunda ..." terdengar panggilan manja yang berasal dari dalam sebuah kamar, ketika Via baru saja masuk dengan membawa segelas susu.
"Anak bunda lagi apa?" tanya nya sembari menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah karpet, dimana Lyla bersama boneka-bonekanya berada.
"Lagi main. Bunda, lihat! Ayah beliin Lyla boneka balu ini. Bagus kan, Bunda." Si kecil Lyla menunjukkan sebuah boneka barbie pemberian sang ayah semalam
Dengan senyum teduhnya, Via mengusap pucuk kepala, dan wajah gadis kecil itu. "Lyla Sayang ... Mau dengar bunda tidak?"
"Mau, Bunda," jawabnya sambil mengangguk. Dan seperti kebiasaannya selama ini, Via akan membawa Lyla ke pangkuannya saat menjelaskan sesuatu. Ia mengecup wajah gadis kecil itu sebelumnya.
"Hari ini, kita mau ke rumah sakit. Nanti Lyla akan ditemani bunda Shera juga. Lyla mau kan?"
Lyla yang masih begitu takut pada sosok ibu kandungnya itu pun merespon dengan mengerucutkan bibirnya. "Tidak mau, Bunda. Lyla takut sama tante itu."
"Sayang, Lyla tidak boleh takut lagi sama bunda Shera. Bunda Shera kan bundanya Lyla juga," ujar Via berusaha membujuk gadis kecilnya itu.
"Bukan. Bunda Lyla cuma satu. Tante itu bukan bundanya Lyla."
__ADS_1
Via kembali menunjukkan senyumnya. "Lyla ... Bunda Shera adalah bunda yang melahirkan Lyla ke dunia. Bunda Shera juga sayang Lyla. Ingat kan, bunda sering bilang apa sama Lyla. Surga itu ada di telapak kaki ibu. Jadi Lyla harus berbakti sama bunda Shera. Lyla mengerti kan sekarang."
Walaupun masih terlihat gurat ketakutan di wajahnya, namun Lyla menjawab dengan anggukan, pertanda setuju. Via pun kembali memeluk tubuh mungil Lyla.
****
Di sisi lain, Wira masih disibukkan dengan pekerjaannya yang padat. Akibat drama salah paham yang terjadi, ia memutuskan hengkang dari perusahaan keluarga. Kini ia kembali setelah beberapa bulan bekerja di perusahaan milik sahabatnya.
Tak lama, terdengar suara ponsel berdering tanda panggilan masuk. Ia segera meraih benda pipih yang berada di meja kerja. Tampak di layar pemanggil dengan nama Dokter Willy. Tanpa menunggu lagi, Wira segera menggeser simbol hijau agar terhubung dengan sahabatnya itu.
"Ada apa, Wil?" tanya Wira tanpa basa-basi.
"Aku mau memberitahu, hasil tes Shera sudah keluar."
Raut wajah Wira pun berubah senang. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan yang menyita waktu, hasil pencocokan sumsum tulang belakang antara Shera dan Lyla akhirnya keluar hari itu. Wira menghela napas panjang pertanda lega.
"Baiklah, aku akan minta izin ayah dan segera ke rumah sakit. Kebetulan hari ini Lyla ada jadwal kontrol dengan Dokter Irene."
"Baguslah, aku tunggu. Kalau bisa kau ajak Shera juga," pinta sang dokter.
"Baiklah."
*****
_
_
_Siapapun ibunya, aku pinjem foto anaknya ,Buk! buat dijadiin visual Kyla.
__ADS_1