Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Aku sedang Mencobanya


__ADS_3

Hari telah beranjak petang. Seperti biasa, Via akan menceritakan sebuah kisah pada Lyla sebelum tertidur. Gadis kecil itu sudah menguap beberapa kali, pertanda ia telah mengantuk, namun kedua matanya masih enggan terpejam.


"Bunda ..." panggilnya seraya menyandarkan kepala di dada sang bunda.


"Iya Sayang ..."


"Bunda jangan ketemu sama Om Wila lagi, ya... Nanti bunda dijahatin sama Om Wila," ucapnya sembari menyandarkan kepala di dada sang bunda.


Via tersenyum, kemudian mengecup kening gadis kecil itu. Ingin rasanya tertawa jika mengingat kejadian tadi. Wira yang mendadak menjadi sangat lembut sejak kembali dari Bali benar-benar berbeda dari Wira yang sebelumnya. Wanita itu kemudian membelai wajah Lyla Dengan penuh kelembutan.


"Lyla sayang, mau dengar bunda, kan?"


Lyla menyahut dengan anggukan pelan. "Mau bunda. Lyla kan anak baik."


"Pintarnya anak bunda ..." Ia mengecup lagi wajah menggemaskan itu. "Lyla ingat, bunda pernah cerita tentang kisah Nabi Yusuf?"


Sejenak, Lyla memutar bola matanya, pertanda sedang berpikir. Lalu kemudian menggeleng. Via selalu menceritakan sebuah kisah yang berbeda setiap malamnya, sehingga Lyla kecil kesulitan mengingat.


"Lupa, Bunda ..."


"Kalau begitu, coba Lyla ingat ..., bunda pernah cerita tentang Nabi Yusuf yang selalu dijahati oleh saudara-saudaranya?"


Lyla kecil menerawang lagi. Mencoba mengingat tentang kisah itu. Sesaat kemudian ia baru mulai mengingat. "Iya, Bunda. Lyla ingat. Nabi Yusuf dibuang sama sodalanya ke sumul ..."


"Wah, anak bunda hebat ... bisa ingat sekarang," Via kembali mengecup kening gadis kecil itu. "Lyla dengar bunda ya ... Nabi Yusuf punya sifat yang mulia, walau pun dijahati, dibuang oleh saudaranya, bahkan difitnah, Nabi Yusuf tidak pernah dendam. Karena dendam itu mengotori hati kita. Nabi Yusuf selalu memaafkan saudara-saudaranya. Memaafkan adalah sifat yang mulia. Lyla mengerti?"


"Mengelti, Bunda. Tidak boleh dendam sama selalu memaafkan."


"Lyla mau punya sifat mulia seperti Nabi Yusuf?" tanyanya lagi.


Lyla mengangguk pelan, "Mau, Bunda ..."


"Lyla harus memaafkan orang yang salah. Tidak boleh dendam. Allah sayang sama anak yang pemaaf." Dengan penuh kelembutan Via menjelaskan lagi. "Om Wira adalah ayah Lyla. Sama seperti saudara-saudara Nabi Yusuf, ayah Lyla juga pernah berbuat salah. Lyla harus bisa memaafkan ayah. Tidak boleh marah sama ayah terus."

__ADS_1


Lyla terdiam. Wajahnya mendadak murung. Perbuatan Wira masih terekam jelas di ingatannya yang akan selalu membuatnya merasa takut. Via pun menyadari, menyembuhkan trauma pada seorang anak kecil tidaklah mudah.


"Tapi Lyla takut sama Om Wila, Bunda."


"Kenapa takut? Ayah sayang sama Lyla kok... Ayah juga mau peluk Lyla." Via meraih sebuah foto yang berada di dalam laci meja nakas, lalu memperlihatkan pada Lyla. "Coba lihat, ini foto ayah. Bayi kecil yang digendong ayah ini, Lyla waktu masih bayi."


Lyla memperhatikan foto dimana Wira menggendong bayi baru lahir. Lalu menatap bundanya. "Ini Lyla ya, Bunda?" tanyanya seraya menunjuk foto bayi itu.


"Iya, Sayang ... Itu Lyla waktu baru lahir. Lihat, ayah gendong Lyla. Artinya ayah sayang sama Lyla."


"Tapi kenapa Om Wila malahin Lyla sama Bunda?" Kedua bola matanya kembali berkaca-kaca, mengingat hari dimana Wira memarahinya karena bermain di sebuah kamar.


"Ayah tidak sengaja, Sayang. Makanya ayah mau minta maaf sama Lyla. Kalau Lyla tidak memaafkan, nanti ayahnya sedih. Lyla kan mau jadi anak yang pemaaf."


Lyla kembali memperhatikan foto itu. "Om Wila sayang sama Lyla?" tanya nya hendak memastikan.


"Sayang sekali," jawab Via mengangguk. "Lyla panggilnya ayah, bukan Om Wira. Lyla mau kan memaafkan ayah?"


"Mau Bunda ..."


"Iya Bunda. Lyla mau peluk ayah."


****


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


Keesokan harinya...


Setelah meninjau lokasi pembangunan sebuah taman hiburan, Wira dan juga Ivan sedang memanfaatkan waktu istirahat di sebuah cafe. Wira sedang memandangi foto Lyla yang baru saja dikirim Via melalui aplikasi WhatsApp. Gadis kecil itu sedang bermain di taman belakang rumah bersama Oma nya.


"Ada apa denganmu? Aku mulai merasa kau agak aneh, senyum-senyum sendiri," ucap Ivan meledek, lalu menyeruput secangkir kopi.


"Via baru saja mengirimkan foto Lyla. Lihat!" Ia menunjukkan foto itu pada Ivan. "anakku sangat lucu, kan?"


"Iya ... Ngomong-ngomong, kau tidak meminta foto bundanya?"


"Maksudmu?" tanya Wira membuat Ivan tertawa kecil.


"Aku pikir kau senyum-senyum karena mengingat wajah Via."


"Kau ini ... Hubunganku dengan Via belum sejauh itu. Aku baru mau memulai dengannya."


Ivan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menatap Wira dengan serius. "Bukankah Via wanita yang baik? Kau beruntung memilikinya," ujar Ivan. "Wira, apa kau sudah bisa melupakan Shera?"


Mendadak senyum yang menghiasi wajah Wira menghilang. Ia menghela napas panjang, sembari menyandarkan punggungnya di kursi. "Kau tidak perlu menanyakannya, Van! Kau tahu bagaimana aku."


Ucapan Wira membuat Ivan garuk-garuk kepala tidak jelas. "Kau masih mencintainya?"


"Aku memang belum bisa melupakan Shera sepenuhnya. Bohong kalau aku bilang tidak punya perasaan apapun lagi padanya. Tapi, sekarang aku sudah punya Via. Aku memang belum mencintainya. Tapi dia adalah istriku. Terlebih, dia sudah banyak berkorban untuk anakku."


"Ya, tidak banyak wanita seperti Via di dunia ini."


"Dia seorang wanita yang sempurna. Kelembutan dan kasih sayangnya pada Lyla sudah cukup bagiku."


Ivan menepuk bahu sahabatnya itu. Ivan tahu betul bagaimana sosok Wira yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Namun jika sudah mencintai, ia akan sangat sulit melupakan. "Cobalah untuk mencintai Via. Dan lupakan Shera. Kau selalu berkata tidak peduli pada Shera, tapi hatimu berkata lain."

__ADS_1


"Van, kau tahu benar seperti apa hubunganku dengan Shera. Bahkan kehadiran Lyla adalah sesuatu yang tidak disengaja. Sekarang aku sedang mencoba memulai segalanya dengan Via."


"Baguslah. Aku senang mendengarnya," timpal Ivan.


__ADS_2