
"Lepaskan aku! Siapa kalian?" Teriakan seorang pria menggema di sebuah gedung kosong. Ia berusaha melepas tali yang mengikat tubuhnya. "Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" terima pria itu lagi. Ia kembali melirik ke belakang sana, dimana beberapa pria yang merupakan anak buahnya pun terikat oleh tali.
"Kau yang tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Tuan!" ucap seorang pria dengan seringai misterius.
Marco menatap pria yang berdiri di hadapannya dengan geram. Sekelumit pertanyaan bermunculan, tentang siapa dalang dari penculikan yang dialaminya.
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
"Pertanyaan yang bagus ..." Terdengar suara seorang pria yang tiba-tiba muncul dari kegelapan.
Marco membelalakkan mata saat menyadari siapa yang ada di sana. Surya dan Wira melangkah dengan santai ke arahnya. Laki-laki itu masih ingat betul terakhir kali bertemu dengan sosok Surya beberapa bulan lalu, saat tiba-tiba tempat hiburan malamnya diratakan dengan tanah.
"Ka- kalian?" tanya nya gemetar. "Apa yang kalian inginkan dariku?"
Baik Wira mau pun Surya tak menjawab pertanyaan itu. Hanya tatapan tajam yang terarah pada beberapa pria di depannya.
"Buka ikatan mereka. Aku tidak suka memukuli orang yang terikat!" perintah Wira.
Pria itu pun melepas tali yang mengikat tubuh Marco juga beberapa anak buahnya. Wira dan Surya saling melirik dengan seringai menakutkan diantara keduanya. Mereka menggulung lengan kemeja hingga batas sikut.
"Kau mau yang mana?" tanya Wira.
"Yang mana saja."
Mendengar pembicaraan antara Surya dan Wira, Marco tak dapat berkata-kata lagi. Kini ia merasa nyawa nya telah di ujung tanduk. Merasa tak memiliki kesalahan apapun, ia akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Tunggu! Aku salah apa? Kenapa kalian mengikatku di sini?" tanya nya dengan raut wajah memucat.
"Kau selalu jatuh pada kesalahan yang sama. Dan kali ini, tidak akan maaf bagimu," ujar Surya.
"Apa maksudnya? Kesalahan apa kulakukan?" Lagi-lagi Marco bertanya.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan itu Wira telah melayangkan kepalan tangannya ke wajah Marco, yang membuat laki-laki itu tersungkur ke lantai.
"Melawan lah! Kalau tidak, kau akan mati," ucap Wira.
Perkelahian pun terjadi di gedung kosong itu. Suara pergulatan memecah kesunyian malam. Erangan kesakitan dari beberapa pria menggema, saat Surya yang tak punya belas kasih menghajar tanpa ampun. Jika biasanya ia hanya memberi perintah anak buahnya, kali ini dirinya lah yang turun tangan. Juga dengan Wira, yang begitu murka dengan ulah Marco yang telah menyebabkan anak dan istrinya dalam bahaya.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Marco dan anak buahnya telah tergolek tak berdaya di lantai dengan tubuh penuh luka lebam. Ia sudah beberapa kali memohon ampun pada dua pria yang mengajar mereka tanpa belas kasih.
Erangan kesakitan kembali terdengar saat Wira menginjak perut laki-laki itu, menatapnya dengan geram. "Untung saja anak dan istriku selamat. Jadi kau tidak akan mati." Ia memindahkan kakinya setelah merasa cukup menyiksa laki-laki itu.
Wira membenarkan kemejanya yang sedikit berantakan, lalu melirik Surya. "Aku mau kembali ke rumah sakit."
"Kau duluan saja. Aku mau menjalankan pesan dari seseorang dulu," Sahut Surya.
Tanpa sepatah kata pun lagi, Wira meninggalkan gedung kosong itu. Sementara Surya mendekat pada Marco dan berjongkok di hadapannya. "Bukan kah sudah pernah ku peringatkan jangan pernah membuat masalah dengan Tuan Gunawan? Dan sekarang kau melakukan kesalahan fatal."
"A-ku tidak membuat kesalahan apapun."
"Apa kesalahanku?" tanya Marco. Ia sama sekali belum mengetahui alasan Tuan Gunawan memberi perintah meratakan tempat itu dengan tanah. Tentu saja, pria paruh baya itu memiliki kuasa untuk melakukannya, sebab kawasan elite tempat Marco mendirikan klub adalah miliknya.
"Alviana Andini ..." ujar Surya. "kau ingat nama itu?"
Seketika kedua bola mata Marco membulat saat mendengar nama itu. Nama seorang gadis muda yang pernah ia jual pada Tuan Gunawan. "Alvia..."
Belum selesai Marco menyebut nama itu, Surya sudah mencekiknya. "Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu." Perlahan ia melepas cengkeramannya dari leher Marco. "Alviana Andini adalah menantu Tuan Gunawan, dan karena ulahmu dia dalam bahaya."
Surya segera berdiri dari posisi berjongkoknya. Ia melirik satu persatu anak buah Marco yang kini dipegangi oleh anak buahnya. "Tunjukkan padaku, siapa di antara kalian yang mendorong menantu Tuan Gunawan hingga terjatuh!"
Seorang pria akhirnya menunjuk salah satu di antara mereka yang telah mendorong Via hingga terjatuh. Surya tersenyum tipis, seraya melangkah mendekat pada pria itu.
__ADS_1
"Haruskah aku menjewer telingamu hingga terputus?" ucap Surya dengan santainya membuat laki-laki itu bergidik ngeri.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Sudah larut malam ketika Wira baru saja tiba di rumah sakit. Ia mempercepat langkahnya menuju ruangan dimana Via berada. Saat memasuki ruangan itu, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tampak Lyla sudah tertidur di atas sebuah sofa bed di sudut ruangan itu, sedangkan Via berbaring di ranjang pasien, namun masih terjaga.
"Mas dari mana? Kenapa baru kembali selarut ini?" tanya Via penasaran. Sebab Wira dan Surya tiba-tiba pergi tanpa pamit.
"Aku dan Surya harus pergi menemui seseorang. Urusan bisnis, hehe ..."
"Di larut malam seperti ini? Memang tidak bisa besok? Bahkan Mbak Shera harus pulang di antar sopir ayah karena kalian tidak kembali juga."
Aduh bagaimana ini?
"Em, Aku mau ke kamar mandi dulu, kebelet." Tidak tahu harus menjawab apa, Wira memilih masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Di dalam sana, ia memikirkan alasan apa yang akan diberinya pada sang istri jika terus bertanya. Untuk mengatakan habis menghajar orang pun tidak mungkin, sebab takut Via akan marah.
Berselang beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi, menuju sisi pembaringan dan menatap wajah anak lelakinya yang sedang tertidur. Senyum bahagia kembali terlihat di sana. Kebahagiaan yang sama ia rasakan sama seperti saat kelahiran Lyla. Wira menggendong tubuh mungil itu dan mengecup wajahnya beberapa kali.
"Gantengnya anak ayah ..." bisiknya sambil mengecup anaknya.
Duduk di sisi pembaringan, Wira tak melepas tatapannya dari wajah mungil itu. "Coba lihat wajahnya. Mirip aku, ya?"
"Tidak juga, Mas. Dia lebih mirip dengan Lyla," ucap Via.
"Ya kan sama saja." Satu tangan Wira terulur membelai wajah sang istri, lalu mengecup keningnya dengan sayang, membuat Via tersenyum sipu. "Sayang, terima kasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Aku harap kau tidak pernah berubah. Tetaplah seperti sekarang, lembut dan penuh kasih sayang."
Via menjawab dengan anggukan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Seketika senyum yang hadir di wajahnya menghilang, saat mendapati bercak darah di kemeja suaminya itu.
"Mas, kenapa ada bercak darah di kemeja Mas Wira?" tanya nya menatap curiga.
Gawat!!
__ADS_1
π΅π΅π΅π΅π΅π΅
...πlike nya banyakin Napa π€£...