
PERHATIAN !!! YANG PUASA JANGAN BACA!!!
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Wira dan Via baru tiba di sebuah villa yang cukup mewah.
Saat ini mereka telah berada di rooftop Villa dan disambut dengan cahaya lilin yang menerangi kegelapan malam. Terlihat sangat romantis. Via sampai tak percaya jika semua ini adalah ide suaminya yang selama ini tidak pernah peka dan sama sekali tidak romantis.
"Siapa yang menyiapkan semua ini, Mas?" tanya Via.
"Aku," jawab Wira dengan santainya.
Via menatap suaminya itu dengan curiga. Tentu saja, sebab tak biasanya Wira menjelma menjadi sosok suami romantis.
"Benarkah?" Ia bertanya lagi untuk memastikan.
"Tentu saja." Wira dengan cepat menjawab. "Sayang, memang tampang ku se-bejat itu sampai kau mengira bukan aku yang menyiapkan semuanya."
"Ya bukan begitu, Mas. Aku hanya merasa malam ini suamiku sangat berbeda. Yang biasanya lebih senang di rumah, sekarang mengajak keluar sampai harus menginap."
Wira tersenyum, lalu memeluk sang istri dari belakang sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota yang terlihat cukup jauh dari villa.
"Aku rasa kita harus sering-sering bepergian berdua. Aku baru tahu kalau berkencan itu sangat menyenangkan."
Rasanya Via ingin tertawa mendengar ucapan polos Wira. Dua kali membina rumah tangga bukanlah jaminan bagi seorang Wiratama Abimanyu bahwa ia berpengalaman dalam hal berkencan.
Melewati makan malam romantis dengan konsep candle light dinner, ditemani puluhan lampion yang beterbangan malam itu. Via begitu termanjakan.
Akan tetapi di balik setiap keromantisan itu, akan ada tiga sosok yang menjadi korban. Tentu saja Dokter Marchel, Dokter Willy dan juga Surya lagi-lagi harus menjadi tumbal demi manusia menyebalkan seperti Wira.
"Sekarang apa lagi?" tanya Surya seolah tak sabar.
"Tenanglah. Setelah ini mereka akan ke kamar dan tugas kita selesai."
"Yakin selesai?" tanya Surya sekali lagi.
"Kau ini tidak sabaran sekali. Aku dan Wira juga pernah melakukan hal bodoh semacam ini untuk Marchel." Willy menjawab tanpa mempedulikan ekspresi wajah Marchel.
Laki-laki itu pun melayangkan tatapan penuh tanya pada sahabat nya itu. "Apa kau juga memberi pil setan itu pada Wira?"
Willy menyeringai licik. "Mau bagaimana lagi? Si Sableng itu jauh lebih bodoh darimu"
"Dasar teman lucknut," seru Marchel mengingat dulu dirinya menjadi korban keisengan Willy yang memberinya pil itu dengan memaksa memasukkan ke dalam mulutnya. "Kau meminta dia meminumnya?"
"Tidak, aku campur ke dalam minumannya dan dia tidak tahu," jawab Willy tanpa rasa berdosa.
Surya yang mendengar drama bisik-bisik itu hanya mampu mengulum bibir. Menahan tawa.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau malah Via yang meminumnya?" tanya Marchel.
"Iya juga, ya ..." Willy berpikir sejenak. "Ah biar saja. Malah bagus."
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
_
_
_
_
_
_
Di dalam sebuah kamar. Wira sudah uring-uringan menunggu Via yang sudah menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit di dalam kamar mandi. Rasanya sudah sangat lama menunggu. Beberapa kali ia melirik jam di dinding, pertanda dirinya sudah sangat tidak sabar. Lalu setelahnya menatap tayangan tv di depannya.
(Akohhh kasih visual biar Reader Sesat gak bosan ) 🤧ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
"Sayang, kau sedang apa di kamar mandi?" Tak sabar, Wira akhirnya memanggil.
Wira tersenyum senang, membayangkan akan seperti apa Via dengan balutan pakaian tipis yang ia siapkan sebelumnya. Willy memang teman lucknut terbaik. Ia sampai meminta kekasihnya, Elsa, untuk menyiapkan sebuah lingerie.
Hingga beberapa menit kemudian, Via keluar dari kamar mandi dengan menahan rasa malu. Sepertinya wanita itu sangat tidak nyaman dengan pakaian tipis berjaring yang dikenakannya.
Wira bahkan tak berkedip menatapnya. Ia segera bangkit, lalu menghampiri sang istri yang mematung di ambang pintu kamar mandi sambil menunduk.
"Kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini, Mas?" tanya Via dengan malu-malu.
"Sekali-sekali tidak apa-apa, kan, Sayang ... Hanya di tempat ini aku bisa meminta mu memakainya. Kalau di rumah mana bisa."
"Tapi aku malu."
Wira melingkarkan tangannya di pinggang wanitanya itu. "Malu kenapa? Aku bahkan sering melihatmu tanpa memakai apa-apa..."
Via mengalihkan pandangannya pada sebuah cermin, lalu tertawa geli setelahnya. "Aku merasa penampilanku seperti wanita penggoda."
"Kalau begitu goda aku saja. Aku rela."
Tanpa menunggu lagi, Wira menggendong sang istri dan membaringkannya di tempat tidur, lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka, mengingat udara malam itu cukup dingin.
__ADS_1
Dalam balutan selimut tebal mereka saling memeluk satu sama lain, mengungkapkan cinta dengan berbagi kehangatan.
"Mas, tangannya tolong kondisikan," ucap Via, saat merasakan tangan Wira mengembara kemana-mana.
"Tanganku kenapa? Kan setiap hari memang seperti ini." Wira menyeringai, sambil mendaratkan bibirnya dimana pun sesukanya. Wajah leher dan dada tak lepas dari kecupannya. "Tadi kan aku minta yang hot. Boleh, ya ..."
"Memangnya selama ini aku tidak hot?"
"Malam ini aku ingin lebih, Sayang," rengek Wira dengan manjanya.
Via tersenyum, ia membelai wajah sang suami dengan penuh kelembutan, memberinya kecupan sayang di kening, mata dan beberapa bagian wajah lainnya. Wira pun sangat bahagia, mendapat perlakuan itu dari wanitanya.
Malam semakin larut. Sepasang anak manusia sedang menikmati kebersamaannya dengan saling menghujani kasih sayang. Lembut, namun menggairahkan. Mereka saling memanjakan satu sama lain.
Di dalam kamar temaram itu hanya ada suara rintihan dan lenguhan yang berasal dari keduanya. Wira hanya dapat memejamkan mata saat merasakan padang pasir melahap habis kaktus miliknya. Sebuah siksaan yang membawa kenikmatan. Dan sepertinya kaktus Wira akan bekerja lebih keras di padang pasir akibat ulah Dokter Willy yang memberinya pil setan tanpa sepengetahuan Wira.
Sungguh di luar dugaan, minuman mereka malah tertukar. Sehingga minuman yang diperuntukkan bagi Wira, malah diminum oleh Via. Akibatnya, wanita itu menginginkan hingga beberapa kali. Ia menyerang Wira tanpa ampun. Begitu pun dengan Wira yang begitu terkejut dengan sang istri yang memberinya sensasi berbeda di malam itu.
"Kau lelah?" tanya Wira sesaat setelah selesai dengan kegiatan pentingnya.
Via hanya menjawab dengan anggukan, sebab dirinya terlampau lelah. Ia membenamkan wajah di dada sang suami.
"Terima kasih, Sayang. Malam ini kau sangat seksi."
"Aku lelah, Mas. Mau tidur."
"Baiklah, tidurlah, Sayang." Wira memberi satu kecupan singkat di bibir, sebelum melepaskan pelukannya. Sementara Via melirik arah jarum jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Artinya, ia masih punya beberapa jam untuk istirahat, sebab besok pagi-pagi sekali mereka harus kembali karena Via harus menyiapkan sesuatu yang penting, dan ia sama sekali tak ingin sampai terlambat.
"Ponsel Mas mana? Aku mau menyetel alarm. Aku tidak mau terlambat bangun."
"Ada di laci meja."
Dengan sisa-sisa tenaga, Via segera menggeser posisinya, agar dapat meraih gagang laci itu dan mengambil sebuah ponsel dari dalam sana.
Baru saja membuka kunci layar, sudah banyak pemberitahuan pesan baru. Tanpa sengaja, ia membuka salah satu pesan dan membaca isinya. Seketika, raut wajahnya memerah setelah membaca pesan itu.
Willy : Bagaimana malam indahmu? 🤠Maaf, aku mencampur pil setan ke minumanmu. Semoga malam mu menyenangkan!
Via menganga tak percaya membaca pesan dari teman suaminya itu. Pantas saja ia menyerang Wira membabi buta. Rupanya semua itu adalah ulah Dokter Willy.
"Mas Wiraaaaaaa!!!"
🌵🌵🌵🌵🌵
Like
__ADS_1
Komen
Dosa tanggung sendiri 🤧