Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Tetap Di sini dan memulai dari awal, Bersamaku!


__ADS_3

"Bisa kita bicara sebentar?"


"Maaf, aku tidak bisa. Sebentar lagi jam penerbangan ku," ucap Shera menolak ajakan Surya. Ia akan melangkah pergi, namun Surya menarik pergelangan tangannya.


"Tolong, sebentar saja," pinta Surya melembutkan suaranya. Dengan raut wajah penuh permohonan.


Shera berusaha melepas genggaman tangan Surya. Dengan kedua bola matanya yang telah dipenuhi cairan bening. Tak ingin Surya mendapatinya dalam keadaan sangat menyedihkan.


"Aku mohon lepaskan aku!" Ia berusaha menarik tangannya, akan tetapi gagal. Surya terlalu kuat mencengkramnya.


"Tidak, sebelum kita bicara."


Keheningan terjadi selama beberapa saat, ketika tatapan mereka saling bertemu. Shera dapat melihat cara Surya memandangnya tak lagi sinis dan penuh kebencian seperti yang selama ini laki-laki itu tunjukkan. Tatapan yang sama, saat dulu mereka masih menjalin kasih. Dan hal itu saja telah berhasil melemahkan hati Shera yang keras. Hingga akhirnya, ia menyerah dan memenuhi keinginan Surya untuk bicara berdua di sebuah cafe yang berada di sekitar bandara.


****


_


_


_


_


_

__ADS_1


"Aku sudah banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Aku membuat banyak orang terluka, terutama kau. Jadi sekarang aku ingin melupakan semuanya dan memulai hidupku yang baru," ucap Shera. Pandangannya lurus ke depan, namun dengan tatapan kosong penuh kesedihan.


"Memulai hidup baru?" tanya Surya diiringi anggukan kepala oleh Shera. "Hidup yang seperti apa? Minum-minum lagi? Atau bepergian kemana-mana sesukamu?" ucap Surya seolah menyindir.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku di masa lalu."


"Bagaimana caranya?" Pertanyaan yang diajukan oleh Surya seakan menantang Shera.


Menyadari semua, wanita itu pun menarik napas dalam. Ia memberanikan diri menatap lelaki yang kini duduk di hadapannya. "Aku minta maaf, karena aku pernah meninggalkanmu dan memilih menikah dengan Wira. Aku tahu kau sangat marah saat itu. Tapi aku sudah dibutakan oleh dendamku untuk membalas Wira. Kematian orang tuaku, membuatku hancur."


Mendengar ucapan Shera membuat Surya menatapnya iba. Dirinya pun hingga saat ini belum sanggup melupakan Shera yang merupakan wanita satu-satunya yang pernah mengisi hatinya.


Surya menggenggam tangan Shera dan menatap matanya dalam-dalam. "Aku yang minta maaf. Aku seharusnya menguatkanmu saat itu. Tapi aku malah melepas dan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Wira adalah anak dari majikanku. Dan ayahmu memintanya menikah denganmu."


Terdiam, Shera tak dapat berkata-kata. Kenangan indah saat dirinya menjalin kasih bersama Surya masih membekas hingga kini. Surya pun merupakan seorang pria yang menjadi cinta pertamanya, jauh sebelum ia mengenal Wira.


Wanita itu kemudian teringat seorang pria bule yang menjadi pelariannya saat meninggalkan Wira, yang akhirnya membuat Surya sangat murka. Tuduhan menjalin hubungan tanpa status dan kumpul kebo mengarah padanya. Namun, Shera tak pernah peduli sekalipun tuduhan itu tak benar adanya.


Pria jahat yang bersamanya hanya memanfaatkan luka hati Shera dengan menawarkan kebahagiaan. Namun kenyataannya hanya demi uang. Dan pada akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkannya begitu saja.


"Bagaimana dengan tuduhan perselingkuhan dan serumah tanpa status yang diarahkan padaku? Aku mau pergi untuk melupakan semua itu."


Surya mengeratkan genggaman tangannya. "Aku tahu itu tidak benar. Karena aku yang paling mengenalmu. Aku tahu kau sengaja melakukan semua itu untuk melukai Wira. Bahkan semua perselingkuhan palsumu aku tahu. Hanya saja aku marah karena kau memilih jalan itu."


Shera menatap Surya. Ia membalas genggaman tangan laki-laki itu.

__ADS_1


***


_


_


_


_


_


_


"Jadi kau juga akan meninggalkan anakmu?" Shera mengangguk. Mengingat wajah polos Lyla yang memintanya untuk tidak pergi membuat wanita itu menitikkan air mata, dan dalam hitungan detik ia sudah sesegukan.


Dengan suara yang tersendat-sendat, Shera berkata, "Lyla sudah punya seorang ibu yang sempurna seperti Via. Dia akan baik-baik saja tanpaku."


"Tapi dia sedang berjuang melawan sakitnya. Ada baiknya kalau kau selalu ada bersamanya. Bukankah Lyla sudah mulai bisa menerimamu?"


Sambil mengusap air mata, Shera mengangguk pelan. "Tapi aku malu. Aku pernah membuangnya tanpa belas kasih. Via benar, aku sudah kehilangan hak ku sebagai ibu sejak hari dimana aku membuangnya."


"Dan kau mau membayar kesalahanmu dengan pergi? Bukankah itu nama nya egois? Kau hanya memikirkan perasaanmu. Seorang anak seperti Lyla pasti membutuhkan ibu kandungnya di sisinya."


Wanita itu mencoba menguasai perasaannya, hingga suara sesegukan itu tak terdengar lagi. "Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa lagi."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Surya tersenyum padanya. "Tetap di sini dan memulai semuanya dari awal," jawabnya dengan mengeratkan genggaman tangan. "Bersamaku."


__ADS_2