
"Via, apa kau setuju kalau Shera sering bertemu dengan Lyla?" tanya Ayah pada Via.
Via terdiam. Ia melirik Lyla yang kini berada di pangkuan Wira. Pun dengan Wira yang membalas tatapan itu dengan seulas senyum tipis.
"Ayah, tentang itu ..." Via menggantung ucapannya. Tatapannya kini terarah pada Shera.
"Katakan saja, Nak! Di sini kau yang paling berhak atas Lyla."
"Ayah, aku bukan mau melarang Mbak Shera untuk sering bersama Lyla. Tapi kita semua tahu kondisi Lyla sekarang. Emosinya bisa mempengaruhi kesehatannya. Kalau kita memaksa, aku takut Lyla akan ..."
Tak tahan, Shera segera menyela pembicaraan Via. "Bilang saja kau memang tidak mau aku bertemu dengan anakku. Iya kan?"
"Jaga bicaramu, Shera!" ujar Wira menatap tajam Shera. Tangannya membelai rambut Lyla yang kini menyandarkan kepala di dadanya. Lyla pun mendongakkan kepala, menatap Wira.
"Ayah, Lyla tidak mau sama Tante itu. Lyla takut, Ayah!" bisiknya pelan.
"Iya, Sayang ..."
Kedua bola mata Shera telah berkaca-kaca mendengar penuturan Lyla. Betapa selama ini Lyla terus menolaknya, walaupun Shera telah mencoba membujuknya dengan berbagai cara.
"Aku ibu kandung Lyla, aku yang mengandung selama sembilan bulan, dan aku juga yang melahirkannya. Bukan kau!" Wanita itu mengusap setitik air matanya.
__ADS_1
"Dan kau juga yang tega membuangnya tanpa rasa berdosa, begitu kan?" ujar Via.
Shera semakin tak terima. "Apa kau sengaja membuat Lyla takut pada ibu kandungnya sendiri?" teriak Shera membuat Lyla semakin ketakutan. "Baiklah, aku akan memberi kalian pilihan, aku akan menjadi pendonor Lyla kalau Wira kembali padaku!"
Via mengepalkan tangannya, geram mendengar ucapan Shera. Tak ingin perdebatan semakin berlanjut, ia akhirnya meraih tubuh Lyla dan menggendongnya. "Maaf, aku tidak mau Lyla mendengar perdebatan seperti ini. Mas, Ayah, Ibu, aku permisi sebentar." Via beranjak meninggalkan ruang makan, menuju kamar Lyla yang berada di lantai atas, diikuti Wira di belakangnya.
Tinggallah Shera dengan kebenciannya pada Via yang semakin menjadi-jadi. Wanita itu menatap ayah dan ibu dengan berderai air mata.
"Shera ... Ikut aku! Mari kita bicara," ajak Tuan Gunawan. Ia melangkah lebih dulu menuju sebuah ruangan. Dengan terpaksa, Shera mengikuti mantan mertuanya itu.
Setiba nya di sebuah ruangan, Shera duduk di kursi dan menangis sejadi-jadinya.
Tuan Gunawan menarik napas dalam, ia kembali teringat kejadian beberapa tahun sebelumnya, ketika Wira berjanji pada seorang pria untuk menikahi anak gadisnya.
"Shera, Wira tidak pernah sengaja mencelakai orang tuamu. Itu adalah murni kecelakaan. Dan lagi pula, Wira sudah menepati janjinya pada ayahmu dengan menikahimu. Kau mengikat Wira dengan rasa bersalah karena kematian orang tuamu bukan dengan cinta. Apa kau lupa, kau lah yang meninggalkan Wira. Kalau sekarang Wira melanjutkan hidupnya yang sempat kau hancurkan, itu bukan salahnya."
"Tapi Ayah, aku sudah mengakui kesalahanku. Aku tahu aku salah karena sudah meninggalkan Wira. Tapi---"
"Cukup, Shera!" Pria paruh baya itu menaikkan tangannya, pertanda tak ingin lagi mendengar apapun pembenaran dari wanita di depannya. "Kau sudah cukup membuat Wira menderita selama ini. Sekarang tolong lepaskan Wira dan biarkan dia menjalani hidup barunya."
"Tapi, Ayah ..."
__ADS_1
"Aku akan memberimu apapun yang kau butuhkan sebagai penebusnya. Tapi tolong, lupakan niatmu untuk kembali pada Wira. Kau tidak mencintai Wira, begitu pun sebaliknya. Apa yang Wira rasakan padamu selama ini bukanlah cinta melainkan rasa bersalah yang besar."
"Wira mencintaiku, Ayah! Aku tahu itu."
"Tidak Shera. Wira menghukum dirinya karena merasa menjadi penyebab kematian kedua orang tuamu. Sampai akhirnya dia tidak bisa bedakan antara cinta dan rasa bersalah. Sekarang, dia sedang membangun hidupnya yang baru. Aku mohon bebaskan Wira dari semua rasa bersalah itu."
"Tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi."
Tuan Gunawan mengusap bahu Shera. "Itu tidak benar. Kau tetap boleh menganggap ku sebagai pengganti ayahmu. Kau boleh minta apapun dariku, kecuali Wira."
Tangis Shera pun kembali menggema di ruangan itu. Nasi telah menjadi bubur, mungkin peribahasa itulah yang cocok. Sesak terasa merasuki jiwa wanita itu. Kini harapannya untuk kembali memiliki Wira telah pupus. Penyesalan memang menyakitkan. Wira telah menjadi milik orang lain, begitu pun dengan Lyla.
*******
_
_
_
_
__ADS_1