Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Aku Tidak Akan Bisa Memaafkan Diriku


__ADS_3

Ayah, ibu dan juga Bibi Arum segera bergegas menuju lantai atas ketika mendengar suara teriakan Wira. Mereka pun dibuat terkejut dengan pemandangan di depannya, ketika Via dalam keadaan tak sadarkan diri di dalam dekapan Wira.


Tuan Gunawan segera berjongkok di depan Wira, meraih pergelangan tangan Via. "Apa yang terjadi pada Via?" bentaknya pada Wira.


"Aku tidak tahu, Ayah. Dia sudah terbaring di lantai saat aku datang."


Ibu pun terlihat sangat panik saat melihat ada noda darah di pakaian bagian belakang menantunya itu. "Via pendarahan?" ucapnya dengan suara bergetar. "Cepat Wira, bawa Via ke rumah sakit."


Tanpa menunggu lagi, Wira segera menggendong Via menuju tempat mobil terparkir. Seorang sopir yang sedang duduk santai di pos penjaga segera berlari, ketika melihat Wira keluar dari rumah dengan menggendong istrinya.


Sepenjang penjalanan menuju rumah sakit, Wira terus memeluk Via sambil berusaha membangunkannya. Sesekali, laki-laki itu menyeka air mata, saat menatap wajah Via yang terlihat sangat pucat.


"Via ... tolong buka matamu. Aku minta maaf. Ini salahku," bisiknya di telinga Via.


*****


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


_


Sambil menunggu, Wira berjalan kesana-kemari dengan panik di depan sebuah ruangan IGD Maternal. Sesekali mengintip melalui sebuah jendela kaca untuk melihat keadaan di dalam sana, dimana Dokter Willy dan juga Evan sedang melakukan pertolongan pada Via. Ia mengusap wajah, sambil menghela napas beberapa kali. Sang istri yang ia dapati dalam keadaan tak sadarkan diri membuatnya begitu khawatir.


Laki-laki itu duduk di sebuah kursi, namun tatapannya terus terarah pada pintu kaca itu. Diliriknya arah jarum jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam berlalu, namun dokter belum juga keluar dari ruangan itu. Hanya beberapa perawat yang terlihat lalu lalang.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki setengah berlari. Wira menoleh pada sumber suara. Tampak ayah dan juga ibu sedang menuju ke arahnya dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaan Via?" tanya ibu khawatir.


Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di kursi, mengusap air mata yang jatuh membasahi wajahnya. Sementara Tuan Gunawan masih berdiri dengan tatapan sinis pada Wira. Ia kemudian menuju jendela kaca dan mengamati keadaan di dalam sana, walaupun pandangannya terhalang oleh sebuah tirai. Hanya beberapa dokter dan perawat yang terlihat.


"Ini semua salahku, Bu. Via pasti stress dan tertekan karena merasa aku tidak menganggap keberadaannya penting," ucap Wira penuh sesal.


"Sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terjadi," sahut wanita paruh baya itu. "Yang terpenting sekarang keselamatan Via dan anakmu."


"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau terjadi sesuatu padanya."


Ibu menepuk bahu anaknya itu. "Berdoalah. Semoga Via dan janin dalam kandungannya selamat."


Tak lama berselang, Dokter Willy keluar dari ruangan itu. Wira dan juga ayah ibunya pun segera menghampiri sang dokter.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan menantuku?" tanya Tuan Gunawan.


Dokter Willy menatap tiga orang di depannya secara bergantian. Raut wajahnya yang terlihat serius membuat Wira harap-harap cemas.


"Dia mengalami pendarahan ringan. Tapi syukurlah, janin dalam kandungannya masih dapat dipertahankan. Semoga saja pendarahan segera berhenti. Kami masih akan terus memantaunya," jelas sang dokter.


Meskipun merasa sedikit lebih tenang mendengar penjelasan dokter, namun tetap saja kondisi Via tak serta merta membuat Wira bernapas lega. Ia masih dibelenggu perasaan bersalah yang besar.


"Terima kasih, Wil ..." ucap Wira.


Sang dokter tersenyum ramah, "Setelah ini istrimu akan dipindahkan ke ruangan perawatan." Willy menepuk bahu sahabatnya itu. "Baiklah, aku permisi sebentar."


Wira menjawab dengan anggukan, diiringi senyum tipis. Setelah kepergian Dokter Willy, ia kembali menatap ke dalam sana, dimana beberapa dokter dan perawat masih terlihat berdiskusi.


Tampak tirai yang sejak tadi menjadi pembatas telah dibuka oleh seorang perawat, sehingga Wira dapat melihat istrinya yang masih terbaring lemah, namun dalam keadaan telah tersadar. Para petugas medis sepertinya sedang bersiap untuk memindahkannya ke kamar perawatan.


Ia menghela napas panjang, berusaha menahan perasaannya, saat mendapati Evan sedang duduk di sebuah kursi, di sisi pembaringan Via.


Pemuda tampan dengan senyum ramahnya itu terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada Via, entah apa. Wira yang berada di balik kaca jendela hanya dapat menebak sendiri dengan pikirannya. Dan tentu saja dengan wajah datar tanpa ekspresi. Terlebih, saat Evan mendekatkan telinganya dengan bibir Via, yang seperti sedang membisikkan sesuatu.


Tangan Wira telah mengepal. Namun, ia masih berusaha menepis rasa cemburu nya dan mengutamakan kesehatan Via saja.


Aku tahu dia hanya sedang melakukan tugasnya sebagai pelayan kesehatan. Tapi kenapa aku merasa tidak terima?


******

__ADS_1


__ADS_2