
Selepas makan malam, Shera mengajak Via bicara berdua di sambil berjalan-jalan di taman belakang rumah. Walau pun Wira sudah melarang, namun Via tetap memenuhi keinginan Shera. Bahkan Lyla pun tak rela jika bundanya pergi berdua dengan seorang tante yang baginya sangat galak itu.
Sambil menelusuri taman, mereka mengobrol santai. Shera begitu percaya diri menunjukkan pada Via, tentang pengaruhnya di rumah itu.
"Rumah ini masih sama persis seperti pertama kali aku menginjakkan kaki di sini," ucap Shera mengedarkan pandangannya di taman yang luas itu. Lampu lampu taman yang sangat indah di malam hari begitu memanjakan mata. "Saat tinggal di sini, aku sangat suka berjalan-jalan di taman di malam hari."
"Ya, taman ini sangat indah," sahut Via.
Shera menghirup udara segar malam itu, sambil memejamkan matanya. "Apa kau tahu, dulu ayah atau ibu akan berteriak dari balkon. Jika mereka menemukanku masih di taman di jam seperti ini. Begitu juga dengan Wira. Apalagi sejak aku mengandung Lyla. Wira sangat berlebihan dalam menjagaku."
Cemburu! Itulah yang dirasakan Via. Walau bagaimana pun, Wira adalah suaminya. Dan sudah merupakan hal lumrah memiliki rasa cemburu pada mantan istri suaminya itu. Namun, sebisa mungkin ia tidak menunjukkannya.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
Shera mengerutkan alis mendengar ucapan Via. Wanita itu sedang berpikir bahwa Via mungkin akan sadar diri bahwa Wira masih belum melupakan dirinya. "Apa? Kau senang mendengarnya?" ucap Shera sembari tertawa sinis.
__ADS_1
"Ya ..." Via tersenyum cerah. "Artinya kalau nanti aku hamil, Mas Wira akan memperlakukan ku seperti itu juga. Atau bisa jadi lebih?"
Tak mau kalah, Shera pun terus-menerus menceritakan pada Via betapa dulu Wira dan kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Namun, sungguh di luar dugaan wanita itu, karena Via sama sekali tak menunjukkan reaksi cemburu atau marah. Ia terlihat sangat santai, dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Kau yakin, Wira dan keluarganya akan memperlakukanmu sama sepertiku?" tanya nya percaya diri.
"Tidak juga sebenarnya. Aku tahu aku masih baru di keluarga ini, tapi ayah dan ibu sudah sangat baik bagiku."
"Ya, kau benar. Ayah dan ibu sangat baik. Tapi bagaimana dengan Wira? Dulu Wira sangat mencintaiku. Dia yang mengejarku dan memaksa menikah dengannya. Dia memenuhi janjinya pada mendiang ayahku," ucap Shera tersenyum penuh arti. "Em, maaf Via, sepertinya aku terlalu banyak bicara. Aku tidak bermaksud membuatmu cemburu. Aku hanya sedang teringat masa lalu."
"Tidak apa-apa, bukankah semua orang punya masa lalu ..."
"Kami menikah karena Tuhan sudah menjodohkan kami dengan cara yang unik. Dan yang sudah disatukan oleh tangan Tuhan, tidak akan mudah dipisahkan."
Mendengar jawaban Via membuat Shera menarik napas dalam. Ia tidak pernah menyangka bahwa Via berani memberinya jawaban yang menantang. "Apa kau yakin Wira benar-benar mencintaimu?"
__ADS_1
Via membalas tersenyum, "Bukannya tadi Mbak Shera sudah melihat buktinya?"
Seketika senyum penuh kesombongan yang menghiasi wajah Shera meredup, begitu mengingat bekas lipstik di bibir Wira, pun dengan beberapa tanda merah yang terlihat cukup jelas di leher Via, yang sejak tadi berusaha disembunyikan olehnya. Shera pun bagai terjebak oleh pertanyaannya sendiri.
Aku memang tidak tahu apakah Mas Wira memiliki perasaan lebih untukku atau tidak. Tapi aku berhak mempertahankan apa yang menjadi milikku. ucap Via dalam batin.
Mereka kemudian duduk berdampingan di sebuah kursi. Shera terdiam selama beberapa saat, hingga akhirnya memulai pembicaraan lagi.
"Aku mau berterima kasih, karena kau sudah merawat anakku selama ini," ucap Shera menekan kata anak. Seakan bermaksud menegaskan pada Via bahwa dirinyalah ibu Lyla yang sesungguhnya.
Via menyembunyikan tangannya yang mengepal karena berusaha meredam perasaan tidak enaknya. Ia dapat menahan rasa cemburu ketika Shera menceritakan segala kenangan manisnya bersama Wira, namun tak dapat menahan diri saat wanita di depannya dengan mudahnya mengaku sebagai ibu dari Lyla, setelah perbuatan buruknya yang tega membuang darah dagingnya sendiri.
Masih berusaha sesantai mungkin, Via menoleh pada Shera. "Dan aku mau berterima kasih, karena kau sudah membuangnya. Sehingga aku bisa merasakan menjadi ibu, dari seorang anak yang luar biasa seperti Lyla."
Bagaikan pukulan telak, ucapan Via benar-benar membuat kepercayaan diri Shera luntur seketika. Wanita itu tak dapat berkata-kata lagi. Wajahnya telah kusut bagaikan kanebo kering, sementara Via terus tersenyum cerah.
__ADS_1
"Kalau Mbak Shera sudah selesai bicara, aku harus masuk. Sudah waktunya Lyla tidur. Selamat malam." Tanpa permisi, Via berdiri dari duduknya. Ia melangkah meninggalkan Shera yang masih membeku di tempatnya.
*****