
Kehidupan kembali berjalan sebagai mana mestinya. Hari-hari dilalui Via dengan kebahagiaan melimpah. Mendapat kasih sayang dari suami dan mertua yang begitu memanjakannya. Memberi apapun tanpa Via meminta. Pun dengan Lyla yang kesehatannya semakin membaik.
Setelah beberapa minggu tak berkunjung ke panti asuhan tempatnya menghabiskan masa kecil, hari itu Via berkunjung ke tempat itu dengan membawa serta Lyla. Meskipun telah menikah dengan Wira, yang terbilang berasal keluarga yang sangat kaya, namun tak membuat Via melupakan dari mana asalnya. Setiap bulan ia akan mengirim sembako dalam jumlah yang sangat banyak. Begitu pun dengan kebiasaannya memberi uang pada Bu Retno untuk keperluan anak-anak panti.
Sambil mengawasi Lyla yang sedang bermain dengan anak-anak sebayanya, Via dan Bu Retno mengobrol di sebuah taman kecil.
"Syukurlah kalau keadaan Lyla semakin membaik, Nak. Ibu harap Lyla bisa sembuh dari sakitnya," ucap Bu Retno.
"Iya, Bu. Semoga nanti bisa dilakukan transplantasi sel induk. Hanya itu harapanku untuk kesembuhan Lyla."
Wanita paruh baya itu mengusap rambut Via yang telah dianggapnya bagai anak sendiri itu. Ia begitu kagum pada sosok Via yang begitu mencintai Lyla dengan sepenuh hati, walau pun Lyla bukan terlahir dari rahimnya. "Tuhan akan memberi jalan, Nak. Perjuanganmu dalam membesarkan dan merawat Lyla tidak akan sia-sia."
"Iya, Bu. Aku sangat berharap akan ada mukjizat untuk Lyla." Via mengusap perutnya yang kini sudah membesar. Ia tersenyum saat merasakan gerakan aktif dari dalam sana. Tak lama lagi, bayi berjenis kelamin laki-laki yang kini tengah dikandungnya akan segera hadir menghiasi hari-harinya. Doa dan pengharapan tak pernah hilang dari hatinya. Bahwa anak yang dikandungnya akan membawa kebaikan bagi semua orang, dan membawa keajaiban bagi Lyla.
"Kapan perkiraan persalinanmu?" tanya Bu Retno.
"Menurut perkiraan dokter dua minggu lagi, Bu. Tapi katanya bisa lebih cepat atau bahkan lebih lambat," jawabnya.
Diliriknya Lyla yang kini sedang bermain boneka dengan anak sebayanya. Walaupun kondisi Lyla masih terlihat lemah, namun tidak seperti dulu lagi, dimana ia hanya menjadi penonton saat anak lain sedang bermain. "Lyla, jangan lari-lari, Sayang! Nanti jatuh."
"Iya, Bunda."
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Via dan Bu Retno masih mengobrol di taman belakang saat terdengar suara keributan yang berasal dari arah depan. Juga terdengar suara berat seorang pria yang berteriak keras.
"Itu siapa, Bu?" tanya Via terkejut.
Bu Retno pun berdiri dari duduknya. Raut wajahnya yang tadi terlihat bahagia, kini telah memucat. Ia melirik Via sekilas, lalu mengusap bahunya. "Via, masuklah ke dalam kamar dulu, Nak. Bawa anak-anak. Ibu akan ke depan sebentar."
"Tapi, Bu ... itu siapa?"
"Sudah, kamu cepat masuk!" pinta Bu Retno.
PRANG!
__ADS_1
Terdengar suara pecahan kaca yang membuat Via segera berdiri dari duduknya. Ia melirik anak-anak yang juga tampak ketakutan.
"Cepat keluar, atau semua barang di rumah ini kami hancurkan!" teriak seorang pria dari luar.
Sesaat kemudian, terdengar lagi suara pecahan benda. Via sudah gemetar dibuatnya karena terkejut, sehingga Bu Retno segera memeluknya.
"Itu siapa, Bu? Mereka mau apa?" tanya Via.
"Mereka orang suruhan pemilik lahan ini, Via. Ibu akan keluar sebentar. Kamu tetap di sini dengan anak-anak, ya."
"Tapi, Bu--"
Bu Retno tak menyahut lagi. Ia segera keluar menuju ruang tamu, sementara Via masih mematung sambil memeluk beberapa anak panti yang ketakutan. Pun dengan Lyla yang sudah menempelkan tubuhnya dengan sang bunda.
Ruang tamu sudah terlihat sangat berantakan. Beberapa barang berhamburan kemana-mana berikut pecahan kaca yang berserakan di lantai. Bu Retno tampak sangat syok, mendapati beberapa pria bertubuh tinggi besar yang kini berdiri di hadapannya.
"Sudah berapa kali kami peringatkan untuk meninggalkan tempat ini. Bos kami sudah membeli lahan ini dari pemiliknya. Jadi cepat kosongkan panti asuhan ini!" bentak seorang pria.
"Maaf, Pak. Saya masih mencari rumah baru untuk kami pindah."
"Saya mohon beri saya waktu sedikit lagi, Tuan ..." ucap Bu Retno memohon.
"Tidak bisa! Tuan kami ingin agar panti asuhan ini dikosongkan dalam 24jam. Kalau tidak, semua barang yang ada di rumah ini akan kami hancurkan."
Di dalam sana, Via sudah sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Bu Retno, setelah mendengar keributan dari luar. Ia melepaskan Lyla yang sejak tadi dipeluknya bersama beberapa anak lain. Ia melirik salah seorang gadis remaja yang ada di sana. "Hana, bisa bantu kakak jaga adik-adik lain? Kakak mau lihat ibu di depan dulu. Tolong jaga Lyla juga, ya."
"Bisa, Kak," jawabnya sambil mengangguk. Ia menarik lengan Lyla agar mendekat padanya. Namun, semakin erat Lyla memeluk Via.
"Lyla takut, Bunda," lirihnya.
Via masih berusaha tersenyum. "Tidak apa-apa, Sayang. Bunda cuma sebentar. Lyla di sini dulu sama Kakak Hana. Nanti bunda kembali. Lyla mau dengar bunda, kan?"
Pelan-pelan, ia melepas tangan Lyla yang memeluknya, sehingga Hana segera membawa Lyla ke pangkuannya.
"Lyla sama Kakak Hana dulu, ya."
__ADS_1
"Iya, Bunda."
Dengan segera Via menuju ruang dimana terdengar keributan. Setibanya di sana, ia sangat terkejut mendapati ruangan tamu berantakan, sementara Bu Retno sudah menangis, berusaha menghalangi beberapa pria yang sedang merusak beberapa barang.
Kedua bola matanya pun membulat, saat menatap beberapa pria di depan sana. Ia masih ingat betul, salah satu dari mereka adalah anak buah Marco, yang pernah menyeretnya saat melarikan diri dari tempat hiburan itu. Via pun memberanikan diri untuk mendekat.
"Ma-maaf, Pak, ada apa ini? Kenapa kalian merusak barang-barang di rumah ini?" tanya Via.
Sepertinya pria bertubuh besar itu tak lagi mengenali Via. Dengan angkuh, ia segera menjawab pertanyaan itu.
"Pemilik lahan yang baru ingin agar panti asuhan ini segera dikosongkan. Kami sudah memberi peringatan sejak beberapa bulan lalu agar mengosongkan tempat ini. Tapi kenapa kalian masih di sini!" bentaknya.
"Tapi bukankah, lahan ini adalah tanah wakaf dari pemiliknya?" tanya Via.
"Pemiliknya sudah meninggal. Dan anaknya sebagai pewaris telah menjual lahan ini pada bos kami. Jadi cepat kosongkan tempat ini, karena bos kami akan membangun tempat hiburan di sini!"
Melawan rasa takutnya, Via berusaha menjelaskan pada pria itu. "Tapi tanah wakaf itu tidak bisa diperjual belikan. Lahan ini sudah menjadi hak anak-anak panti yang diberikan langsung oleh pemiliknya."
"Mana buktinya? Apa kalian punya sertifikat nya?" ujar pria itu menantang.
Via melirik Bu Retno seolah mencari jawaban, namun wanita paruh baya itu menjawab dengan gelengan kepala diiringi air matanya yang berderai, artinya Bu Retno tidak memiliki bukti kepemilikan lahan itu.
Via pun menunduk memikirkan sesuatu. Kini, yang ada di benaknya hanya meminta pertolongan pada suaminya.
Aku harus cepat menghubungi ayah atau Mas Wira. dalam batinnya.
Via hendak melangkah menuju sebuah kamar dimana tas dan ponselnya berada. Akan tetapi, terhalang oleh seorang pria. Tubuhnya pun kembali gemetar, saat seorang pria lainnya kembali melempar beberapa barang. Di sudut sana, Bu Retno masih berusaha memohon agar mereka tidak merusak apapun lagi.
"Tolong beri sedikit waktu lagi, Pak! Kami akan pindah hari ini juga," ucap Via memohon.
"Kami sudah cukup memberi kelonggaran waktu selama berbulan-bulan! Cepat kosongkan tempat ini!"
Via melirik ke sudut sana dimana salah satu pria itu hendak mendorong Bu Retno. Takut terjadi apa-apa pada wanita yang telah dianggapnya bagai ibu sendiri itu, ia segera berlari untuk menghalangi, namun pria itu sontak mendorongnya dengan kasar sehingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Via!!!" Teriak Bu Retno saat melihat Via meringis kesakitan memegangi perutnya.
__ADS_1