Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Kau Masih Sama Seperti Dulu, Pemaksa!


__ADS_3

Shera tertegun mendengar ucapan Surya. Air matanya kembali berderai. Jika saja dulu hal buruk tidak menimpa kedua orang tuanya, mungkin ia dan Surya sudah hidup bahagia tanpa harus terjebak pernikahan dengan Wira.


"Aku tidak layak untukmu. Aku hanya seorang wanita pendendam. Lagi pula penilaian semua orang tentangku sudah terlalu buruk. Mereka akan berkata kau bodoh kalau memilihku."


"Mereka hanya tidak mengenalmu," ucap Surya. "Lagi pula Tuan Gunawan sudah tahu semuanya. Aku sudah memberitahunya."


Terkejut, Shera menatap Surya dengan bola mata yang membulat. "Kau memberitahu semuanya?" tanya Shera diiringi anggukan kepala oleh Surya. "Bagaimana reaksinya? Apa dia marah, lalu memecatmu?"


Dengan seulas senyum, Surya menggeleng. "Tidak. Dia bilang, apa yang terjadi padamu adalah karena kesalahannya. Dia dan ayahmu yang memaksa menikahkanmu dengan Wira. Dia juga yang memintaku menyusulmu."


"Benarkah?" tanya Shera hendak memastikan.


"Ya. Jadi bagaimana tawaranku? Iya atau iya saja?"


Shera terkekeh pelan, dengan air mata yang berurai. "Kau masih sama seperti dulu, pemaksa."


"Ya ... aku tidak suka perubahan."


Kata sebagian orang, mereka yang menjadi jahat adalah orang baik yang tersakiti. Mungkin ungkapan itu tepat untuk Shera, seorang wanita biasa yang dulunya merupakan gadis baik dan ceria. Kehilangan kedua orang tua yang membuatnya terpuruk menjadikan hatinya penuh dendam.


Dendam memang hanya akan membawa kepuasan sesaat, namun dapat berujung penyesalan. Seperti yang dialami Shera sekarang. Namun, sebagai manusia biasa, ia pun berhak bahagia, bersama seseorang yang mencintai dan dicintainya.


******


_


_


_


_


Jika Shera sedang membangun kembali dunianya yang sempat hancur, maka di sisi lain ada sebuah keluarga yang sedang memperoleh kebahagiaan dengan kehamilan Via.


Malam hari di sebuah kamar, Via baru saja selesai membacakan dongeng untuk Lyla sebelum tidur.


"Bunda ..." panggil Lyla.


"Iya, Sayang."


"Bunda Syela bilang di peyut Bunda ada dede bayi Lyla, ya?" tanya nya sembari mengusap perut rata sang bunda.


"Iya, Sayang. Di sini ada adiknya Lyla."


"Kenapa dedenya syembunyi di peyut Bunda? Lyla kan mau main sama dede bayi."


Mendengar ucapan polos Lyla, Via hanya tertawa kecil, lalu mengecup kening gadis kecil itu. "Dede nya kan masih mau tumbuh. Nanti kalau sudah waktunya, dede bayinya juga keluar."


"Tapi kapan, Bunda?"


"Tujuh bulan lagi, Sayang. Lyla mau sabar menunggu kan?"


"Mau, Bunda."

__ADS_1


"Pintarnya anak bunda."


Sambil memeluk boneka usang kesayangannya, ia bersandar di dada sang bunda. "Lyla mau dede baby boy. Yang syama kayak Upin-Ipin, yang kepalanya botak."


Via tersenyum, seraya mengusap rambut gadis kecil itu. "Iya, Sayang. Kalau begitu, kita berdoa dulu ya ... Terus Lyla tidur."


"Iya, Bunda. Tapi Bunda bobo di sini ajah, ya ... Jangan sama ayah teyus."


Via hanya menyahut dengan senyuman. Ia mengusap rambut dan wajah Lyla hingga tertidur.


*******


_


_


_


_


_


_


_


_


Wira masih duduk selonjoran di pembaringan dengan sebuah laptop di pangkuannya, ketika Via baru saja masuk ke dalam kamar, selepas menidurkan Lyla. Wanita itu pun segera duduk di sisi sang suami, kemudian melirik dengan ekor matanya.


"Mas ..." panggil Via.


"Ehm ..." Wira menjawab dengan deheman tanpa menoleh. Yang membuat Via terdiam. Akhirnya, ia memilih meraih sebuah majalah dan membuka beberapa halaman, hingga menemukan gambar beberapa kuliner yang sejak tadi membuatnya uring-uringan.


Via terus memandangi gambar es krim itu, sesekali menelan saliva. Ia ingat, tadi siang meminta salah seorang yang bekerja di rumah itu membelikan es krim, namun tetap saja yang diinginkannya adalah es krim yang ada di gambar itu. Diliriknya kembali Wira dengan ekor matanya.


Mas Wira sedang banyak pekerjaan, ya? Beli es krim seperti ini dimana? batinnya. Ia menggeser posisi duduknya hingga kini menempel dengan tubuh sang suami, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu dengan manja.


"Mas ..."


"Ehm ... Apa?"


"Aku mau es krim," bisiknya pelan.


"Es krim?" tanya Wira dengan alis mengerut. "Sekarang?"


Via menyahut dengan anggukan kepala, tanpa melepas sebuah majalah yang masih berada di pangkuannya.


"Boleh, Sayang ... Es krim apa? Akan aku carikan."


Wajah Via yang tadinya mendatar menjadi berbinar. Dengan penuh semangat ia membuka lagi majalah itu, mencari gambar es krim yang membuatnya penasaran seharian.


"Es krim seperti ini, Mas!" jawabnya sambil menunjuk gambar.

__ADS_1


Wira menatap ke arah majalah itu, mengikuti gambar yang ditunjuk sang istri. Seketika kedua matanya membulat, dengan mulut sedikit menganga.


"Yakin, mau es krim itu?" tanya nya ragu.


Lagi-lagi Via mengangguk, yang membuat Wira mengusap wajahnya. "Es krim itu adanya di Singapura."


Seketika Via terbelalak saat mengetahui es krim yang sedang diinginkannya ternyata hanya dijual di luar negeri. "Singapura?" ucapnya terkejut. "Apa tidak ada di sini?"


"Tidak ada. Es krim yang ada di gambar itu hanya ada di Singapura. Di sini kan juga ada banyak kedai es krim, tapi bentuk dan rasanya mungkin tidak sama."


"Oh, aku pikir es krim itu tersedia di kota ini. Padahal aku benar-benar mau itu."


Sambil menghela napas panjang, Wira mengusap rambut sang istri. "Sayang, haruskah kita ke Singapura hanya untuk membeli es krim saja? Bukankah itu berlebihan?"


"Ya tidak juga, Mas." Via menutup majalah itu, kemudian menyimpannya kembali di meja nakas. "Tadi aku sudah minta orang membelikan es krim yang lain, tapi tetap saja aku penasaran dengan es krim yang di majalah itu. Aku pikir es krim nya ada di kota ini."


Raut wajahnya terlihat kecewa. Menahan ngidam bagi ibu hamil memang menyakitkan, terutama di awal kehamilan. Namun, Via berusaha untuk tidak memikirkan keinginannya. Ia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut, sementara Wira kembali terfokus pada layar laptop. Namun, hingga beberapa saat berlalu, Via tak kunjung dapat memejamkan mata. Bayang-bayang es krim dengan warna dan tekstur yang lembut itu terus menari-nari di benaknya.


Kenapa aku tidak bisa melupakan es krim itu? gumamnya dalam batin. Tak dapat memejamkan mata, ia memilih terbangun dan berjalan menuju pintu.


"Mau kemana?" tanya Wira.


"Mau ke bawah sebentar, Mas."


******


Ayah dan ibu masih berbincang-bincang di ruang keluarga ketika Via ikut bergabung. Wajahnya yang lesu dan tak bersemangat membuat kedua mertuanya bertanya-tanya dalam hati. Ibu mengusap rambut panjang Via saat wanita muda itu duduk di sisinya.


"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu lesu begitu?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, Bu," jawab Via dengan senyum seadanya.


"Kau tidak pusing atau mual? Biasanya wanita yang hamil muda mengalami ngidam."


"Tidak, Bu."


Wanita paruh baya itu kembali tersenyum sambil meneliti wajah menantunya yang lesu. "Kau tidak sedang ingin makan sesuatu? Kadang ngidam itu tidak bisa ditahan."


Via membalas tersenyum pada wanita yang duduk di sampingnya. Ingin memberitahu keinginannya, akan tetapi ia urungkan mengingat es krim yang diinginkannya berasal dari tempat yang jauh.


"Ada apa, Nak? Apa kau sedang menginginkan sesuatu? Beritahu suamimu, atau beritahu ibu saja kalau mau sesuatu."


"Sebenarnya aku sedang menginginkan es krim, Bu."


"Es krim?"


"Iya, tadinya aku mau es krim yang ada di majalah. Mas Wira bilang, es krim itu hanya ada di Singapura."


Mendengar ucapan menantu kesayangannya, ayah pun menyela. "Minta saja Wira membawamu ke sana untuk membeli es krimnya. Singapura kan tidak begitu jauh."


"Tidak usah, Ayah. Aku bisa membeli es krim yang lain saja. Lagi pula Mas Wira benar, terlalu berlebihan kalau hanya untuk beli es krim sampai ke Singapura...."


"Apa? Berlebihan? Bagaimana anak itu bisa bilang berlebihan saat istrinya sedang ngidam? Ngidam itukan bawaan bayi yang tidak bisa ditahan-tahan," ucap ibu membuat Wajah ayah yang mendatar mendadak berubah, terlebih saat sepasang netranya menangkap Wira yang baru saja menuruni tangga dengan santai tanpa rasa berdosa.

__ADS_1


"Wiraaaaa!!!" teriaknya.


__ADS_2