
Setelah aktivitas yang cukup menguras tenaga, kini Via sudah terbaring dalam pelukan sang suami. Masih dengan tubuh polos, sebab setelah membersihkan diri, Wira melarangnya menggunakan pakaian malam itu-- dengan alasan yang hanya Wira dan netijen yang tahu. ðŸ¤
Laki-laki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Ia kembali memberi kecupan sayang di kening, turun ke mata bergantian, kanan dan kiri. Pun dengan Via yang mendadak menjadi sangat manja.
"Kau lelah?" tanya Wira diikuti anggukan kepala oleh Via. Wanita itu terlihat masih mengatur napasnya yang memburu akibat kelelahan, dan dalam hitungan menit berangsur normal.
Pertama kalinya menjadi seorang istri yang sebenarnya, Via begitu malu setelah menyadari apa yang dilakukannya barusan. Meminta Wira menyentuhnya adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Via sebelumnya. Namun, kecemburuan membuatnya melupakan segala perasaan itu.
"Sayang, terima kasih. Kau sangat sexy ternyata," ucap Wira menambah rona merah di wajah Via.
"Jangan bicara begitu, Mas. Aku malu jadinya."
"Malu kenapa? Di sini tidak ada orang lain selain kita."
"Pokoknya aku malu!" Via menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, membuat Wira begitu gemas, dan akhirnya memeluk tubuh polos itu. Ia kecup ubun-ubun wanitanya itu dengan penuh kasih sayang.
Dalam hati bersyukur telah dipertemukan dengan seorang wanita luar biasa seperti Via. Seorang wanita yang tak hanya cantik dan lembut, namun juga memiliki keteguhan hati yang kuat. Via sangat berbeda dengan Shera yang bahkan tak pernah peduli apapun tentang Wira.
Tiba-tiba Wira teringat kembali semua sikap buruknya pada Via di awal pernikahan. Betapa ia dengan tega meninggalkan sang istri dan juga Lyla di sebuah kamar yang tidak layak, hanya karena tuduhan sebagai seorang wanita malam.
"Via ... bisakah kau memaafkan semua kesalahanku di awal pernikahan kita?"
Mendengar pertanyaan itu, Via mendongakkan kepala, menatap wajah suaminya itu. "Kesalahan yang mana, Mas?"
"Semuanya. Aku merasa terlalu jahat. Dan kau dengan mudahnya memaafkanku."
"Mas ... Aku tahu kenapa Mas Wira seperti itu. Bibi Arum sudah menceritakan semuanya sejak awal. Dan aku mengerti, Mas Wira juga hanya korban," ucap Via diikuti kecupan manis di bibir yang diberikan oleh Wira.
Tak ingin kehilangan moment kemesraan yang telah lama tak dirasakannya, Wira kembali memeluk tubuh sang istri. "Kalau begitu ayo kita lakukan sekali lagi," ajaknya dengan seringai misterius.
Via gelagapan, belum hilang rasa lelahnya karena perbuatan Wira, kini laki-laki itu sudah menginginkan lagi. Rasanya Via sudah tidak kuat jika harus melakukannya lagi.
"Aku lelah, Mas."
"Ayolah, sekali saja, Sayang! Tidak akan lama seperti yang tadi."
"Maaaasss ..." Via merengek manja saat tangan Wira kembali menjelajah. Dan sepertinya malam itu akan menjadi malam yang sangat melelahkan bagi Via, sebab Wira tidak akan melepaskannya semudah itu.
******
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
Pagi menjelang ...
Seperti biasa akan diawali dengan sarapan bersama. Ayah, ibu dan si kecil Lyla sudah duduk manis di meja makan. Namun, Wira dan Via belum juga terlihat.
"Lyla bisa makan sendiri, kan?" tanya Oma.
"Bisa, Oma. Bunda bilang, anak pintal halus makan sendili. Lyla kan anak pintal," jawabnya dengan suara menggemaskan, lalu melirik pria paruh baya yang duduk di sisinya. "Opa, nanti Lyla mau nonton ikan lumba-lumba ya ... kayak yang di tivi."
"Boleh, Sayang."
Tidak lama kemudian, Wira dan Via datang untuk bergabung di meja makan.
"Pagi, Ayah!" jawab Lyla.
Wira mengecup kening gadis kecilnya itu dengan perasaan bahagia, seolah mewakili rasa terima kasihnya sebab sepanjang malam Lyla tidur dengan sangat nyenyak, sehingga tidak menjadi orang ke tiga di antara ayah dan bundanya.
Berbeda dengan Wira yang terlihat begitu bersemangat, hal berbeda terjadi pada Via. Ia tampak sangat lesu dengan wajah agak pucat.
"Apa kau sakit, Via? Wajahmu pucat dan lesu," tanya ibu sembari meneliti wajah menantunya itu.
Via tersenyum, melirik kedua mertuanya bergantian, "Tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit lelah."
"Lelah?" tanya ayah dengan alis mengerut. Dan hal itu saja sudah membuat tatapan tajam terarah pada Wira.
Menyadari tatapan tak bersahabat sang ayah, Wira hanya mampu tersenyum pelik. Sudah pasti dirinya akan menjadi tersangka utama jika sesuatu terjadi pada menantu kesayangan di rumah itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh," ucap Wira membela diri. Namun, rupanya tatapan mengintimidasi itu tak juga berkurang.
"Jelaskan apa ini!" ucap ayah penuh ancaman. Mengingat semalam Wira pulang dengan wajah sangat kusut, dan tanpa permisi langsung kembali ke kamar. Bahkan ia tak menyapa ayah dan ibu yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga. Akhirnya, pria paruh baya itu menaruh curiga pada anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Pertanyaan ayah pun membuat Wira menghela napas panjang, lalu kembali menunjukkan senyum tipisnya. "Tidak terjadi apa-apa, Yah! Tenang saja, anak ke dua on the way!" jawab Wira membuat ayah dan ibu bernapas lega.
Mendengar ucapan frontal Wira, Via hanya mampu menunduk malu. Ingin rasanya menyembunyikan diri di kerak bumi terdalam. Wira tanpa rasa malu secara tak langsung mengakui kegiatan mereka semalam pada ayah dan ibu.
Sarapan pun berlangsung dengan diam nya Via akibat perasaan malu.
"Selamat pagi semua!" Terdengar suara seorang wanita, sehingga mereka yang berada di meja makan segera menoleh pada sumber suara.
Tampak Shera dengan senyum merekahnya. Ia mendekat ke arah meja makan tanpa rasa malu.
"Mbak Shera ... Mari ikut sarapan," ucap Via berusaha seramah mungkin.
Wira memutar bola mata pertanda malas, sementara Lyla yang duduk di antara Wira dan Via, sudah menempelkan tubuhnya dengan sang bunda. Wira pun segera meraih tubuh gadis kecil itu dan membawa ke pangkuannya.
"Jangan takut, Nak. Kan ada ayah di sini," bisiknya di telinga Lyla.
"Lyla tidak syuka Tante itu, Ayah," Lyla balas berbisik.
"Sama! Ayah juga tidak suka."
Walaupun Wira dan Lyla saling berbisik, namun masih dapat terdengar jelas oleh Shera yang akhirnya membuat raut wajahnya berubah kesal.
"Ayah, Ibu, dan Wira, maaf aku lancang kemari pagi-pagi. Tapi aku juga ingin dekat dengan anakku. Dan bagaimana aku bisa dekat dengannya kalau ada jarak di antara kami. Karena itulah, aku ingin sering-sering kemari. Tolong izinkan aku," ucap Shera.
Sejenak, ayah mengarahkan pandangannya pada Lyla yang masih begitu takut pada sosok ibu kandung nya itu. "Duduklah, Shera."
"Terima kasih, Ayah!" Shera menarik kursi, lalu duduk di sisi ibu. Ia berusaha tersenyum ramah pada Lyla.
"Untuk itu, kau harus minta izin pada Via."
"Tapi, Ayah ... Aku ibu kandung Lyla, aku juga punya hak. Apa aku hanya dibutuhkan sebagai pendonor Lyla saja, setelah itu kalian akan membuangku?" timpal Shera tak terima.
"Kau benar, kau adalah ibu kandung Lyla," ujar ayah. "tapi untuk sering bertemu dengan Lyla, kau harus minta izin pada Via. Via yang memiliki hak sepenuhnya atas Lyla. Karena dia yang membesarkan dan merawatnya selama ini. Kalau Via tidak keberatan, maka lakukanlah."
Rasanya udara di ruangan itu terasa sesak bagi Shera. Ia melirik tajam pada Via yang duduk di hadapannya. Sesaat kemudian, kedua bola matanya membulat, ketika kembali melihat tanda merah di sekitar leher Via yang sejak tadi berusaha ditutupinya dengan rambut. Shera pun sedang menebak dalam pikirannya, bahwa Wira dan Via telah melewati malam bersama. Wanita itu kemudian melirik Wira yang sedang saling berbisik dengan Lyla.
Apa Wira benar-benar sudah melupakanku dan menerima wanita ini?
****
Shera
__ADS_1