Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Berani Sekali Kau ...!!!


__ADS_3

Suara pecahan guci menggema, membangunkan Wira yang sedang tertidur. Masih dengan sisa kantuk, ia mengusap wajah beberapa kali. Perjalanan panjang dari luar kota membuatnya memilih pulang ke rumah untuk beristirahat sebentar, sampai akhirnya tertidur pulas. Ia bahkan tak menyadari keberadaan Via di rumah itu.


"Suara apa itu? Apa jangan-jangan ada pencuri yang masuk ke rumah ini," gumamnya.


Wira segera bangkit dari pembaringan, dan keluar dari kamar. Ia menuruni satu-persatu anak tangga sambil meneliti setiap bagian dari rumah itu. Hingga pendengarannya menangkap suara seperti tangisan yang begitu dikenalinya.


"Via ... Itu kan suara Via ... Dia kemari?"


Wira mempercepat langkahnya menuju sumber suara. Dan, kedua tangannya mengepal, dengan rahang menggeram. Saat penglihatannya menangkap Aldi yang sedang berusaha melecehkan Via. Kemarahan memuncak membuat Wira segera berlari dan menarik kerah kemeja Aldi sehingga laki-laki itu terhempas jatuh ke lantai. Ia kemudian meraih tubuh Via dan memeluknya. Bahkan Wira dapat merasakan seluruh tubuh Via yang gemetaran.


"Kau tidak apa-apa?"


Via tak sanggup lagi menyahut. Yang dilakukannya hanya menyembunyikan wajah di dada suaminya itu, dengan tangisnya yang tertahan.


Mata Aldi membulat, ia begitu terkejut menyadari keberadaan Wira di sana. Sebab setahunya Wira masih belum kembali dari luar kota. Laki-laki itu pun segera berdiri.


"Wi-Wira ... Aku pikir kau masih di luar kota," ucapnya ragu-ragu.


Tatapan Wira pun kembali tertuju pada Aldi. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Via, dan mendorong ke belakang punggungnya. Tanpa sepatah kata pun, Wira menyerang Aldi tanpa belas kasih. Bahkan ia tak memberi celah bagi Aldi untuk membalasnya.


"Berani sekali kau lakukan ini pada istriku!" teriaknya sembari melayangkan pukulan bertubi-tubi.


Aldi kembali tersungkur, ia mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya, lalu cepat-cepat laki-laki itu berdiri. Ia mencoba menahan Wira yang sedang dikuasai kemarahan.


"Wi-Wira jangan salah paham padaku!" ucap Aldi melangkah mundur ke belakang, dengan nada yang terdengar jelas ketakutan. "Dia yang memintaku kemari, makanya aku datang." Aldi menunjuk Via yang berada di belakang sana. Ia sedang berusaha memfitnah Via demi menyelamatkan dirinya dari amukan Wira.


"Dan kau pikir aku akan percaya?" Wira melirik Via dengan ekor matanya, kemudian kembali menatap tajam pada Aldi. "Kau bilang istriku yang memintamu kemari?" Ia terus melangkah maju, seiring dengan langkah Aldi yang terus mundur.


"Tenang dulu, Wira. Bukankah kau membenci wanita itu. Dia hanya seorang wanita penghibur."

__ADS_1


Mendengar Ucapan Aldi membuat darah Wira seakan mendidih. Ia kembali menyerang Aldi membabi buta.


Bugh Bugh Bugh


Pukulan demi pukulan terus mendarat di tubuh Aldi. Ia tak kuasa melawan Wira. Hanya satu yang ada di benaknya, bagaimana menghentikan Wira.


"Aku tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup dari rumah ini," bentak Wira penuh emosi.


"Wi-ra, hentikan!" Sekuat tenaga, Aldi mendorong Wira hingga mundur beberapa langkah. Ia melirik Via dan Wira bergantian, napasnya sudah mulai tersengal dengan beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit akibat dihajar Wira habis-habisan. "Kenapa kau membelanya? Bukankah kau sendiri pernah bilang tidak peduli pada wanita itu? Bahkan kau bilang jijik bersentuhan dengannya? Kau lupa semua kata-katamu?!" Aldi balas berteriak. "Kau juga bilang akan menceraikannya begitu urusanmu selesai kan?"


Via terdiam. Air mata yang sejak tadi ditahannya berguguran juga. Setiap kata yang terucap dari bibir Aldi bagaikan sembilu yang menorehkan luka di hati. Ia mundur ke belakang dan duduk memeluk lutut di sudut ruangan itu, dengan kepala telungkup sambil menangis.


Sedangkan Wira, masih dengan raut wajah menggeram, ia menarik kerah kemeja Aldi. "Aku memang pernah berkata begitu. Dan itu adalah kesalahan terbesar ku!" Ia kembali menghujani Aldi dengan tinjunya.


Aldi telah berlumuran darah, namun Wira seakan tak peduli. Raungan Aldi menahan kesakitan pun menggema. Masih dengan emosi meledak, Wira menuju sudut ruangan, dan mengambil sebuah guci. Ia hendak melemparkan ke kepala Aldi, namun suara tangisan ketakutan Via menyadarkannya.


Ia menjatuhkan guci itu dan melirik ke arah sudut ruangan dimana Via bersembunyi. Tak ingin Via semakin ketakutan, Wira mencoba meredam amarahnya dengan menghela napas beberapa kali.


Dengan sisa tenaganya, Aldi berusaha berdiri. Ia mengusap beberapa bagian tubuh, juga wajahnya. Kemejanya yang berwarna putih telah dipenuhi bercak darah.


"Kau akan menyesal, Wira!" ucapnya dengan napas tersengal, lalu menyeret langkahnya yang sempoyongan, keluar dari rumah itu. Ia bahkan membanting pintu dengan keras.


Wira pun segera menuju sudut ruangan, dimana Via berada. Ia berjongkok di depan sang istri dan mengusap rambutnya.


"Sayang ..." Diraihnya tubuh Via dan memeluknya. Tangis Via akhirnya pecah. Hari itu ia menyadari, keputusannya untuk masuk ke dunia malam akan menodainya seumur hidup. Via mungkin seorang wanita baik, namun dalam pandangan beberapa orang, ia tetaplah seorang wanita malam yang ternistakan. Terlebih, ucapan Aldi yang terus terngiang di benaknya. "tenanglah, kau aman sekarang."


Hingga beberapa menit berlalu, Via masih gemetaran. Wanita itu mulai sesegukan. Sementara Wira masih terlihat berusaha mengurai kemarahannya. Wira akhirnya memilih menggendong Via, dan membawanya menuju kamar yang berada di lantai atas.


Setibanya di kamar, ia membaringkan Via di sana, lalu memeriksa bagian tubuh, jengkal demi jengkal. Hendak memastikan apakah ada yang terluka atau tidak. Beruntung, hanya ada sedikit memar di lutut akibat terjatuh. Wira merapikan rambut yang menutupi wajah sang istri. Bekas tamparan Aldi masih terlihat jelas memerah di wajahnya, juga sisa darah yang terlihat di sudut bibir. Melihat itu, seluruh tubuh Wira seakan kembali terbakar oleh kemarahan.

__ADS_1


Ia segera menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air. Bahkan dinginnya air yang terasa meresap di kulit tak cukup mampu mengurangi emosi di jiwanya. Wira bersandar di dinding. Setidaknya ia masih bersyukur, karena rencana memberi kejutan untuk Lyla dan Via sehingga membuatnya memilih kembali lebih awal, meninggalkan Ivan yang masih berada di luar kota.


Beberapa saat kemudian, Wira keluar dari kamar mandi dan mendekat pada Via yang masih terbaring di sana. Ia memperhatikan raut wajah sang istri dengan tatapannya yang kosong. Tidak ada suara, yang ada hanya air mata yang enggan berhenti mengalir.


Malam itu, untuk pertama kalinya Wira memberi perhatian lebih pada Via. Dengan sehelai handuk basah, ia mengusap wajah sang istri yang terlihat memar. "kau mau pulang ke rumah ayah?"


Dengan tangis yang tertahan, Via menjawab, "Aku tidak mau Lyla melihatku dalam keadaan begini. Dia akan merasa takut."


Begitu saja, Wira kembali menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Maaf ... Semua ini salahku. Seandainya saja sejak awal aku memperlakukanmu dengan baik, dia tidak akan seberani ini."


**********


_


_


_


_


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ketika Via masih terbaring. Sedangkan Wira masih duduk selonjoran di sisinya sambil memainkan ponsel, dan satu tangannya membelai wajah Via.


"Aku sudah menghubungi ibu. Katanya tadi Lyla rewel. Tapi sekarang sudah tidur lagi. Aku bilang kau akan menginap di sini," ucap Wira membuat Via mengangguk pelan.


Wira meletakkan ponselnya di meja nakas, setelah urusannya dengan seseorang yang sejak tadi berkirim pesan dengannya selesai. Ia membaringkan tubuhnya di sisi Via dan menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Dalam balutan selimut tebal, Wira memeluk Via dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Sesekali, ia mengecup kening wanitanya itu.


Wira pun berbisik pelan, "Jangan khawatir. Aku akan mengatasi bajingann itu, supaya dia tidak bisa mengganggumu lagi."

__ADS_1


Via membenamkan wajahnya di dada sang suami. Mencari ketenangan di sana. Wira pun semakin mengeratkan pelukannya.


******


__ADS_2