Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Harapan satu-satunya.


__ADS_3

"Bu, tolong bawa Lyla ke taman belakang dulu. Aku harus bicara dengan anak ini!" ucap Tuan Gunawan sambil menatap geram pada Wira.


Bahkan tatapan tajam itu terasa mampu membelah tubuh Wira menjadi dua bagian.


Menyadari keadaan, ibu dan juga Bibi Arum pun segera membawa Lyla menuju taman belakang, untuk memberi makan ikan yang merupakan kegiatan yang paling disukai oleh Lyla.


Wira yang sudah menebak bahwa tersangka utama jika Via lecet sedikit saja adalah dirinya, hanya dapat berpasrah. Lagi-lagi dirinya harus menjadi tumbal kemarahan sang ayah. Namun, ia tetap berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya.


"Ayah, ini bukan aku yang--" Belum selesai Wira menjelaskan, namun sudah dipotong oleh sang ayah.


"Jangan membela diri!" bentaknya, "kau tidak berubah, Wira. Jadi karena ini kau meminta Via menginap di rumahmu, hah?" Suara Tuan Gunawan menggelegar di ruangan itu.


Mendengar ucapan ayah, Wira dan Via hanya saling melirik bingung. Akhirnya Via mencoba menjelaskan, agar kesalahpahaman tidak terjadi.


"Ayah, tapi ini bukan Mas Wira yang melakukannya," ucap Via menundukkan kepala.


"Via, jangan terus membelanya, Nak. Wira sudah keterlaluan seperti ini dan kau masih saja membelanya."


Wira menghela napas panjang mendengar tuduhan yang terus terarah padanya. Jika dulu dirinya yang terus salah paham tentang kedekatan Via dan ayahnya, kini segalanya malah berbalik. Sang ayah yang kini terus salah menduga dan menuduh Wira yang macam-macam.


"Yah, bukan begitu. Aku bisa jelaskan." Wira masih mencoba membela diri.


"Apa lagi yang mau kau jelaskan!" Ayah menarik Via ke belakang punggungnya. Pria paruh baya itu tidak akan rela jika siapapun menyakiti menantu kesayangannya, sekali pun pelakunya adalah anaknya sendiri.


Wira melirik Via dan ayah bergantian. Akhirnya, ia memilih mengajak ayah berbicara berdua dengan di ruang kerja, dan meminta Via ke taman belakang menyusul Lyla.


***


_


_


_


_


Dengan tangan terkepal dan raut wajah terlihat geram, pria paruh baya itu menatap layar ponsel milik Wira, yang berisi rekaman CCTV penganiayaan Aldi pada Via. Tadi sebelum meninggalkan rumahnya, Wira sempat memindahkan rekaman CCTV ke ponselnya sebagai barang bukti untuk laporannya ke kantor polisi.


"Bukankah ini adalah Aldi, temanmu? Pemilik perusahaan Aplus Mandiri?" tanyanya.


"Iya, Ayah. Dia juga yang mengejar Via saat ayah menolongnya di hotel."


"Apa?" Tuan Gunawan terbelalak, kemarahan seakan telah membakarnya. "Jadi laki-laki ini yang mengejar Via malam itu?" tanyanya diikuti anggukan kepala oleh Wira.


"Iya, Ayah. Dan dia masih terus mengejar Via. Dia bahkan membatalkan perjalanan bisnisnya keluar kota hanya untuk bisa mendekati Via. Untung saja semalam aku sudah pulang. Jadi tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk."

__ADS_1


"Kurang ajar! Berani sekali dia melakukan ini pada menantuku," gerutunya penuh emosi, lalu kembali menatap tajam pada Wira. "Dan kau sendiri tidak berbuat apa-apa? Suami macam apa kau ini?"


Wira tidak menjawab. Tidak ingin sang ayah mengetahui apa yang telah dilakukannya pada Aldi, ia memilih diam. Jika saja bukan karena Via yang menangis ketakutan, mungkin Wira sudah gelap mata dan akhirnya menjadi seorang pembunuh.


"Aku baru akan melaporkannya pada pihak berwajib. Tapi aku perlu menunjukkan rekaman itu pada ayah lebih dulu."


"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengurus orang ini."


Tanpa banyak bicara lagi, Tuan Gunawan meraih ponsel dari saku jasnya dan menghubungi seseorang. Jika sudah seperti itu, maka Wira atau siapapun tidak akan mampu berbuat apa-apa.


Wira bahkan tak mau menebak apa yang akan dilakukan sang ayah pada Aldi, mengingat seberapa berkuasanya seorang Tuan Gunawan. Bahkan ia mampu membuat perusahaan kecil milik Aldi bangkrut hanya dalam sehari saja.


Hingga beberapa saat kemudian, Wira baru akan mengutarakan sesuatu yang sedang menjadi beban pikirannya.


"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan Ayah." Raut wajah Wira sudah berubah serius.


"Apa itu?"


Terdiam beberapa saat, Wira belum sanggup berkata-kata. Ucapan dokter tadi pagi masih jelas terekam di benaknya.


"Tadi aku dan Via ke rumah sakit. Hasil pencocokan sumsum tulang belakang sudah keluar. Dokter bilang, aku tidak bisa menjadi pendonor untuk Lyla," ucap Wira. Ia terlihat sedih setelah mengucapkan kalimat itu. Begitu pun dengan ayah yang terlihat begitu terkejut. Walau pun sebelum tes dilakukan, para dokter sudah menjelaskan bahwa kemungkinan kecocokan tidak begitu besar.


"Bagaimana dengan hasil tes DNA nya?"


"Positif. Lyla memang benar anakku. Tapi walaupun begitu, aku tetap tidak bisa menjadi pendonornya."


"Dokter Willy pernah bilang padaku. Ada satu cara yang bisa di tempuh, seandainya saja Lyla punya seorang adik, kita bisa mendapatkan dari plasentanya. Tapi walaupun aku dan Via punya anak lagi, kemungkinannya tidak akan sebesar seorang anak yang berasal dari ayah dan ibu yang sama."


"Jadi maksudmu?"


"Shera. Dia harapan kita satu-satunya untuk saat ini," ucap Wira menatap ayahnya. "Tapi kita tahu seperti apa Shera. Dia bahkan tidak menginginkan kehadiran Lyla. Karena itu dia membuangnya. Dia tidak akan mau menjadi pendonor untuk Lyla."


Pria paruh baya itu menghela napas, dengan mata terpejam. Bayangan Shera kembali bermunculan di benaknya. Betapa dahulu ia sangat menyayangi seorang gadis yang dipilihnya sebagai menantu, namun kasih sayangnya dibalas dengan pengkhianatan yang akhirnya menghancurkan keluarganya selama bertahun-tahun. Hingga kehadiran Via yang bagaikan oase di gurun pasir.


"Baiklah. Kalau begitu berikan alamat Shera padaku."


Raut wajah Wira pun berubah mendengar ucapan sang ayah. "Ayah mau menemuinya?"


"Kita tidak ada pilihan lain, Nak. Aku akan coba membujuknya."


"Itu akan percuma, Ayah. Shera tidak akan mau. Dia bilang padaku tidak peduli pada Lyla." Seketika bola mata Wira dipenuhi cairan bening mengingat semua perbuatan Shera. "kasihan anakku, yang harus terlahir dari seorang ibu seperti Shera. Dia benar-benar tega melakukan itu pada anaknya sendiri." Wira mencoba menepis perasaan sakit yang selama bertahun-tahun membelenggunya.


"Setidaknya kita harus mencoba demi Lyla."


"Aku tidak yakin, Ayah."

__ADS_1


"Aku yang akan menemuinya. Akan kuberikan apapun yang dia inginkan asal mau menyelamatkan Lyla."


"Kenapa Shera setega ini? Sedangkan Via, dia rela melakukan apapun hanya demi anak yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan bodohnya, aku pernah menyakitinya." Rasa sesal Wira yang begitu besar membuat genangan air di pelupuk matanya.


Tuan Gunawan pun menepuk bahu anaknya itu, "karena itu cintai Via dan jangan pernah menyakitinya lagi. Dia layak untuk bahagia. Dan kau, lupakanlah kenangan tentang Shera," ujarnya membuat Wira mengangguk pelan.


***********


Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Man teman apa kabarrr???


Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih atas dukungan kalian untuk tulisanku yang amburadul bin amatiran ini. Kalian Luar Biasaaaa


Seiring dengan dunia nyataku yang sudah mulai sibuk, maka aku nggak bisa menamatkan novel ini dalam sebulan seperti janjiku waktu itu. Hiks Hiks... Tapi jangan khawatir, aku akan tetap update setiap hari buat kalian. dan pemenang Give away akan tetap diumumkan tanggal


01 April 2021


Bagi yang mau ikutan masih ada kesempatan, caranya adalah, dengan memberi hadiah sebanyak-banyaknya. Seperti gambar di bawah ini :


Kalian tinggal traktir otor pake Bunga atau kopi sebanyak banyaknya.



Batas waktu pemberian hadiah, adalah sampai tanggal


31 Maret 2021 jam 23. 59 wib. 🤭


Tiga top fans akan mendapatkan sedikit reward dari otor berupa.


Urutan pertama uang tunai 200k


Urutan kedua uang tunai 100k


Urutan ketiga uang tunai 50k


(akan dikirim ke nomor rekening masing-masing)


Pemberi hadiah terbanyak Urutan ke 4, 5 dan 6 akan mendapat Pulsa masing-masing senilai 25k


Dan jangan lupa, di episode terakhir novel ini, otor tetap akan memilih beberapa komentar paling menarik yang akan mendapatkan give away dari otor. dalam bentuk apa? otor masih mikir enaknya apa. Jadi tetaplah berada di jalur sesat. eh, maksud akohh, tetaplah membaca novel ngaco ini sampai end karena aku akan tetap menulis dan nggak akan pindah lapak


hehe...


Sekian dan terima kasih... lope lope sekebon tobelinya Viaa.

__ADS_1


Wassalam


__ADS_2