
Setibanya di kamar, Via membantu Wira melepas jas dan dasinya. Posisi keduanya yang begitu dekat membuat irama jantung Via seakan berpacu lebih cepat. Ia terpaku menatap Wira, seseorang yang baginya memiliki ketampanan yang nyaris sempurna. Dalam batinnya masih ada sekelumit pertanyaan, mengapa Shera meninggalkan Wira dan keluarganya. Padahal mereka adalah orang yang sangat baik.
Selama beberapa saat, Via dan Wira saling tatap, hingga tanpa sepatah kata pun Wira memeluk sang istri. Erat, seakan pelukan itu mampu menjelaskan betapa berartinya Via baginya. Bahkan Via belum dapat berkata-kata sebab tidak biasanya Wira bersikap seperti ini.
"Kau tidak apa-apa?" tanya nya tanpa melepas pelukan.
Via masih bingung. Pikirannya di selimuti pertanyaan. "Maksud Mas Wira apa? Memangnya aku kenapa, Mas?"
Wira melepas pelukannya, lalu merapikan anak rambut yang menutupi wajah sang istri. Ia kemudian mengecup keningnya, dalam dan lama.
"Shera tidak bicara yang kasar padamu, kan?"
"Tidak, Mas. Mbak Shera baik."
Mendengar jawaban Via, membuat Wira tersenyum, baginya Via seperti malaikat tak bersayap. Memiliki hati yang begitu lembut. "Sayang ... aku mengenal Shera lebih dari siapapun. Aku takut dia akan memperlakukanmu dengan buruk."
"Tidak, Mas. Malah aku merasa kasihan, sepertinya dia sangat sedih dan menyesal. Lyla menolaknya, dan bahkan tidak mau disentuh oleh Mbak Shera."
Sambil membelai wajah Via dan tanpa rasa berdosa, Wira berkata, "Biar saja. Itu akibat perbuatannya sendiri. Ibu macam apa yang tega membuang bayinya yang baru lahir?"
Via terdiam. Ingatannya menerawang ke masa empat tahun lalu, ketika ia menemukan Lyla di dalam sebuah kardus. Bahkan saat itu Lyla dalam keadaan sangat lemah dan pucat karena terlalu lama kedinginan di luar. Mengingat semua itu membuat air mata Via mengalir. Sebab setiap teringat Lyla, ia akan merasa bercermin pada dirinya, yang juga dibuang oleh orang tuanya.
"Aku juga punya nasib yang sama seperti Lyla. Aku juga dibuang orang tuaku," lirih Via membuat Wira kembali memeluknya.
"Sudah, jangan sedih lagi. Sekarang kau tidak sendiri. Kau punya aku, ayah, ibu dan Lyla."
"Iya Mas."
Wira mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu, "Lyla dimana?"
"Di kamarnya bersama bibi."
"Baguslah! Aku mau mandi dulu. Tolong siapkan pakaianku."
Wira masuk ke kamar mandi setelahnya. Sedangkan Via membuka lemari dan menyiapkan pakaian ganti.
Tak berselang lama, Wira keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang. Tanpa sepatah kata pun, ia meraih tubuh Via dan menggendongnya menuju tempat tidur. Gelagapan, Via meronta-ronta meminta diturunkan.
__ADS_1
"Mas, mau apa? Turunkan aku, Mas!"
"Tidak mau!" Wira kemudian membaringkan Via di sana, lalu ikut berbaring. Ia mengunci tubuh sang istri sehingga tidak dapat melarikan diri darinya. Kedua tangan Via menahan dada Wira, ketika Wira berusaha mendekatkan wajahnya, hendak memberi ciuman pada istrinya itu.
"Mas ..."
"Kenapa? Mumpung kita sedang berdua. Biasanya Lyla menjadi orang ketiga di antara kita."
Tak ingin kehilangan kesempatan berduaan, Wira menyerang Via dengan kecupan-kecupan mesra. Hangat dan lembut, yang membuat keduanya begitu terbuai. Wira bahkan sedang melepas satu-persatu kancing pakaian Via, hingga terbuka sebatas dada. Menatap buah strawberry yang baginya sangat indah, membuat Wira tidak tahan.
"Mas ..." bisik Via berusaha melepas tangan Wira yang kini sedang bermain di perkebunan buahnya.
"Ssttt! Diam!" Wira membungkam Via dengan satu ciuman di bibir.
Via yang masih setengah sadar, akibat ulah Wira kembali berusaha melepaskan diri.
"Tapi, Mas ..." bisiknya lagi. Suaranya yang bercampur desahan membuat Wira semakin bersemangat. Wajah, leher dan dada tidak lepas dari sentuhannya.
"Tidak ada tapi-tapian!"
"Mas, tapi aku masih ---"
Via menggeliat, ketika tangan jahil Wira menyusup, hendak memetik buah strawberry miliknya, yang membuat Via memejamkan mata. Keduanya kembali larut dalam ciuman mesra. Hingga ....
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat ciuman itu terhenti. Keduanya pun saling tatap dengan wajah merona merah. Via gelagapan, ia mendorong tubuh Wira yang berada di atasnya, membuat laki-laki itu menggaruk kepala kesal.
Buru-buru Via bangkit, lalu berdiri di hadapan cermin, ia membenarkan rambut serta pakaiannya yang berantakan karena ulah sang suami, sedangkan Wira memilih masuk kembali ke kamar mandi. Mungkin mandi dapat mengurangi rasa kesalnya.
Pintu terbuka, tampak Bibi Arum berdiri di ambang pintu dengan senyum ramahnya. "Mbak Via, makan malam sudah siap. Tuan dan nyonya sudah menunggu di bawah."
"Iya, Bi' ... Terima kasih, aku akan segera turun."
*****
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
Dengan bergandengan tangan, Wira dan Via menuju meja makan, dimana seluruh keluarga dan juga Shera sudah berada di sana.
"Maaf membuat menunggu," ucap Wira sesaat setelah kedatangannya. Ia menarik sebuah kursi, agar Via dapat duduk di sana.
Sedangkan si kecil Lyla yang sedang berada di pangkuan opa, langsung mengulurkan tangan meminta untuk duduk di sisi bundanya.
"Lyla mau duduk sama bunda, Opa." Dengan senyum cerianya, gadis kecil itu beranjak menuju kursi dimana Via sedang duduk, membuat Shera merasa tersisih. Bahkan wanita cantik itu belum dapat memeluk Lyla sama sekali, karena Lyla terus menolak walaupun oma dan opa nya sudah membujuk dengan berbagai cara.
Tuan Gunawan kemudian melirik satu persatu beberapa orang yang kini berada di hadapannya. Tatapannya tertuju pada Wira. Ia menyenggol kaki anaknya itu di bawah meja, membuat Wira segera menoleh padanya.
"Ada apa, Yah?" tanya Wira heran.
Pria paruh baya itu menghela napas, lalu memberi kode dengan menunjuk bibirnya sendiri. Wira yang langsung mengerti maksud kode itu, segera mengusap bibirnya dengan jari. Ada bekas lipstik Via di sana. Wira melirik Via sekilas, yang akhirnya membuat wajah istrinya itu bersemu merah, saat pandangan semua orang tertuju pada mereka.
Ya ampun! Bagaimana ini? Aku sangat malu. ucap Via dalam batin.
Berbeda dengan Via yang terlihat sangat malu, Wira malah begitu santai. Ia meraih selembar tissue lalu mengusap bibirnya, kemudian melirik sang ayah dan tersenyum lebar.
"Maaf ..." ujar Wir tanpa rasa berdosa.
Laki-laki itu bahkan tidak begitu peduli tentang keberadaan Shera di sana. Ayah pun hanya menyahut dengan senyum tipis. Kini ia dapat bernapas lega, setelah meyakini hubungan Wira dan Via sudah semakin membaik.
Jangan tanya reaksi wanita yang duduk tidak jauh dari mereka. Wajah Shera sudah sangat kusut. Melihat adanya bekas lipstik di bibir Wira membuatnya merasa terbakar. Ia melirik Lyla yang duduk di hadapannya. Sikap manja Lyla, perhatian mertua dan juga kemesraan yang ditunjukkan Wira pada Via benar-benar bagai sayatan sembilu baginya.
Seharusnya aku yang ada di posisi itu. Bukan dia ...
__ADS_1
******