Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
TEMAN DURJANA!!


__ADS_3

"Hahahahha ..."


Terdengar tawa menggelegar Dokter Willy yang menggema di sebuah cafe. Wira baru saja memberitahunya tentang julukan suami durjana yang disematkan sang ibu untuknya. Alih-alih kasihan, Willy dan Ivan malah tertawa terbahak-bahak.


"Jadi sainganmu dalam membahagiakan Via bertambah, ya ... Kemarin Evan, sekarang ayahmu. Apa kau sadar kalau sainganmu berat-berat?" Willy kembali memanas-manasi Wira tanpa mempedulikan ekspresi wajah sahabatnya itu.


"Diamlah! Kalian menyebalkan!" gerutunya.


Tak peduli apapun yang dikatakan Wira, Willy terus tertawa.


"Itu kan salahmu sendiri," ucap Ivan menambahkan. "kau ingat, dulu kau menuduh Via sembarangan. Kalau aku jadi Via, aku tidak akan memaafkanmu. Jadi tidak salah kalau kau dijuluki suami durjana, karena itu memang benar."


Mendengus kesal, Wira hanya memelototi dua makhluk menyebalkan di depannya. "Jadi kita mau apa di sini?" tanya Wira.


"Ah iya, aku hampir lupa." Ivan mengeluarkan sebuah kartu undangan dari saku jaketnya, lalu menggeser ke atas meja, sehingga Wira dan Willy dapat melihatnya. "Beberapa hari lalu aku bertemu Surya dan Shera. Mereka memberiku ini. Aku hampir tidak percaya mereka akan menikah dalam waktu dekat."


Sama seperti Ivan, Willy pun sangat terkejut saat membaca nama yang tertera pada kartu itu, berbeda dengan Wira terlihat biasa-biasa saja. "Aku sudah tahu soal itu. Tapi aku juga belum dapat undangannya."


Ucapan Wira sontak membuat Willy dan Ivan terkejut. "Kau sudah tahu?" tanya mereka bersamaan.

__ADS_1


"Iya. Ternyata mereka pernah menjalin hubungan sebelum aku menikah dengan Shera. Aku rasa karena itulah Surya dulu sangat membenci Shera."


Willy meraih kartu undangan itu, hendak memastikan ia tidak salah membaca nama. "Ya ampun, benar. Surya dan Shera ..."


"Mereka sudah minta izin ayah, aku juga Lyla. Aku harap mereka akan bahagia dengan kehidupan mereka selanjutnya. Kami sudah terlalu lama saling menyakiti."


"Ya, itu benar."


Willy kemudian meletakkan kembali kartu undangan itu di atas meja, membuat Wira meneliti sebuah logo yang berada di sampulnya, terukir indah dengan tinta berwarna keemasan.


"Bukankah ini logo The Keong Kembar Cafe?" tanya Wira menunjuk logo yang berada di sampul kartu."


"Aku baru tahu, kalau dokter abal-abal itu punya bisnis yang banyak," ucap Wira.


Mendengar itu, sepertinya si jahil Willy punya senjata baru untuk memanas-manasi Wira. Ia tersenyum misterius menatap laki-laki itu.


"Kau baru sadar kalau sainganmu sangat berat? Ervand Azkara bukan orang sembarangan. Dia itu low profile high profit. Kalau melihat kesehariannya, kau akan mengira dia hanya seorang calon dokter biasa. Karena dia tidak seperti kebanyakan orang kaya yang suka pamer."


"Apa peduliku?" ucap Wira tak peduli. "Lagi pula Via sudah menjadi milikku." Ia tersenyum bangga. Sementara Willy hanya mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Mendengar perdebatan Wira dan Willy, Ivan hanya mampu berdecak. "Karena itulah aku memintamu kemari, Wira."


"Jadi kau memintaku kemari hanya untuk menunjukkan potensi si Keong laknat itu?" Wira mulai tersulut emosi.


"Bukan itu," sahut Ivan. "Kalau kau izinkan, ibu mau minta bantuan Via untuk men-design gaun yang akan dikenakan Shera."


"Tidak boleh!" Wira menyahut dengan cepat. "kalau Via membantu ibumu, dia akan sering bertemu dengan manusia keong itu!" ucap Wira tak terima.


"Dasar posesif. Bilang saja kau takut kalah saing." Sekali lagi, Willy meledek Wira.


Tak tahan dengan ocehan dua temannya, Wira akhirnya mengangkat satu tangan, memberi kode pada seorang pelayan kafe, sebab sejak tiba mereka belum memesan apapun.


Seorang wanita kemudian mendekat dengan membawa catatan. "Selamat malam, mau pesan apa?" ucap wanita itu dengan ramah.


"Double ekspresso tiga, kalau bisa yang dua beri tambahan arsenik, sianida atau endrin, agar mulut mereka bisa diam," ucap Wira pada pelayan kafe, membuat Ivan dan Willy memelototkan mata.


"Kau memang teman durjana." gerutu Willy.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵

__ADS_1


__ADS_2