
"Kapan istriku akan dipindahkan ke ruang perawatan?" tanya Wira sesaat setelah memasuki ruang IGD. Via dan Evan seketika menoleh pada sumber suara.
Tak tahan menyaksikan drama bisik-bisik antara Via dan Evan membuat Wira akhirnya memilih masuk ke dalam.
"Sekarang," jawab Evan sembari memasukkan sebuah buku catatan kecil ke dalam sakunya. Ia sadar akan tatapan Wira yang tak pernah ramah padanya.
"Lalu kenapa belum dipindahkan juga, malah bisik-bisik."
Evan hanya melirik Wira dengan ekor matanya, lalu terlihat menghela napas panjang sambil berdecak. "Via, apa tenggorokanku masih sakit?" tanya Evan.
"Masih," jawab Via dengan suara serak, yang terdengar seperti suara bisikan saking lemahnya. Bahkan nyaris tak terdengar.
Menyadari itu, Wira memejamkan mata. Semakin besar rasa bersalahnya pada Via. Ia baru saja salah sangka dengan mengira sang istri begitu dekat dengan teman pria nya. Padahal suara Via yang nyaris tak terdengar membuat Evan harus mendekat, agar dapat mendengar dengan jelas suaranya.
"Kau lihat sendiri, suaranya hampir tidak terdengar."
Wira kembali melayangkan tatapan tak suka nya pada Evan. Namun, tak sedikit pun Evan terpancing. Laki-laki itu tetap tenang seperti biasanya.
"Dasar posesif." Evan bergumam, namun dapat terdengar jelas oleh Wira. "Via, apa kau bisa bangun sendiri dan pindah ke brankar di sebelah mu? Perawat akan membawamu ke ruang perawatan."
"Bisa." Dengan gerakannya yang sangat lemah, Via hendak bangkit dari posisi berbaring nya, namun Wira segera meraih tubuhnya.
"Jangan banyak bergerak dulu. Biar aku gendong saja," ucap Wira.
"Aku bisa, Mas!" bisiknya.
"Jangan. Dokter Willy bilang kau tidak boleh banyak bergerak."
__ADS_1
Wira pun menggendong Via ke pembaringan di sebelahnya, sementara Evan diam mematung memperhatikan gerak-gerik Wira yang baginya sangat posesif.
*****
_
_
_
_
_
_
_
"Kau butuh sesuatu?" tanya Wira saat melihat Via membuka matanya.
"Tidak, Mas," jawabnya lemah nyaris berbisik, membuat Wira harus mendekatkan telinganya. "Mas tidak istirahat?"
Sambil tersenyum, Wira menjawab, "Aku mau menjagamu."
Via menggeser posisinya, lalu meminta Wira ikut berbaring di sana, sehingga mereka berbagi tempat tidur yang sempit itu.
Wira meraih jemari sang istri, kemudian mengecup punggung tangannya. Kedua bola matanya kini telah berkaca-kaca, menyadari kesalahannya. "Kau pasti sedih karena aku, sampai terjadi hal seperti ini. Maaf, aku kurang peka dan malah bicara sembarangan. Aku sudah meminta orang menyiapkan tiket ke Singapura untuk kita. Sekarang, kau boleh memberiku hukuman."
__ADS_1
Via menggeleng pelan, "Tidak semua permasalahan rumah tangga bisa selesai dengan saling menghukum, Mas. Aku sedih bukan karena es krim itu. Aku sudah tidak menginginkannya lagi." Ia menyandarkan kepala di dada suaminya itu. "Aku sedih karena merasa tidak punya tempat di hati Mas Wira. Dan lagi, aku sudah membuat ayah dan ibu marah pada Mas Wira, padahal seharusnya aku menutupi apa yang kurang dari diri suamiku."
Wira menangkup wajah Via, memberinya kecupan sayang di kening, dan kedua matanya bergantian, kanan dan kiri. Ia kemudian menatap dalam-dalam mata sayu istrinya itu.
"Kata siapa kau tidak punya tempat di hatiku? Kau punya tempat yang sangat istimewa dan tidak akan pernah terganti. Dan maaf, aku kurang bisa mengungkapkan perasaan ku dengan cara yang benar. Aku bukan seorang laki-laki yang romantis."
Mendengar ucapan Wira, Via hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau sudah pernah dengar cerita tentang pernikahanku dengan Shera, kan?" tanya Wira diiringi anggukan kepala oleh Via.
"Mas Wira belum bisa melupakan Mbak Shera?" Via sudah mulai larut dalam pikirannya sendiri.
"Bukan," ujarnya. "Sejujurnya, aku tidak pernah mencintai Shera."
Via mengerutkan alis mendengar jawaban itu. "Apa maksud Mas Wira? Bibi Arum bilang ..."
"Ya, semua orang berpikir aku mencintainya. Itu tidak benar. Aku merasa berhutang dua nyawa dengan kematian orang tuanya. Aku menjadikan diriku budaknya dan menuruti semua keinginannya, sebagai penebus kesalahanku. Aku sudah senang dengan menganggap itu sebagai cinta. Sampai akhirnya dia pergi membawa Lyla dan membuatku hancur.
"Kau tahu satu hal, bahkan kehadiran Lyla adalah sesuatu yang tidak disengaja. Malam itu aku mabuk dan tidak sengaja melakukannya. Hanya malam itu saja, selebihnya tidak pernah. Karena itulah, saat tahu hamil, Shera sangat marah padaku. Bahkan beberapa kali dia mencoba menggugurkan kandungannya."
Via terdiam. Tidak ada sepatah kata pun yang dapat terucap dari bibirnya.
"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa mencintai seseorang, dan aku begitu takut ditinggalkan. Aku salah, aku kaku dan tidak tahu cara mengungkapkan betapa berartinya kau bagiku. Aku hanya tidak mau kau menjadi seperti Shera dan pergi meninggalkanku, bukan berarti aku menyamakan mu dengannya. Aku yakin kau dan Shera adalah dua wanita yang berbeda. Tapi ... Entahlah, aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya."
Bahagia. Mungkin hanya itulah yang kini dirasakan Via. Walaupun Wira tidak mengungkapkan perasaan nya dengan cara yang romantis, namun setidaknya kini ia tahu, di hati suaminya telah terukir namanya.
Wira pun memeluk tubuh yang masih lemah itu, dan kembali menghujani wajahnya dengan kecupan-kecupan sayang. "Aku mencintaimu," bisiknya di telinga Via.
__ADS_1
Mendadak wajah pucat Via bersemu merah, yang akhirnya membuat wanita itu menyembunyikan wajah di dada suaminya.
********