
Via membeku, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Begitu pun dengan Shera dan juga Wira yang tampak begitu kecewa mendengar hasilnya. Pupus sudah harapan mereka untuk kesembuhan Lyla melalui donor kedua orang tuanya.
Tanpa sepatah kata pun Via berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti Wira yang segera menyusul. Sementara Shera masih membeku di ruangan itu. Ia menatap Willy, dengan setitik air mata yang membasahi wajahnya.
"Kau yakin hasil pemeriksaannya tidak salah?" tanya Shera ragu-ragu. Ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
Dokter Willy pun menggeleng, dengan gurat kesedihan yang sama. "Maaf, Shera. Aku ikut menyesal. Kalian berdua tidak bisa menjadi pendonor untuk Lyla."
Shera menarik napas dalam, dengan tangisan yang tertahan. Memikirkan Lyla yang setiap harinya berjuang hidup membuat wanita itu sangat terpukul.
"Wil, apakah ada cara lain untuk menolong anakku selain pencangkokan sumsum tulang belakang?" tanya Shera penuh harap.
"Sebenarnya ada banyak cara yang bisa ditempuh. Selain kemoterapi, ada juga transplantasi sel induk, yang bisa diambil dari plasenta saudara pasien. Kalau Wira dan Via punya anak, mungkin itu bisa menolong Lyla," jelas sang dokter.
"Seberapa besar kemungkinan kecocokannya?"
Dokter Willy pun tersenyum. Layaknya seorang dokter pada umumnya, ia tetap berusaha agar pasien-pasiennya selalu optimis. "Walaupun kemungkinan kecocokannya tidak sebesar anak yang berasal dari ayah dan ibu yang sama, tapi kita tidak boleh kehilangan harapan. Aku sudah pernah membicarakan ini dengan Wira sebelumnya. Dan saat ini dia sedang mengusahakannya."
Mengangguk pelan, Shera akhirnya berpasrah. Kini ia hanya dapat berharap ada keajaiban untuk Lyla.
Apa mungkin ini hukuman untukku karena kesalahanku di masa lalu. Aku sudah banyak berbuat dosa. Karena kebencian pada Wira akibat kehilangan ayah dan ibu, aku sampai membalasnya dengan kejam. Dan aku sampai tega membuang anakku sendiri.
****
_
_
__ADS_1
_
_
_
Dengan berurai air mata, setengah berlari Via menuju sebuah ruangan dimana Lyla dan ibu mertuanya sedang menunggu. Tak peduli Wira yang sejak tadi mengekor di belakangnya sambil memanggil.
"Via ... Dengarkan aku dulu! Aku mohon," ucap Wira mencoba menarik pergelangan tangan istrinya itu.
"Lepaskan aku, Mas! Aku mau bawa Lyla pulang." Ia menghempaskan tangan Wira, namun laki-laki itu segera menariknya ke dalam pelukan.
Diusapnya rambut panjang itu, turun ke punggung, dengan Isak tangis Via yang berusaha diredamnya. "Dengar aku dulu, Sayang ... Aku tahu kau kecewa. Aku juga begitu. Tapi bukankah kita masih punya harapan lain?"
Via mendorong Wira agar menjauh darinya. "Harapan apa, Mas?" untuk pertama kalinya, wanita itu mengeraskan suaranya di depan sang suami, membuat Wira kembali memeluknya, walaupun Via berusaha menepis. "kenapa harus Lyla yang mengalami itu, Mas? Kenapa bukan aku saja?"
"Tapi Lyla adalah segalanya bagiku. Aku mencintai Lyla lebih dari dari apapun."
"Via ..." Wira kembali berusaha membujuk sang istri, sementara Via terus berusaha melepaskan diri. Kehilangan harapan membuat wanita itu terguncang. Hingga beberapa saat kemudian, pandangannya mulai tersamar. Dengan tangisan yang tertahan, perlahan ia mulai kehilangan kesadaran. Seketika Via ambruk, beruntung Wira segera menangkap tubuhnya, sehingga tak membentur lantai.
Panik, Wira memeluk, sambil berusaha membangunkan sang istri. Namun, Via tak bergeming. Kekhawatiran pun menyelimuti suaminya itu. Tak pernah sebelumnya Via pingsan seperti sekarang.
"Via!" panggil Wira sembari menepuk wajah istrinya.
Dalam keadaan panik, seorang pria datang menghampiri mereka. Evan begitu terkejut melihat Via dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia segera mendekat pada Wira.
"Apa yang terjadi pada Via?" tanya Evan pada Wira.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba pingsan."
"Cepat bawa ke IGD!" seri Evan. Wira pun segera menggendong Via dan membawanya ke ruang IGD yang berada tak jauh dari lokasi mereka, diikuti Evan di belakangnya.
Memasuki ruangan itu, Wira membaringkan Via di sebuah ranjang pasien. Sementara Evan yang sejak tadi mengekor di belakangnya segera memeriksa sahabatnya itu. Evan hendak menyibak sedikit pakaian Via, namun Wira menahannya. Seakan tak terima jika pria setengah bule itu menyentuh istrinya.
"Mau apa kau?" tanyanya seraya menghalau tangan Evan yang hendak memeriksa denyut jantung Via.
Evan memutar bola mata pertanda malas. Tentu saja, sang calon dokter tampan itu memahami bahwa laki-laki di sampingnya sedang cemburu. Ia melepas dengan kasar tangan Wira yang menggenggam lengannya.
"Dasar posesif, cemburuan akut!" gumam Evan.
Tak terima, Wira melirik tajam Evan yang kembali menyibak sedikit pakaian yang digunakan Via agar dapat memeriksa detak jantungnya.
Tangan Wira mengepal geram. Tak rela sang istri disentuh lelaki selain dirinya, ia segera berkata, "Aku ingin istriku diperiksa seorang dokter wanita!"
Tak peduli apapun kata Wira, sebagai seorang pelayan kesehatan, apalagi pasien adalah sahabatnya sendiri, Evan pun menjawab dengan menantang. "Dewasa lah, Tuan Wiratama Abimanyu! Ini bukan saatnya cemburu!" gerutu Evan yang akhirnya membuat Wira bungkam.
Akhirnya laki-laki itu pasrah, bola matanya mengikuti kemana tangan Evan. Kecemburuan seakan membakarnya saat Evan menyentuh beberapa bagian tubuh Via. Terlebih, saat Evan sedang menyibak pakaian di bagian perut, saat hendak memastikan kecurigaannya, membuat Wira membulatkan mata.
"Apa yang kau lakukan?"
******
Yang mau kenalan sama si Keong Evan boleh nyempil ke sini
__ADS_1