
Makan malam berlanjut dengan kebungkaman Shera. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Hanya tatapannya yang terus tertuju pada sosok wanita muda yang telah menggantikan posisinya. Via, seorang wanita yang baginya sangat biasa dengan penampilan tidak begitu mencolok. Namun, sikap keluarga padanya membuat wanita itu terlihat lebih istimewa.
Shera pun memperhatikan, bagaimana perlakuan Via pada Wira di meja makan. Via melayani suaminya dengan sangat baik dengan mengambilkan beberapa lauk yang disukai Wira, sesuatu yang tidak pernah Shera lakukan selama menjadi istri. Wanita itu menunduk, ia teringat masa lalu, dimana dirinya diperlakukan layaknya seorang ratu di rumah itu.
Kenapa aku merasa sakit melihat kemesraan mereka? Apa Via sengaja memperlihatkan semua ini padaku? Lihat saja bagaimana aku menunjukkan posisiku di rumah ini. batin Shera.
Tatapannya kemudian mengarah pada sosok si kecil Lyla yang begitu manja. Betapa Via dengan penuh kesabaran mengajari cara makan yang benar agar tidak berantakan.
"Kenapa Lyla tidak makan disuapi bibi saja?" tanya Shera. "Dia kan masih terlalu kecil untuk bisa makan sendiri."
Via tersenyum tipis, lalu mengusap puncak kepala putri kecilnya. "Lyla itu anak yang mandiri, Mbak." jawab Via, lalu menatap Lyla. "Iya kan, Sayang?"
"Iya, Bunda!" jawab Lyla.
"Tapi lihat, makannya masih berantakan begitu." Shera menyela dengan cepat, membuat Lyla melirik takut padanya. "Minta saja bibi menyuapinya."
Gadis kecil itu pun menjatuhkan sendok makannya, lalu menatap Via seraya menarik ujung pakaian bundanya itu, "Bunda, Lyla takut. Tante itu galak!"
__ADS_1
Seperti biasa, Via akan menunjukkan senyum pada gadis kecil itu, seolah menjelaskan bahwa segalanya akan baik-baik saja. "Tidak apa-apa, Sayang. Bunda Shera kan bundanya Lyla juga. Ayo makan lagi. Lyla bisa kan?"
Sekali lagi, Lyla melirik ke arah Shera. Via yang mengerti ketakutan gadis kecil itu pun segera membujuknya. "Lyla Sayang, ayo makan lagi! Bunda mau lihat anak bunda makannya pintar, seperti Upin dan Ipin. Lyla sering lihat kan, Upin dan Ipin juga bisa makan sendiri. Tidak disuap lagi."
Layaknya anak pada umumnya, Lyla begitu cepat luluh oleh bujukan Via. Terlebih, Via selalu menjelaskan sesuatu dengan memberi contoh sebuah film kartun yang menjadi kesukaan Lyla.
"Iya, Bunda. Lyla mau makan ayam goyengnya syepelti Upin Ipin," jawabnya tersenyum ceria. Ia kembali meraih sendok dan mulai makan.
Melihat itu, Shera merasa semakin terbakar oleh rasa iri. Sebab Lyla begitu memuja, dan hanya dapat dibujuk oleh Via seorang. Padahal kini sudah ada dirinya yang merupakan ibu kandung Lyla.
Tatapan Shera pun beralih pada Wira. Tak pernah terbayangkan oleh Shera sebelumnya jika Wira dapat mengabaikan kehadirannya seperti sekarang. Mengingat betapa dulu Wira begitu mencintai dan memanjakannya nya. Apapun keinginannya, selalu dipenuhi dengan mudah oleh Wira dan keluarganya.
Bahkan Wira tidak menatapku sedikit pun. Apakah dia hanya membalasku? Dia tidak mungkin melupakanku begitu saja. Apalagi penggantiku hanya wanita seperti Via. dalam batin Shera.
"Em, Wira, boleh aku tanya sesuatu?" ujar Shera.
Wira hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan makannya tanpa menyahut. Menyadari sikap dingin Wira, ibu yang duduk di sebelah Shera segera memecah kebekuan itu.
__ADS_1
"Ada apa, Shera?" tanya ibu.
"Bu, apa foto pernikahanku dengan Wira masih ada? Kalau iya, aku mau minta satu untuk kenang-kenangan."
Dan, pertanyaan itu membuat ibu merasa tidak enak. Entah harus menjawab apa pada Shera. Sebab sejak hubungannya dengan Via membaik, Wira meminta untuk menyingkirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Shera di rumah itu. "Kalau itu ..."
"Sudah tidak ada satupun! Aku meminta Bibi Arum membakar semuanya." Jawaban frontal Wira membuat mantan istrinya itu terhenyak. Beberapa kali ia mengatur napas karena merasa sesak, seolah masih belum percaya sepenuhnya.
"Kau meminta Bibi membakar semuanya?" tanya Shera tak percaya.
"Untuk apa disimpan? Itu kan hanya kenangan yang sudah tidak berarti," jawab Wira. Seketika seluruh tubuh Shera meremang mendengar ucapan Wira.
"Oh, baiklah. Tidak apa-apa, aku pikir kau masih menyimpannya," ucap Shera menahan air mata.
Tidak! Wira hanya ingin membalasku. Aku yakin dia tidak benar-benar membakar semuanya.
Bukan hanya Shera yang merasa syok mendengar ucapan Wira. Via pun merasa tidak enak, karena Wira benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya pada wanita yang pernah mengisi hidupnya itu. Namun, Via menyadari memang seperti itulah Wira jika sudah terlanjur membenci sesuatu. Sebab dirinya pun pernah merasakan bagaimana kerasnya seorang Wiratama.
__ADS_1
*****