
Disebuah rumah mewah, sedang terjadi drama seret menyeret yang dilakukan oleh seorang pria yang ahli dalam aksi penculikan. Si Botak, seorang pria berusia 34 tahun yang terkenal mampu melakukan apapun perintah sang bos, walaupun terbilang di luar nalar.
"Heh Botak! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" teriak Evan berusaha melepaskan diri dari cengkraman seorang pria yang kerap disapa si Botak.
"Maaf, aku hanya menjalankan perintah dari bos," jawabnya tanpa rasa berdosa. Dengan senyum menyebalkan yang selalu menghiasi wajahnya.
"Katakan pada bos gilamu itu untuk menghentikan kebiasaannya menculik orang!" seru Evan tak terima dengan perlakuan semena-mena seorang mantan bos mafia.
Tiba di sebuah ruangan, si Botak baru melepaskan genggamannya. Sementara raut kekesalan di wajah Evan semakin menjadi-jadi. Ditatapnya seorang pria di depan sana yang sudah menggunakan setelan piyama, yang selama berbulan-bulan belakangan ini menjadi seorang pengangguran kaya raya.
Zildjian Maliq Azkara, dengan segala kelicikannya kembali meminta anak buahnya menculik adiknya sendiri.
"Heh Kak! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau suka sekali menculik orang?" gerutu Evan.
"Ehm...!" Belum sempat Zian menjawab, dari sudut ruangan itu sudah terdengar suara deheman yang bagi Evan sangat angker. Ia terlonjak kaget saat menyadari siapa yang sedang duduk santai di sebuah sofa.
"Sopan lah kalau bicara dengan kakakmu!" ujar Dokter Fahri, si sulung di keluarga Azkara.
"Kak Fahri?" Evan terbelalak, walaupun sudah hal biasa jika mereka menjadi korban penculikan saudara mereka sendiri. "Apa Kak Fahri juga diculik Kak Zian?"
Dokter Fahri menatap kedua adik lelakinya bergantian, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak tahu ini penculikan atau bukan. Aku baru saja tiba di rumah saat si Botak datang dengan senyum menyebalkannya."
Tak terima disebut menculik, Zian segera menyela. "Kalian jangan bicara sembarangan! Aku tidak memaksa kalian untuk ikut. Kalau kalian sedang sibuk, kenapa tidak beritahu botak saja? Kalian malah ikut dengan sukarela." Alasan yang sama pun kembali terucap, saat telah merasa terpojok.
"Sukarela?" gerutu Evan. "Bagaimana kau bisa bilang sukarela saat orang suruhanmu menyeretku?"
"Dasar keong laknat! Aku membawamu kemari untuk bertanya!"
"Jangan bilang kau mau bertanya soal kehamilan lagi! Cukup Kak, aku tidak sanggup menjawab."
Zian dan Fahri berdiri dari duduknya dengan tatapan mengintimidasi, kemudian berjalan bersamaan ke arah adiknya itu, seiring dengan langkah kaki Evan yang mundur beberapa langkah. Ia sudah menebak, apa yang akan dilakukan dua kakaknya itu.
Tak lama setelahnya, terdengarlah suara teriakan Evan.
"Awh lepaskan! Ini sakit! Aku tahu kalian berdua kaya raya. Tapi kalau telingaku lepas, kalian tidak akan bisa mengembalikannya!" teriak Evan saat Zian dan Fahri menarik telinganya, kanan dan kiri.
Begitu kedua tangan jahil itu terlepas, ia mengusap telinganya yang terasa kebas. Dengan bibir mengerucut, ia menatap kedua kakaknya.
__ADS_1
"Mau apa kalian? Aku salah apa?" Ia menatap dua kakaknya dengan kesal. "Jangan khawatirkan adik kalian ini, aku bebas alkohol dan obat-obatan terlarang!"
Zian meneliti tubuh Evan dari ujung kaki ke ujung kepala. "Eh, keong! Aku kan memintamu ke Rumah Sakit Cipta Harapan untuk mengawasi dokter playboy jelek itu. Tapi kenapa seperti nya kaulah yang harus diawasi lebih ketat?"
Mengerutkan dahi, Evan belum mengerti apa maksud kakaknya itu. "Apa maksudnya, Kak?"
"Kau mau jadi pebinor, ya?" tuduh Zian membuat Evan terbelalak.
"Ya, itu benar. Evan, wanita di dunia ini banyak. Kenapa kau harus mendekati istri orang?" ucap Dokter Fahri mengintimidasi.
Evan menganga tak percaya mendengar tuduhan tak berdasar dua kakaknya itu. "Aku tidak mengerti apa maksud kalian?"
"Jangan pura-pura! Kau sedang berusaha mendekati Via kan? Sahabat masa SMA mu itu. Dan tadi aku baru saja tahu kalau Via sudah menikah dengan anak Tuan Gunawan."
Tebas aku dengan samurai saja, Kak!" gerutu Evan dalam hati.
Kini, tatapan memelas Evan tertuju pada kakak sulungnya. Seolah meminta keadilan.
"Duduk!" perintah Dokter Fahri.
Mereka bertiga pun duduk bersama di sebuah sofa panjang. Evan diapit oleh dua kakaknya. Pelan-pelan, ia mulai menjelaskan.
"Apa kau jatuh cinta pada Via?" bisik Fahri.
"Belum Kak. Tapi aku baru mau berusaha. Kak Fahri kan tahu siapa wanita yang ada di dalam hatiku," Evan balas berbisik.
Mendengar ucapan Evan, Fahri menatap iba pada adiknya itu. Ia tahu betul, Evan belum bisa melupakan Naya, seorang wanita yang menjadi cinta pertamanya. Namun, Naya telah menikah dengan Zian. Dan hingga kini, baik Zian maupun Naya tidak pernah menyadari perasan Evan. Sebab laki-laki itu mampu menutupinya dengan sempurna.
"Memang siapa yang ada di dalam hatimu?" Zian menyela, membuat drama bisik-bisik tetangga itu terhenti. "Jangan bilang kau benar-benar berniat menjadi pebinor. Awas ya, aku akan meminta botak terus mengawasimu!"
"Ya ampun. Gila juga harus ada batasnya kan?" ujar Evan.
*****
_
_
__ADS_1
_
_
_
"Lalu bagaimana dengan dokter playboy itu? Apa dia masih berhubungan dengan Elsa?" tanya Fahri seraya menyeruput secangkir teh hangat.
"Tentu saja masih. Kalian tahu, kan? Elsa itu mudah dirayu. Aku tidak tahan melihat mereka makan malam romantis di sebuah restoran," jawab Evan.
Seketika Fahri dan Zian memelototkan matanya. "Apa? Makan malam romantis?"
"Hu-um! Si playboy itu benar-benar romantis dalam memperlakukan seorang wanita. kalian tahu, dia membawa Elsa ke hotel setelahnya."
Rasanya, Zian dan Fahri tak sanggup lagi mendengar ucapan saudara kembar Elsa itu. Diselimuti rasa kesal bercampur cemburu, mereka melayangkan tatapan mengintimidasi pada Evan.
"Dan kau diam saja? Apa yang mereka lakukan di hotel? Aku tidak mau Elsa sampai hamil di luar nikah!" teriak Zian berapi-api.
Berbeda dengan Dokter Fahri. Walaupun merasa kesal, namun ia tetap berusaha untuk tenang.
Evan menghela napas panjang. Frustrasi menghadapi kakaknya itu. "Mereka menghadiri ulang tahun anak Dokter Marchel. Bukankah anak kalian juga diundang malam itu?"
"Oh itu... Bilang dari tadi. Kami kan jadi salah paham," ujar Fahri.
"Ini menyebalkan! Sekarang pikirkan saja bagaimana cara menjauhkan Elsa dari parasut itu!" seru Zian.
"Yang benar itu parasit, Kak! Bukan parasut!"
"Terserah! Hanya beda satu huruf saja!"
Ketiga saudara yang mendapat julukan Trio Azkara itu bersandar di sofa, dengan pikiran masing-masing. Rasanya tidak rela jika adik perempuan kesayangan mereka harus jatuh ke tangan seorang dokter yang terkenal playboy seperti Dokter Willy.
*****
Yang belum kenal Azkara Bersaudara, mereka adalah tokoh utama di Novel PENJARA CINTA SANG MAFIA
ðŸ¤
__ADS_1
mau kenalan, yuk mampir, tapi siapin kanebo dulu yaaaa