
Dua hari kemudian, Laura mendapati dirinya berada di ruang marching band. Erika minta bertemu. Kini, Erika menatapnya dgn tajam. Terpendam rasa kebencian yg mendalam di sana.
''Jadi,'' katanya memulai pembicaraan, ''aku dengar dr teman-2 ku, kau berduaan dgn Niko di piknik hari minggu kemarin. Kenapa kau melakukannya? Padahal aku sudah jelas-2 melarangmu mendekati Niko.''
Laura menghela napas panjang. Ia sebenarnya tdk tahu bagaimana menjelaskan hal itu. Erika tdk akan percaya bahwa kebersamaan mereka terjadi begitu saja. Tanpa direncanakan, “Niko menyukaimu,'' jelas Laura perlahan.
Erika tersenyum sinis. ''Perkataanmu tdk menjawab pertanyaanku.''
''Aku tdk punya jawaban yg bisa memuaskanmu,'' kata Laura jujur. ''Aku tidak merencanakan untuk berduaan dgn Niko. Aku tahu dia pacarmu. Kami membicarakan dirimu dan kami berdua mengakui kau mayoret yg hebat. Tidak terjadi apa-2 di antara kami.”
Erika tertawa pendek. ''Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kau berusaha membuat Niko menyukaimu. Kau pikir aku tdk bisa melihat kalau kau menyukainya?''
''Kau tdk bodoh.'' Laura menatap mata Erika lurus-2. ''Kau hanya cemburu.''
Erika melihat Laura dgn seksama. ''Kau pintar sekali berkelit. Tentu saja aku cemburu. Siapapun akan cemburu kalau pacarnya terancam direbut orang lain. Akui saja. Kau menyukai Niko.'' Laura memutuskan berterus terang. ''Ya, aku menyukainya.''
Erika tdk menyangka Laura akan mengakui hal itu di depan dirinya, tanpa perasaan bersalah. ''Kau...,'' amarahnya tdk terbendung lagi.
Tapi Laura menyela lebih dahulu, ''Aku bukan satu-2 nya cewek yg menyukai Niko. Hampir separuh cewek di sekolah kita menyukainya. Dia sangat populer. Aku rasa kau tahu aku mengatakan yg sebenarnya. Tapi itu semua tdk penting bukan? Tdk peduli berapa banyak cewek yg menyukainya, Niko menyukaimu. Dia memilihmu. Kau seharusnya memercayai Niko.''
Erika tahu bahwa banyak cewek yg menyukai pacarnya. Tapi Lauralah yg sangat mengancam posisinya di samping Niko. Erika takut, suatu saat Niko memutuskan utk bersama Laura. Erika mengubah ketakutan itu menjadi amarah. ''Beraninya kau mengajariku bagaimana mempertahankan hubungan kami?''
Laura bangkit dr kursi. ''Aku sudah selesai memberi penjelasan.''
__ADS_1
Erika berdiri dan menahan salah satu tangan Laura. ''Aku belum selesai.''
Laura melepaskan pegangan tangan Erika dgn tangan yg lain. ''Aku tdk akan memberi penjelasan selain yg sudah kukatakan tadi.''
''Aku bisa membuat hidupmu di sekolah jd tdk menyenangkan!'' ungkap Erika sungguh-2.
Laura tertawa perlahan. Erika tdk tahu bahwa hidupnya sudah lebih dari tdk menyenangkan. Menyukai seseorang yg tdk menyukaimu kembali adalah hal yg paling menyedihkan. ''Lakukan saja apa maumu,'' kata Laura tdk peduli sambil berbalik.
''Kau akan menyesal,'' ucap Erika perlahan tapi pasti.
Laura berbalik lagi menatap Erika. Kali ini dgn lebih berani. ''Kita akan lulus SMA dalam beberapa bulan lagi. Kemungkinan besar aku tdk akan bertemu denganmu dan Niko lagi. Aku tdk bisa berjanji utk tdk berbicara pd Niko selama itu, tapi aku berjanji utk menjauhinya.'' setelah itu Laura melangkah keluar dr ruangan.
Erika tercengang. Ia tdk menyangka cewek seperti Laura bisa mengatakan hal yg demikian berani padanya. Padahal Laura bukanlah cewek populer yg punya banyak teman satu geng seperti dirinya. Erika terduduk lemah. Ia tahu seharusnya ia merasa lega, tapi kenapa perasaannya mengatakan ia telah kalah dari si SISWI KAMPUNG?
Bulan-bulan berikutnya, Laura tidak sempat memikirkan perasaannya pada Niko. Hidupnya dipenuhi sekolah, pelajaran, latihan soal, dan belajar sampai larut malam. Ia perlu membuktikan pada diri sendiri bahwa ia bisa lulus ujian.
Saat nilai ujian try-out yg dilakukan sekolah dibagikan, nilai Laura tidak ada yg dibawah 6. Pak Bambang yg membagikan nilai tersebut pd Laura menatapnya sambil tersenyum, "Kau benarbenar sudah bekerja keras. Buktikan lagi hasil kerja kerasmu pada ujian nasional bulan depan."
Laura mengangguk. "Terima kasih, pak. Saya akan berusaha keras supaya lulus dengan nilai memuaskan."
__ADS_1
"Selamat ya,” kata Niko sambil tersenyum ketika Laura akan berbalik ke tempat duduknya.
Laura balas tersenyum. "Terima kasih."
Laura mengetahui bahwa nilai Niko jauh di atasnya. Kadang Laura sedikit iri pada Niko yg pintar. Sepertinya cowok itu tidak perlu belajar terlalu keras untuk mendapatkan nilai bagus. Beberapa bulan yg lalu, saat ulangan dadakan, semua siswa kelas 3 IPA 1 mendapat nilai jelek kecuali Niko.
Niko selalu bisa memberikan jawaban yg benar pd setiap pertanyaan. Sampai Laura pernah berharap mendapatkan setengah kepintaran Niko. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Memang ada orang seperti Niko yg terlahir dgn otak yg pintar.
Laura sudah memenuhi janjinya pada Erika untuk menjauhi Niko. Ia tidak pernah berbicara pd Niko selain di dalam kelas. Saat jam pelajaran usai, Laura langsung pulang ke rumah.
Hari berganti minggu, tanpa terasa ujian nasional telah datang. Hampir semua siswa kelas tiga merasa gugup menghadapinya. Selalu ada perasaan takut yg menghinggapi benak mereka. Takut tdk bisa mengerjakan soal. Takut tidak lulus ujian. Takut mengulang kembali. Takut gagal.
"Semoga berhasil," kata Niko pada Laura ketika mereka akan menghadapi ujian.
"Kau juga," balas Laura.
Hari-hari berikutnya benar-benar sangat berat bagi Laura. Ia tidak ingin mengulang ujiannya. Terkadang larut malam, Laura terbangun dan tidak bisa tidur lagi.
Mama memergokinya suatu malam, menenangkan hati putrinya. Mama menyeduh susu panas untuk Laura dan menyuruhnya tenang.
"Apapun yg terjadi," kata mama perlahan, "kau masih memiliki mama. Mama percaya kau bisa melalui ujianmu dengan baik. Mama percaya padamu."
"Thanks ma," kata Laura. Kata-kata mama menenangkan hatinya.
__ADS_1
Ketika ujian selesai dan siswa kelas tiga berteriak kegirangan, Laura juga ikut bersorak lega. Selanjutnya tinggal masa penantian hasil ujian. Memang hasil ujian masih beberapa minggu lagi, tapi Laura merasa yakin pd dirinya sendiri dan kemampuannya.