Butuh Waktu

Butuh Waktu
Kelulusan


__ADS_3

Laura pulang dengan perasaan lega. Ia mengerjakan tugas sehari-harinya di rumah dengan lebih tenang. Tapi, sore harinya mama tiba dengan berita yg mengejutkan. Mama akan dipindah tugaskan ke kantor pusat. Dan itu artinya mereka harus pindah rumah.


"Mereka meminta mama untuk berangkat secepatnya," jelas mama, "tapi mama meminta mereka menunggu sampai kau mendapatkan ijazah terlebih dahulu."


Laura kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka akan mengucapkan selamat tinggal pada kota yg telah dihuninya selama 10 tahun.


"Apakah kantor pusatnya jauh, ma?" tanya Laura perlahan.


Mama mengangguk. "Sekitar 2 jam dr sini. Naik pesawat."


Hati Laura terasa sesak. Ia tahu ia sudah berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan melupakan Niko setelah lulus SMA. Tapi hatinya masih menyimpan sedikit rasa tak rela. Sekarang ia tidak punya kesempatan sama sekali untuk masuk universitas yg sama dengan Niko. Laura tentu saja tidak akan membiarkan mama sendirian, apapun yg terjadi.


"Maaf, Laura. Mama sudah berusaha menolak, tapi itu sudah keputusan kantor pusat," kata mama sedih. "Mama tahu kau ingin kuliah disini. Maaf."


Laura memeluk mama dengan erat dan menggeleng. "Tidak, mama. Tidak perlu meminta maaf." Bukankah jarak yg jauh juga merupakan salah satu cara untuk melupakn seseorang? pikir Laura. Ia akan mengakhiri semua saat kelulusan nanti.


***


Pelajaran sekolah telah ditutup dengan ujian nasional, tetapi para siswa tetap masuk sekolah. Sambil menanti hasil ujian, para guru wali kelas tiga mulai memberikan gambaran seperti apa dunia kuliah yg nanti akan dimasuki anak didiknya. Para guru menjelaskan bagaimana menentukan jurusan yg tepat di universitas nanti.

__ADS_1


Niko melihat brosur universitas-universitas yg ada dikotanya.


"Kau sudah pasti masuk kedokteran, kan?” tanya salah satu teman Niko padanya.


Niko menghela napas. "Ya", jawabnya. Tangannya membolak balik brosur universitas tanpa antusiasme. Tatapannya jatuh pada jurusan seni. Dia mengetuk-ngetuk brosur tersebut di meja tanpa sadar.


Di belakangnya, Laura belum bisa memutuskan akan masuk jurusan apa di universitas nanti. Kalaupun nilai ujiannya bagus, rasanya ia tidak ingin memasuki jurusan yg tidak disukainya. Laura berpikir akan lebih baik bila ia mempelajari hak yg ia suka juga.


"Kau mau melihat-lihat brosurmu?" tanya teman Niko lagi. Niko menggeleng. "Aku sudah tahu mau masuk universitas mana. Ini, kau pilih saja."


"Kau benar-benar beruntung, Niko," kata temannya. "saat kau lulus ujian nanti, sudah ada universitas yg akan menerimamu."


Niko hanya tersenyum singkat menanggapi hal itu. Apakah benar aku seberuntung itu? tanya Niko dalam hati. Aku tahu tidak semua orang punya koneksi seperti papa dan bisa membuat putranya masuk fakultas kedokteran yg paling bagus. Tapi mengapa hatiku terasa berat?


Laura benar-benar berharap Niko bisa bahagia selama hidupnya. Ia sudah membayangkan Niko mengenakan jas putih, merawat pasien rumah sakit dengan penuh perhatian. Laura tertawa perlahan dan menutup matanya.


***


Hari yg ditunggu - tunggu para siswa kelas tiga akhirnya datang juga. Pengumuman hasil ujian nasional. Seluruh siswa kelas tiga berkumpul di lapangan sekolah. Lalu para wali kelas memberikan amplop surat dengan nama mereka tertera di depannya.

__ADS_1


Setelah pembagian amplop selesai, Kepala sekolah beranjak menuju tengah lapangan. "Di tangan kalian terdapat surat yg menyatakan apakah kalian lulus atau tidak atas ujian nasional yg kalian jalani dua minggu yg lalu. Pada hitungan ketiga, Bapak ingin kalian membukanya bersamasama. Satu......dua....tiga..."


Para siswa dengan tidak sabar merobek amplop surat tersebut dan membukanya untuk melihat hasil mereka.


Kepala sekolah tertawa melihat aksi murid - muridnya. Lalu berkata lagi, dari 297 murid kelas tiga, yg lulus hanya... dua... ratus... sembilan puluh.... tujuh..." Para murid berteriak sekencang-kencangnya.


Kepala sekolah tertawa lebar. "Iya, benar, kalian lulus seratus persen. Bapak bangga kalian semua bisa lulus tanpa harus ada yg mengulang. Bapak sudah bosan dan tidak mau ditemani kalian lagi."


Para siswa serentak tertawa.


Laura melihat hasil di tangannya dengan gembira. Nilainya tidak mengecewakan. Matanya berkaca-kaca karena lega. Semua siswa saling memberi selamat. Ia melihat Niko dipeluk oleh Erika.


Laura terdiam. Kini hanya tinggal pesta perpisahan yg menanti. Laura mengeluarkan HP dan menelepon mama.


Setelah tersambung, Laura langsung memberitahukan berita baiknya. "Ma, aku lulus."


"Selamat sayang," kata mama dengan gembira ditelepon. "Kita makan malam di luar malam ini untuk merayakan kelulusanmu."


"Baiklah," Laura menyetujuinya. Setelah berbicara beberapa saat, ia memutuskan sambungan telepon. Niko mendapat ucapan selamat dari para guru setelah itu, karena nilai ujiannya adalah yg tertinggi dari semua murid.

__ADS_1


Laura melihat itu semua sambil tersenyum. Di samping Niko, Erika tersenyum bangga, Laura kembali ke kelasnya. Tangannya mengelus ringan meja tempat Niko berada. "Selamat,Niko," katanya. Ia tahu sampai kapanpun ia takkan bisa memasuki dunia sekeliling Niko yg berbeda jauh dr dunianya.


Laura merapikan tas, lalu berjalan pulang menuju halte bus.


__ADS_2