
"Terima kasih, Ma", kata Laura gembira melihat hadiah kelulusan dr mama. Mereka sedang makan malam di restoran seafood.
Laura mengenakan jam tangan berwarna perak pemberian mama. "Seharusnya mama tidak usah boros membeli jam semahal ini."
Mama tersenyum. "Tidak apa-apa. Mama benar-benar bangga padamu. Mama tahu betapa kerasnya kau berusaha untuk lulus."
"Aku akan selalu menjaga jam ini," kata Laura sambil memandang mama lembut. "Jadi, kapan petugas pengangkut barang akan datang?"
Mama mengambil minumannya dan meneguknya kemudian menjawab, "mungkin besok. Kau sudah membereskan barang-barangmu ke dalam kardus?"
"Sebagian sudah," kata Laura. "tinggal sisa buku-buku sekolah. Aku bisa melakukannya malam ini."
"Kau bisa menyelesaikannya besok kalau kau kecapekan," saran mama.
"Aku tidak capek kok. Rasanya tenagaku berlipat ganda setelah makan," canda Laura.
"Kau sudah memutuskan mau masuk jurusan apa?" tanya mama serius.
Laura menghela napas. "Aku belum tahu, ma."
"Kalau mama boleh tahu," kata mama sabar, "sebenarnya apa yg paling kau sukai di dunia ini?"
Laura langsung menjawab, "bersama-sama dengan mama."
Mama tertawa. "selain itu apa lagi?"
"Hm....., aku suka memasak... mungkin", jawab Laura.
"Kenapa kau tidak coba ambil jurusan masak saja?" usul mama.
"Aku masih belum yakin ma," kata Laura ragu-ragu.
"Kau tidak harus memutuskannya sekarang," kata mama penuh pengertian. "Kau akan tahu saatnya nanti. Sekarang... bagaimana dengan persoalan hatimu? kau sudah menyelesaikannya?"
Laura berpikir keras. "Aku tidak tahu, ma. Tapi beberapa hari lagi semuanya akan berakhir. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Dan aku akan berusaha melupakanya."
"Cinta pertama memang susah dilupakan," kata mama mengangguk bijak. "Hanya waktu yg akan mambantumu melupakannya. Kau pernah mengatakan padanya bahwa kau menyukainya?"
Laura menggeleng. "Tidak pernah."
"Mungkin seharusnya kau memberitahukannya, setelah itu kau bisa meneruskan hidupmu dan mendapat cinta yg baru suatu hari nanti." Mama menyentuh lengan putrinya perlahan. "Kau butuh sebuah penyelesaian."
__ADS_1
"Ya, aku tahu." Laura menatap mata mama dengan sedih. "Hanya saja aku tidak ingin semuanya berakhir."
"Yang harus kau ingat," kata mama menguatkan hati anaknya, "kau harus jujur pada dirimu sendiri. Katakan padanya bagaimana perasaanmu." "Aku akan mencobanya," tekad Laura.
***
Malam harinya, Laura mengepak bekas buku-buku sekolahnya. Saat memasukkan buku terakhir, Laura melihat amplop besar berwarna cokelat di mejanya. Laura membuka amplop tersebut dan mengeluarkan gambar-gambar rancangan perhiasan Niko. Laura menyusun satu demi satu gambar-gambar itu dan memandangnya. (mungkin sebaiknya kukembalikan pada Niko), katanya dalam hati.
Laura menumpuk gambar-gambar itu, lalu memasukkannya kembali ke amplop cokelat. Ia akan mengembalikannya di acara wisuda nanti.
Esok harinya, Laura bangun pukul 05.30, ia mandi, kemudian memasak nasi. Hari ini hari pesta kelulusan di pantai. Karena Laura hanya perlu pergi sore hari untuk berkumpul di sekolah, ia memanfaatkan waktu paginya untuk mengemas barang-barang lain yang masih teronggok di ruang tamu.
Suara kertas di lempar menghentikan aktifitas Laura. Ia menengok ke halaman depan. Ternyata kiriman koran pagi. Laura mengambil koran tersebut dan membawanya masuk kerumah. Ia membaca berita utama sekilas, lalu membaca berita-berita lainnya. Di halaman tengah, tatapannya berhenti. Di situ tertulis bahwa julien bardeux, ahli perhiasan terkenal, akan mengadakan pameran selama dua hari. Hari ini dan besok. Ia penasaran apakah Niko membaca berita ini. Setidaknya, Niko bisa menghadiri pameran perhiasan ini.
Sekitar pukul 14.30, Laura sudah sampai di sekolah. Seperti biasa, bus-bus sudah terparkir di area sekolah. Kali ini para guru membebaskan murid-murid duduk di bus yg mana saja. Laura melihat Niko dan Erika memasuki bus pertama. Ia memutuskan untuk memasuki bus terakhir.
Seperti biasa, ia menempati tempat duduk paling belakang. Dua jam kemudian, bus sudah sampai di pantai. Sekolah sudah menyewa gedung pertemuan untuk dijadikan pusat acara perpisahan.
Malam itu, Niko dan Erika terpilih sebagai pasangan terbaik dari sekolah mereka. Laura bertepuk tangan saat mereka dihadiahi sepasang mahkota. (Mereka memang cocok satu sama lain), Laura mengakui dalam hati.
Perlahan-lahan langkahnya menuju keluar gedung. Sebagian murid lain mempersiapkan acara api unggun dipinggir pantai. Laura berjalan di sepanjang pantai kemudian berhenti. Matanya memandangi luasnya lautan. Mungkin sejauh itulah nanti jarak antara dirinya dan Niko. Tanpa terasa air matanya mengalir.
Entah berapa lama Laura menatap lautan sambil berlinang air mata. Tiba-tiba suara seseorang menyadarkannya.
"Laura...."
Laura mencoba menghapus air matanya. Ia berbalik dan melihat Niko di depannya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Niko. "Kita sudah mau memulai acara api unggunnya."
Laura menelan ludah. "Aku akan ke sana sebentar lagi," katanya perlahan.
Niko memperhatikan Laura dengan sedikit khawatir. Sesaat lalu, ketika Erika mengajaknya keluar untuk melihat persiapan api unggun, ia melihat bayangan seseorang tak jauh dari sana dan mendekatinya. Entah mengapa, dalam hati Niko tahu itu pasti Laura. Selama ini Laura tidak pernah bergabung dengan teman-teman yg lain. Selalu seorang diri. Itulah sebabnya, Niko mendekatinya untuk mengajaknya ke acara api unggun. Kalau perkiraannya tidak salah, dia sepertinya melihat Laura menangis.
"Kau yakin kau tidak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Aku tidak apa-apa," jawab Laura meyakinkan Niko.
"Kau seharusnya bergabung dengan yg lain," saran Niko. “Pesta perpisahan seharusnya dirayakan bersama-sama."
__ADS_1
Laura mengangguk, "kau benar."
"Ayo pergi," ajak Niko sambil membalikkan badan.
Laura memandangi punggung Niko lagi. Entah untuk yg keberapa kalinya. Tanpa sadar suaranya memanggil Niko.
Niko berbalik lagi, "ya?"
"Apakah... kau sudah membaca koran hari ini?" tanya Laura perlahan. "Ada pameran perhiasan selama dua hari. Hari ini dan besok."
Niko menghela napas. "Aku tahu."
(Oh,dia sudah tahu), kata Laura dalam hati. "Kau tidak mau menghadirinya?" tanya Laura lagi.
"Tidak," jawab Niko setelah beberapa saat.
Laura menatap mata Niko yg terlihat sedih ketika menjawab pertanyaannya. Entah mengapa, perasaannya mengatakan Niko berbohong padanya kali ini. Laura menggenggam kedua tangannya erat-erat. Niko tidak tahu bahwa tatapan sedihnya telah membuat hati Laura hancur. "Niko... disini kau rupanya." Erika menghampiri Niko dan nenarik lengannya. Tatapan tajamnya jatuh pada Laura. Ia mendengus pelan, "Ayo kita pergi. Acara api unggunnya telah dimulai."
"Baiklah," kata Niko. Lalu menatap Laura. "Ku tunggu kau di acara api unggun." Laura mengangguk perlahan. Erika makin kesal pada Laura.
Laura berdiri lalu memapahnya ke kamar tidur. Setelah Laura berbaring di ranjangnya, mama menyelimutinya lalu mengecup keningnya. "Tidurlah."
Setelah mama pergi, meskipun lampu telah dimatikan, Laura tetap tidak bisa tidur. Ia masih mengingat kejadian sebelumnya. Erika terjatuh dari tangga. Tatapan Niko yg dingin padanya. Laura tahu dirinya akan berpisah dengan Niko, tetapi ia tidak ingin perpisahannya berakhir dengan kejadian yg menyakitkan seperti ini.
Ketika mama mengetuk pintu kamar Laura keesokan paginya, ia melihat putrinya sudah bangun dan memakai seragam.
"Kau sudah bangun", seru Mama.
Laura tersenyum. (Aku tidak tidur sama sekali.) "Ayo kita sarapan," ajak mama.
Di meja makan, Laura sarapan dengan tenang.
"Kemarin mama lupa bilang, kepindahan kita dipercepat tiga hari. Kita harus pindah besok," katanya hati-hati. "Tampaknya kau tidak bisa mengahadiri wisudamu. Tapi kalau kau ingin menghadirinya, Mama bisa memesan tiket yg lain untukmu. Nanti kau tinggal menyusul mama".
Laura menggeleng. "Tidak perlu, ma. Aku akan pergi bersama mama besok."
"Apakah kau yakin?" tanya mama ragu. "Kau tidak menghadiri acara wisudamu?" Laura menatap mama dengan pasti. "Aku yakin."
Mama tahu putrinya baru patah hati kemarin malam. "Baiklah, nanti siang mama telepon wali kelasmu agar menyerahkan ijazahmu lebih dulu."
Laura mengangguk setuju. Ia mengambil tasnya dr kamar setelah sarapan. Amplop cokelat berisi gambar Niko masih disana. Ia mengambilnya juga dan keluar dari kamar.
__ADS_1