Butuh Waktu

Butuh Waktu
Gelisah


__ADS_3

Setibanya dirumah, Laura menuju dapur. Ia tidak bisa beristirahat. Ia malah mulai memasak lagi. Beberapa jam kemudian, lima belas piring masakan yang mulai terasa dingin berada disekitarnya. Tidak satu pun dari kelima belas piring itu yang bisa memuaskan lidahnya_____apalagi Antonio.


Ia terduduk di lantai dapur dan menangis. Tubuhnya kelelahan. Ia tidak punya tenaga untuk memasak lagi. Ketika mama pulang malam harinya ,ia melihat putrinya tertidur pulas dikamarnya.


Mama mengusap kening Laura dengan lembut. Ia tahu seminggu belakangan ini putrinya sudah bekerja keras tanpa henti. Diselimutinya putrinya sambil mematikan lampu kamar.


Ketika Laura terbangun lagi, hari sudah gelap. Ia melihat jam dinding di kamarnya. Pukul 22.00. "Oh tidak," keluhnya dalan hati. (aku pasti ketiduran)


Ia bergegas menuju dapur dan mulai mencoba memasak lagi. Sekeras apa pun ia berusaha, hasilnya masih belum memuaskan.


"Kau tidak tidur?" Tanya mama yang terbangun karena mendengar suara-suara dari dapur.


"Maaf,ma. Mama jadi terbangun. Besok hari terakhir. Kalau aku belum bisa memasak sesuatu yang dapat diterima Antonio, aku akan kehilangan pekerjaanku." Laura mulai mengambil spageti dan memasukkannya ke panci panas.


Mama mematikan kompor dengan tiba-tiba. "Istirahatlah. Kau tidak akan membuat makanan sesuai dengan yang kau inginkan kalau kau tidak istirahat."


Laura protes. "Tapi, ma. Besok batas waktunya."


Mama mengangguk. "Mama tahu. Kau butuh istirahat. Lagi pula apa yang kau takutkan? Kau takut kehilangan pekerjaanmu? Apakah itu masalahnya? Kau sudah menabung cukup banyak selama dua tahun ini. Mama rasa kau sudah bisa memulai kuliah yang kau inginkan. Kalaupun kau dipecat, masih banyak pilihan lain yang bisa kau ambil." "Bukan begitu ma," kata Laura sedih. "Aku bukan takut di pecat." "Kalau begitu apa masalahnya?" Tanya mama bingung.


"Kalau besok aku gagal, aku tidak tahu apakah aku masih bisa belajar memasak." Laura menatap mama dengan putus asa. "Aku mengagumi Antonio sebagai seorang chef pasta yang hebat. Kalau dia mengatakan aku tidak berbakat, bagaimana aku bisa terus belajar di bidang ini?"


"Laura, seharusnya memasak adalah hal yang menyenangkan untukmu," lanjut mama bijak. "Mama ingat pertama kali saat kau memasak untuk mama. Kini, mama tidak melihat raut wajah gembiramu lagi setiap kali kau memasak. Kau sudah membuat hal yang menyenangkan menjadi beban pekerjaan. Mama ingin melihat senyuman putri mama yang sedang memasak. Sekarang istirahatlah. Biarkan besok kau bangun dengan tubuh yang segar. Dan siapa tahu, kau bisa mendapatkan ide yang bagus untuk masakanmu."


Kata-kata mama sangat mengena di hati Laura. Mama memang benar. Laura sudah melupakan bagaimana perasaan menyenangkan yang ia dapatkan saat memasak. Laura membersihkan dapur, lalu beranjak ke kamar tidurnya.


Di meja kamarnya, Laura membuka tulisan tangan Niko sekali lagi. JANGAN MENYERAH. Laura tersenyum. (Aku tidak akan menyerah).

__ADS_1


Saat kepalanya menyentuh bantal, Laura langsung tertidur pulas.


 


Hari ketujuh


Laura bangun dengan hati ringan. Jam menunjukkan pukul 07.30. Laura tidak mencoba memasak lagi. Ia malah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mencuci pakaian, menjemur, membersihkan ruang tamu, dan mengepel lantai. Tepat pukul sepuluh, ia berangkat menuju tempat kerjanya. Seperti biasa, restoran masih kosong. Ia memandang tempat kerjanya selama dua tahun itu sambil menarik napas panjang.


Lalu, kakinya melangkah ke dapur, tempat semua makanan dibuat. Ia tersenyum tipis, kemudian mulai memasak. Selama memasak ia tersenyum bahagia. Ia tidak peduli makanan yang dimasaknya akan menjadi masakan terakhir di restoran ini.  Ia tidak peduli hari ini ia akan kehilangan pekerjaannya. Saat ini ia berkonsentrasi dengan masakan buatannya. Mamanya benar. Ia sudah lama tidak merasa gembira saat memasak. Hari ini ia merasakannya kembali.


Hari ini Laura tidak memasak untuk Antonio. Ia memasak untuk dirinya sendiri. Setengah jam kemudian, spageti buatannya sudah berada di piring dan akan dicicipi oleh bosnya.


"Kelihatannya enak," kata Maya dari belakang Laura.


Laura tersenyum pada Maya. "Terima kasih, mbak, saya ingin mengucapkan terima kasih atas semua bantuannya selama ini."


"Saya tidak tahu apakah saya masih bisa bertahan di restoran ini, tapi saya ingin mbak tahu bahwa saya menghargai semua bantuan mbak selama ini." Laura mengambil sisa spageti dari pancinya dan menyiapkan satu porsi baru untuk Maya. "Cobalah, mungkin ini masakan terakhir saya di restoran ini."


Maya mengambil piring yang disodorkan Laura dan mencicipi makanannya. Rasa spageti Laura membuatnya tercengang. "Spagetimu benar-benar lezat."


Laura tersenyum. Ia berharap Antonio merasakan hal yang sama dengan Maya.


Semua pelayan dan koki berkumpul di dapur. Piring spageti buatan Laura berada di tengahtengah meja. Antonio mengambil piring tersebut dan akhirnya mencicipi masakan Laura.


Laura tidak menyangka hatinya tidak tegang saat melihat bosnya mencicipi masakannya. Padahal ini momen paling menentukan untuknya, apakah ia akan berhenti atau bertahan.


Setelah mencicipi masakan Laura, Antonio memandang Laura dengan tatapan tajam. Tangannya menggeser piring Laura.

__ADS_1


Laura mengerti. Ia telah gagal. Tapi kali ini ia tidak mau Antonio membuang masakan buatannya ketempat sampah. Ia ingin melakukannya sendiri. Laura berjalan mendekati Antonio.


"Terima kasih atas bantuan anda selama ini. Saya akan membereskan barang-barang saya. Maaf kalau saya tidak bisa memasak sesuai selera anda." Tangannya bersiap-siap untuk membuang makanan dipiringnya ketempat sampah.


Tapi tangan Antonio menahannya. "Jangan dibuang. Aku belum memakannya sampai habis."


Laura tercengang mendengarnya. Baru kali ini Antonio mau menghabiskan masakan buatannya. Laura melihat Antonio menghabiskan sisa makanannya.


Antonio memandang Laura lagi. "Tehnik memasakmu masih payah. Tapi kau sudah membuat masakan yang berbeda daripada sebelumnya. Kali ini rasanya enak." Laura tersenyum gembira.


"Tapi, kau juga harus ingat, rasa yang enak saja tidak cukup," kata Antonio tegas.


"Saya mengerti, apakah ini maksudnya anda tidak akan memecat saya?" harap Laura cemas.


"Tidak hari ini." Antonio memberikan sendok makannya pada Laura. "Kau bisa memulai pekerjaanmu di dapur hari ini."


Laura mengambil sendok yang disodorkan Antonio padanya dan untuk pertama kalinya meraih tangan bosnya. "Terima kasih,s aya yakin anda tidak akan menyesal sudah memberi kesempatan ini pada saya."


"Kau bisa memulainya dengan dolce (*manis*makanan pencuci mulut italia), kata Antonio.


"Dolce?" Laura kebingungan. "Bukankah saya seharusnya memasak pasta?"


"Jangan serakah, Laura," kata Antonio tegas. "kau mulai dari dolce. Aku memberimu tiga bulan percobaan. Aku tidak yakin kau bisa bertahan lebih dari tiga bulan." Antonio mendengus perlahan.


"Saya akan berusaha keras. Terima kasih," ucap Laura gembira.


 

__ADS_1


__ADS_2