Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 22


__ADS_3

"**Kau terlihat sedikit bingung hari ini." Mata Maya mengawasi Laura dengan tajam. "Tidak seperti biasanya. Apakah ada hal yang mengganggu pikiranmu?"


Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Laura sedang mengelap peralatan masaknya. "Aku tidak pernah bisa menyembunyikannya dari mbak, ya."


Maya tersenyum. "Tidak. Aku memang terbiasa mengamati orang-orang disekitarku. Salah satu tuntutan pekerjaanku. Kau baik-baik saja?"


Laura tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Tadi pagi aku membaca koran, sekolahku mau mengadakan reuni."


"Kau ragu untuk datang?" tanya Maya.


"Yah, begitulah." Laura menarik napas perlahan.


"Ada orang yang tidak ingin kau temui?" Maya melihat tatapan Laura dan menganggap pertanyaannya telah mendapatkan jawaban. "Kau asisten chef sekarang, masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu."


"Aku tahu." Laura menunduk. "Hanya saja, aku takut menemuinya lagi."


Maya terdiam. "Laura yang kukenal berani menantang seseorang yang hampir memecatnya dua tahun yang lalu."


Laura tersenyum. "Aku tidak seperti itu sewaktu sekolah."


Maya menyentuh tangan Laura. "Laura, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di reunian itu. Tidakkah kau ingin pergi?" Laura terdiam.


Maya tersenyum lembut. "Kau tidak langsung mengatakan tidak. Apa salahnya bernostalgia dengan teman lama?"


"Thanks, mbak," kata Laura sunguh-sungguh. "Lebih baik datang daripada menyesal di kemudian hari, bukan?"


 


*****************************


Sore harinya, Laura memegang HP nya dengan gugup. Ia sudah memasukkan nomor Erika di HP nya. Jemarinya bergerak ragu antara mau menelepon atau tidak. Tapi sebelum sempat memutuskan, HP nya sudah berbunyi. Dari kantor mama.


"Halo," katanya.


Tak berapa lama kemudian wajah Laura berubah pucat. Telepon tadi berasal dari teman mama dikantor. Dia mengatakan bahwa mama pingsan di kantor dan sekarang sedang berada di rumah sakit.


Laura langsung meninggalkan rumah dan bergegas menuju rumah sakit. Di dalam taksi, ia mengirim pesan pada Maya bahwa ia tidak bisa bekerja malam itu.


Laura berlari menuju kamar rumah sakit tempat mama dirawat. Napasnya terengah-engah. Ia melihat mama terbaring di ranjang dengan selang infus ditangannya.


"Bagaimana keadaan mama?" tanya Laura panik. "Apanya yang sakit, ma? Apa kata dokter?"


Mama berusaha menenangkan putrinya. "Mama sudah tidak apa-apa. Dokter memperkirakan mama kena demam berdarah. Jadi perlu dirawat." "Aku akan menginap disini," kata Laura tegas.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" mama menanyakan dengan cemas.


"Aku sudah memberitahu mbak Maya. Dia bilang tidak usah khawatir. Lagi pula besok Antonio sudah pulang dari italia. Jadi pekerjaanku sudah ada yang menggantikan." Laura membuka jaketnya dan duduk disamping ranjang. "mama mau makan sesuatu?" Mama menggeleng.


"Kalau begitu mama istirahat saja." Laura menyelimuti mama dan memperhatikan mama mulai memejamkan mata. Semalaman Laura tidak bisa tidur. Ia khawatir terjadi sesuatu pada mama. Pagi harinya, dokter mengatakan kondisi mama sudah membaik dan Laura sedikit lega.


"Pulanglah," kata mama sedikit mengomel. "Kau kelihatan lelah sekali. Istirahat saja."


"Baiklah," kata Laura tanpa berdebat. "Aku akan pulang. Aku akan mengambil baju mama untuk dibawa kemari. Dan aku akan tinggal dirumah sakit malam ini menemani mama."

__ADS_1


Mama hendak menyelanya, tapi Laura sudah berkata lagi.


"Tidak ada bantahan kali ini. Pokoknya aku mau menginap disini sampai mama sembuh."


Melihat tekad putrinya yang tidak tergoyahkan, mama akhirnya menyerah.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆


"Kau tidak tidur?" tanya mama tiba-tiba.


Laura memandang mama yang terbangun di tengah malam. Sudah tiga hari Laura berada dirumah sakit menemani mama. Kondisi mama semakin hari semakin baik, dokter sudah mengatakan besok mama boleh pulang.


"Maaf, aku membangunkan mama." Laura menghampiri mamanya sambil menyuguhkan segelas air.


"Tidurlah. Mama sudah tidak apa-apa," kata mama setengah mengantuk.


"Aku akan tidur sebentar lagi," janji putrinya.


Beberapa saat kemudian, Laura melihat mamanya kembali tertidur pulas. Mata Laura tertuju pada kalender meja disebelah tempat tidur mama. Hari ini hari reunian. Laura tidak bisa datang, tapi ia tidak menyesal.


Mama orang terpenting baginya, lebih dari sebuah reuni ataupun pekerjaan. Tanpa mama, Laura tidak tahu harus berbuat apa. Mama mendukung pekerjaannya yang sekarang. Mama bilang selama Laura bahagia, apapun yang dikerjakan Laura, ia akan mendukungnya seratus persen.


Laura menatap mama dengan haru. Mama telah berhasil membanting tulang membesarkannya selama ini. Ia mengelus rambut mama dengan perlahan lalu mengecup keningnya.


"Mama ibu terbaik di dunia," bisiknya perlahan.


Setelah itu ia berbalik ke jendela dan menatap langit. Malam bulan purnama. Bintang di langit bersinar terang. Laura teringat pada kenangan masa lalunya di sekolah. Tentang pertemuannya dengan Niko, melihatnya dari kejauhan, mengembalikan lukisannya, semobil berdua dengannya, tertidur di bahunya, sampai perpisahan dengannya. Ia mengambil kertas JANGAN MENYERAH Niko dari saku celananya.


Ketika Laura hendak membuang kertas tersebut, niatnya terhenti. Bagaimanapun kertas tersebut sudah menemaninya pada saat-saat tersulit dalam hidupnya. Laura melipat kertas tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam saku. (Hanya satu kenangan ini) katanya dalam hati. (Biarkan aku menyimpan yang satu ini saja dan melupakan yang lain).


 


*****************************


Satu bulan kemudian, Laura menghadap Antonio dengan gugup. Wajah bosnya terlihat manakutkan. Itu artinya ia pasti melakukan kesalahan serius.


"Antonio...," katanya perlahan, "begini... soal menu baru restoran hari ini, the mixed spagetti, aku tahu seharusnya aku berkonsultasi dulu denganmu. Maaf."


Antonio memandang Laura dengan bingung. "Apa yang kau bicarakan?"


Kini giliran Laura yang bingung. "Bukankah kau memanggilku ke sini karena kau tidak suka dengan menu baruku?"


Antonio tertawa terbahak-bahak. "Tidak. Aku suka menu barumu."


"Kalau begitu, mengapa mukamu menyeramkan begitu?" tanya Laura terus terang.


Antonio cemberut. "Karena sepertinya aku bisa kehilangan asisten terbaikku."


"Kau memecatku?" Laura protes. "Bukankah kau bilang kau suka menu baruku? Jadi mengapa kau memecatku?"


"Laura, duduklah dan dengarkan aku dulu." perintah Antonio.

__ADS_1


Laura tidak punya pilihan lain selain duduk dan mendengarkan perkataan bosnya.


"Aku tidak memecatmu," kata bosnya kemudian. "Bulan kemarin ketika aku pergi ke italia, aku berkunjung ke teman lama sekaligus pelatihku, Alberto Luceri. Aku bercerita tentang kau padanya. Jadi, kalau kau tertarik, kau bisa belajar banyak padanya."


Laura kaget sampai melongo. "Maksudmu... aku bisa belajar dari gurumu?"


"Jadi, bagaimana? kau tertarik?" tanya Antonio penasaran. "Kau akan mempelajari banyak hal darinya. Hanya saja kau harus pergi ke Italia. Aku yang akan menanggung akomodasinya."


Laura sangat berminat dengan usul Antonio. "Tapi berapa lama aku harus tinggal di Italia?"


"Mungkin setahun," kata Antonio mengira-ngira. "Aku tidak tahu. Semua terserah pada Alberto dan kau. Kau mau terima tawaran ini?"


Laura tertawa gembira. "Aku pasti sudah gila kalau menolak tawaran sebagus ini. Hanya saja aku harus mendiskusikannya dulu dengan mamaku."


Antonio mengangguk mengerti. "Aku harap mamamu mengerti dan mengizinkanmu pergi." "Aku akan berbicara pada mama hari ini," kata Laura.


"Laura," Antonio memberi peringatan. "Kalau kau jadi pergi ke Italia, jangan lupa untuk pulang dan bekerja kembali di sini."


Laura tersenyum. "Tentu saja aku akan kembali. Kau tidak usah khawatir."


 


**********************************


"Apakah kau masih perlu meminta izin mama?" mama memandang putrinya sambil tersenyum bangga. "Tentu saja mama mengizinkanmu. Ini kesempatan langka. Kau harus meraihnya." "Aku tahu....," katanya hati-hati. "Tapi..."


Mama menggeleng. "Kau tidak perlu khawatir soal mama. Mama sudah sembuh total kok.


Pergilah. Kejarlah mimpimu untuk menjadi seorang chef pasta."


Laura memeluk mama erat-erat. "Terima kasih ma. Aku berjanji akan sering-sering menelepon. Dan mama juga harus berjanji harus meneleponku kalau terjadi apa-apa. Aku pasti akan langsung pulang."


"Mama berjanji akan menjaga diri mama baik-baik. Kau tidak usah khawatir." Mama balas memeluk Laura dengan erat. "Kau juga harus menjaga diri disana."


"Aku berjanji," kata Laura bersungguh-sungguh.


 


**************************************


Dua minggu kemudian, para pelayan restoran,rekan kerjanya, Antonio,dan mama mengantar Laura ke bandara.


"Telepon mama sesampainya kau disana," kata mama sambil memberikan pelukan terakhir pada putrinya sebelum berangkat.


Maya juga memeluk Laura dan berbisik, "Jangan lupa untuk kembali. Kau satu-satunya asisten yang bisa diterima Antonio. Aku tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan dengan asisten barunya yang akan datang besok."


"Aku berjanji akan kembali, mbak. "Laura melepas pelukannya dan mengucapkan selamat tinggal pada yang lainnya. Kemudian kakinya melangkah pergi menuju pintu masuk keberangkatan**.


Autor hanya Meminta kalian


Like


Komen

__ADS_1


Vonte


__ADS_2