
"**Aku tidak akan menerima wanita itu." Luki menatap papanya dengan kesal. "Mungkin saja dia berbohong. Laura bukan putri papa. Apakah papa tidak curiga?"
Charles manatap putranya dengan marah. "Aku tahu dia tidak berbohong. Kenapa kau sangat membencinya? Dia selalu bersikap baik padamu."
Luki tersenyum kecut. "Dia cuma ingin uangmu, pa?"
"Tuduhanmu tidak benar Luki," kata papa geram. "Dia bahkan bilang dia tidak akan tinggal dengan papa kalau kau tidak setuju."
Luki tersenyum. "Baguslah. Aku tidak akan menyetujuinya sampai kapanpun." "LUKI.....!" Teriak Charles, tapi Luki sudah keluar dari kantor.
*************************
"Ada seseorang yang ingin menemuimu," kata Maya pada Laura yang sedang bekerja di dapur.
Laura meminta salah seorang asisten menggantikannya lalu keluar dari dapur. Ia melihat Luki duduk di salah satu meja di sudut restoran. Laura datang menghampirinya.
"Duduklah," kata Luki tanpa memandang mata Laura.
__ADS_1
Laura duduk di depan Luki. "Kenapa kau kemari?"
"Ibumu mengatakan pada ayahku bahwa kau putrinya," kata Luki tanpa basa-basi. "Aku tidak memercayainya."
Laura menatap Luki dengan sedih. "Kenapa kau sangat membenci ibuku?"
Luki membalas dengan kesal. "Apakah kau pernah kehilangan seorang ibu?"
Laura menggeleng. "Tidak."
"Kalau begitu kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya." Luki mengenggam jemarinya sampai memutih. "Ibumu memiliki cara hebat untuk membuat ayahku menikahinya."
"Aku tidak percaya pada cintanya." Luki tertawa pendek. "Itu hanya alasan yang dibuat ibumu."
Laura mengerti sekarang. "Kau tidak pernah mencintai seseorang bukan?"
"Aku mencintai ibuku," sanggah Luki.
"Ya. Aku tahu itu," kata Laura. "Tapi dia sudah meninggal. Setelah itu kau tidak pernah mencintai siapa-siapa lagi, bukan? Hidupmu pasti terasa hampa."
__ADS_1
Luki mendengus pelan. "Kau berani menguliahiku tentang hidupku? Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Aku datang kesini untuk menawarimu uang." "Hah?" Laura binggung.
"Berapa uang yang kau mau supaya kau dan mamamu tidak pernah menemui ayahku lagi?" Luki mengeluarkan selembar cek dari sakunya.
Laura tidak percaya Luki mengajukan tawaran seperti itu. "Kalau kau bukan kakakku, aku pasti sudah membencimu saat ini juga. Aku tidak mau uangmu."
"Oh....kau mau uang yang lebih banyak? Tidak masalah." Luki mulai menulis sejumlah uang pada cek nya.
"Kau benar-benar menghinaku, Luki!" Laura menatap kakaknya dengan sedih. "Tidak ada uang sebanyak apapun di dunia ini yang bisa mengantikan hubungan keluarga. Aku tidak akan pergi. Aku ingin mengenal ayahku. Aku ingin mengenalmu juga."
Luki tercengang, tapi kemudian bertepuk tangan. "Bravo! Perkataanmu benar-benar membuatku tersentuh." Dia tidak memercayai satu pun perkataan yang keluar dari mulut Laura.
Laura tahu dia tidak bisa meyakinkan Luki. Akhirnya dia berkata perlahan. "Kau menganggap semuanya bisa diselesaikan dengan uang. Hubungan seorang putri dengan ayahnya tidak bisa dibeli dengan uang, Luki. Tapi, baiklah, kau ingin tahu berapa uang yang ku inginkan? Aku ingin setengah dari uang yang kau punya."
Luki merobek cek di tangannya. "Kau benar-benar serakah."
"Kalau aku benar-benar serakah, aku sudah meminta uang saat pertama aku tahu aku putri Charles Rafael. Sebelum kau menawarkanya padaku. Pikirkanlah, Luki. Aku percaya pada ibuku. Lakukanlah tes DNA kalau kau tidak percaya aku putri ayahmu. Aku tidak akan menolaknya."
"Bagus. Aku akan melakukannya," kata Luki. "Aku tidak ingin papa tertipu. Kau akan dihubungi oleh pengacaraku."
__ADS_1
"Aku akan menantikannya." Laura balas menatap tantangan di mata Luki**.