
''Hai Erika,'' sapa Laura sopan.
''Apa yg kau lakukan di mobil Niko?'' tanya Erika curiga.
''Aku memberi tumpangan pd Laura,'' kata Niko memberi penjelasan. ''Kebetulan tadi aku lewat depan halte bus tempat Laura sedang menunggu.''
Erika menatap Laura dgn pandangn tdk suka. ''Aku tdk suka kau bersama cewek lain di mobilmu, Niko,'' kata Erika ketus.
''Maaf'', sela Laura, ''Niko benar-2 hanya memberiku tumpangan.'' ''Aku tdk bicara pd mu,'' kata Erika dingin.
''Erika, ayolah,'' kata Niko sedikit kesal. ''Kau bersikap kekanak-kanakan.''
''Pokoknya mulai besok kau harus menjemputku dulu setiap pagi sebelum pergi ke sekolah. Kita pergi bareng,'' kata Erika ketus.
''Bukannya kau selalu memakai mobilmu sendiri ke sekolah?'' tanya Niko seakan permintaan Erika tdk masuk akal.
''Yah, mulai besok aku mau dijemput olehmu,'' kata Erika sedikit memelas.
Niko yg tdk tega melihat tampang Erika sepeti itu langsung menyetujuinya. ''Baiklah, besok aku akan menjemputmu lebih dulu.''
Erika langsung memeluknya. ''Nah, itu baru pacarku.''
Niko hanya menggeleng sambil mendesah. Laura mendengar percakapan keduanya dgn sedih. Ia tahu Niko tdk akan menyukainya lebih dari pada teman. Niko sudah punya Erika. Tapi tetap saja perasaan sedih di hatinya tdk bisa hilang. Memang sangat menyedihkan mengharapkan sesuatu yg bukan miliknya. Tapi, melihat senyum Niko bersama Erika membuat perasaan Laura kembali membaik. Tidak perduli bersama siapa, asalkan Niko bisa tersenyum bahagia, maka ia pun ikut bahagia.
***
Tapi hari-2 berikutnya terasa berat untuk Laura, karena sepertinya Erika sudah menetapkannya menjadi musuh nomor satu di sekolah. Paginya, ditoilet cewek, teman-2 Erika sengaja menabraknya hingga jatuh tanpa meminta maaf. Laura hanya bisa berdiri dan terdiam. Ia tahu itu peringatan dari Erika utk tdk mendekati Niko lagi. Dan ia tdk bisa menyalahkan Erika. Ia pun tentu ingin melindungi miliknya, walaupun mungkin caranya tdk akan sama seperti yg dilakukan Erika. Untungnya beberapa hari kemudian ada pertandingan persahabatan dgn sekolah lain sehingga Erika sibuk membantu Niko mempersiapkannya, dan ia melupakan soal Laura utk sementara.
Lapangan basket dipenuhi para siswa yg sedang berteriak. Masing-2 siswa memberikan semangat pd sekolahnya. Laura melihat keramaian itu dr ruang tata boga. Ia tahu Niko sedang bertanding. Tangannya dgn teliti mencetak adonan terigu menjadi sebuah bintang, Setelah satu loyang sudah terisi penuh, ia memasukkannya ke oven. Ia paling suka menunggu saat-2 seperti ini.
__ADS_1
Teriakan dilapangan semakin kencang. Laura tersenyum. Ia yakin tim Niko akan menang. Tak berapa lama kemudian pertandingan selesai. Laura melihat ke arah lapangan. Skor 24-21 utk kemenangan tim Niko.
**
Bunyi timer menyadarkan Laura utk membuka oven. Dihirupnya wangi kue yg sudah dibuatnya. Bibirnya tersenyum puas. Ia mengambil kue bintang dr adonan satu persatu, lalu meletakkannya di sebuah piring besar. Ia akan menawarkan kue buatannya pd tim basket Niko yg telah berhasil memenangkan pertandingan.
Laura keluar dr ruang tata boga sambil membawa sepiring kue buatannya. Di lapangan sudah tdk terlihat pertandingan basket lagi. Para siswa sedang mengerubungi tim Basket Niko utk memberi selamat.
Laura menunggu sampai semua teman-2 Niko selesai, lalu berjalan mendekatinya. ''Niko selamat ya.''
Niko yg masih mengenakan seragam klub basket dan berkeringat, tersenyum menatap Laura, ''thanks''' ujarnya.
''Ehm... mau coba kue buatanku?'' tanya Laura sambil menyodorkan piring di hadapannya.
Niko mengambil salah satu kue bintang yg ada dipiring lalu mamakannya.
Laura lalu menawarkan hal yg sama pd semua teman Niko di klub basket. ''Silahkan coba'', katanya ramah.
Tanpa pikir panjang, teman-2 Niko mengambil kue-2 yg ada dipiring sambil memuji Laura sesudah memakannya. ''Kue buatanmu enak sekali'', kata salah satu teman Niko. ''Adikku suka bereksperimen dgn kue, boleh aku minta resep kuenya?''
Laura mengangguk, ''Tentu saja. Aku akan memberikan resepnya di kelas nanti''.
Teman Niko tersenyum. ''Thanks.”
Tiba-2 seseorang menabrak Laura dr belakang sehingga piring yg dibawanya terjatuh dan kue-2 nya berceceran di tanah. ''Oh....maafkan aku'', kata Erika, yg jelas sengaja menabrak Laura. ''Aku tdk sengaja.”
''Erika'', omel Niko, ''kenapa kau bisa seceroboh ini?''
''Aku benar-2 minta maaf, Laura''. Erika memandangi Laura sambil tersenyum.
__ADS_1
Laura tdk tahu apakah Erika sengaja atau tdk menabraknya, tetapi ia sedih melihat hasil karyanya berakhir di lapangan. ''Tdk apa-2'', sahutnya kemudian.
Erika tersenyum lebar, ''Aku benar-2 tdk sengaja,'' katanya lagi, lalu tatapannya beralih pd Niko. ''Niko, sebentar lg grup marching band ku akan tampil di aula. Ayo ikut kesana.'' Erika menarik tangan Niko utk mengikutinya.
Tapi sebelum pergi, Niko berbicara pd Laura, ''Maafkan Erika, ya.''
Laura mengangguk. ''Tdk apa-2''.
Setelah memandangi punggung Niko yg menghilang di balik aula, Laura mengumpulkan kue-2 yg berserakan dilapangan dan menempatkanya kembali dipiring. Ia berjalan perlahan, kemudian membuang semua kue itu. Saat semua kuenya sudah berpindah ketempat sampah, hatinya merana sedih.
Dalam perjalanan pulang hari itu, Laura termenung lama. Mungkin sebaiknya ia berhenti berteman dgn Niko. Dan keinginan ini ia utarakan pd mama.
''Apakah sebaiknya aku berhenti berteman dgn nya, ma?'' tanyanya saat mereka mencuci piring di dapur.
Mama menatap putrinya dgn lembut ''Apakah kau mau berhenti berteman dgn nya?''
Laura menggeleng.
''Laura'', ujar mama sambil menutup keran air, ''kenapa kau tdk berterus terang pd cowok ini kalau kau menyukainya?'
''Dia tdk menyukaiku,'' jawab Laura memberi penjelasan.
''Bukankah lebih baik kau mengatakan isi hatimu pd nya. Lalu setelah kau mengetahui dia tdk menyukaimu, kau bisa mulai menghentikan perasaanmu pd nya dan memulai hubungan yg baru.''
''aku tahu, tapi... rasanya sulit sekali melepaskannya. Apalagi sekarang kami sudah berteman.'' ''Kau ingin jd pacarnya?'' tanya mama lagi.
Laura menatap mama dgn sedih. ''Itu harapan yg tdk mungkin, Ma. Dia menyukai pacarnya yg sekarang. Tapi, apakah perasaanku menyukainya salah,ma?''
Mama menggeleng. ''Cinta memang tdk sederhana. Kau tdk salah menyukainya. Hanya saja kau menyukai orang yg salah di waktu yg salah''.
Laura mendesah. ''Beri aku waktu sampai kelulusan SMA. Saat itu, aku akan memutuskan utk melepaskannya. Lagi pula, kami tentu akan berpisah jg. Dia pasti kuliah di tempat yg berbeda dgn ku. Aku sudah mengejarnya selama satu tahu setengah. Kelulusan sekolah tinggal 7 bulan lagi. Biarkan aku memiliki waktu ini utk menyukainya.''
Mama memeluk putrinya, ''Oke. Cuma sampai kelulusan, ya. Setelah itu kau harus melepaskannya. Percayalah pd mama, cepat atau lambat, waktu akan menyembuhkan luka di hatimu.''
__ADS_1
''Thanks, Ma'', balas Laura sambil memeluk dan menghirup aroma wewangian tubuh mama. Laura tersenyum, pelukan mama selalu mambuatnya merasa lebih baik.