Butuh Waktu

Butuh Waktu
Kepindahan II


__ADS_3

Selama acara api unggun Erika melihat konsentrasi Niko pada dirinya terpecah. Niko seperti sedang memikirkan sesuatu. Tangan mereka memang bertaut, tapi Erika merasakan pikiran Niko tidak bersamanya.


Laura melihat kehebohan acara api unggun dari deretan kedua. Ketika salah seorang murid bernyanyi dengan gaya heboh, ia tertawa lepas.


Di seberangnya, perlahan tangan Niko melepas genggaman tangan Erika.


Erika menatap Niko dengan bingung. Tapi tatapan Niko tidak tertuju padanya. Erika lalu melihat arah pandangan Niko dan menahan napas. Laura.


Niko memandang Laura yg sedang tertawa. Dan Laura sepertinya tidak menyadari hal itu. Saat napasnya kembali, Erika tidak bisa menahan sakit hatinya. Ia berbalik dan menjauh dari Niko.


Di tengah jalan ia berhenti, berharap Niko menghentikan langkahnya. Tapi Erika menyadari tak seorangpun menyadari kepergiannya. Ia berlari menuju gedung dan masuk ke toilet lantai dua.


Ia menutup pintu toilet dan terduduk di sana. Ia menguatkan hati untuk tidak menangis. Lalu setelah beberapa saat ia bangkit berdiri dan memandang cermin.


(Aku tidak akan dikalahkan oleh siswi kampung itu,) katanya pada bayangannya di cermin. (aku adalah Erika. Gadis terpopuler di sekolah. Semuanya akan berakhir dalam beberapa hari. Gadis kampung itu tidak akan bertemu lagi dengan Niko.)


Erika keluar dr toilet dan menuruni tangga. Di tengah tangga, ia melihat Laura sedang mengetik SMS di HP nya. Erika baru menyadari selama ini ia tidak pernah memikirkan bahwa (bodohnya aku), kata Erika tanpa bisa meredam amarahnya. Ia menuruni tangga dan tanpa pikir panjang merebut HP Laura.


Laura terkejut ketika ada seseorang mengambil HP nya.


"Kau sedang mengrim SMS untuk Niko, ya?!" teriak Erika yg sudah tidak bisa mengotrol emosinya.


"Kau ini ngomong apa sih?" tanya Laura tidak mengerti.


"Selama ini kau pasti sering SMS an dengan Niko," tuduh Erika kesal.


Laura semakin bingung, "Aku tidak mengirim SMS pada Niko."


"Kau berbohong!" seru Erika. Kali ini Laura sudah tidak bisa menolerir kecemburuan Erika.


"Kembalikan HP ku", pinta Laura kesal. "Aku tidak mengirim SMS pada Niko. Aku sedang mengirim SMS pada mamaku."


Erika tertawa sinis. "Aku tidak percaya padamu." Ia mulai mengutak atik HP Laura.


Laura kesal. Erika melanggar pripasinya. Erika memang pacar Niko, tapi Laura tidak terima diperlakukan seperti itu. Tangannya mencoba mengambil HP nya kembali. "Kembalikan"! katanya tak kalah keras.


"Tidak!" teriak Erika.


Laura kembali berusaha merebut HP nya dari tangan Erika. Tapi tanpa sengaja tangannya mendorong pundak Erika, lalu sedetik kemudian tubuh Erika limbung dan jatuh terguling sampai ke dasar tangga. HP Laura pecah berantakan.


Laura terpana. Ia tidak menyadari apa yg baru saja terjadi. Ia cepat-cepat berlari menyusul Erika. Suara seseorang jatuh telah membuat para murid mengalihkan perhatian ke lantai bawah tangga. "Erika!" kata Laura terengah engah. "Kau tidak apa-apa?" Erika bergeming.

__ADS_1


Teman-teman Erika berlarian menghampirinya. Mereka menatap Laura dengan marah. "Kau mendorongnya."


Laura menggeleng. "Aku tidak bermaksud mendorongnya."


"Aku lihat kau mendorongnya," tuduh salah satu teman Erika.


"Ya ampun! Erika. Kau tidak apa-apa?" Erika mulai mengerang kesakitan.


"Ada apa?" tanya Niko yg kemudian menghampiri kerumunan. Lalu ia melihat Erika tergeletak dilantai. "Erika!" teriaknya panik sambil merengkuh tubuh Erika. "Ada apa? Kenapa kau bisa berada di bawah sini?"


Erika berkata lemah. "Aku jatuh dari tangga."


Tangan Erika memeluk perut Niko. "Pungung dan kakiku sakit sekali."


Niko mengecek kaki Erika yg lebam. Lalu dia menengadah, menatap Laura yg panik di depan Erika.


Erika mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan simpati Niko. "Laura mendorongku."


Niko terkejut tidak percaya. "Apa?"


Salah seorang teman Niko membenarkan perkataan Erika.


"Aku melihat mereka bertengkar di tangga. Lalu Laura mendorong Erika sampai terjatuh." Laura merasa dunianya hancur saat itu. Niko membopong Erika perlahan.


Niko menatap Laura dengan dingin. "Sekarang aku tidak ingin mendengar penjelasanmu."


Para murid mengikuti langkah Niko, meninggalkan Laura seorang diri.


Laura tidak bisa bernapas. Hatinya terasa sesak. Sepasang mata cokelat hangat yg pertama kali ia lihat dua tahun lalu, kini berubah dingin. Ia jatuh terduduk. Air mata membasahi pipinya. Laura menangis terisak isak.


Setelah itu ia tidak sadar lagi apa yg terjadi. Mulai dari perjalanan pulang dari pantai ke sekolah sampai perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Ketika tiba di depan rumahnya, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Laura membuka pintu rumah dengan lemas.


Lampu ruang tamu masih menyala.


"Laura?" tanya mama yg sedang duduk di ruang tamu, tampak khawatir. "Mama mencoba meneleponmu beberapa kali, tapi kau tidak menjawab teleponmu. Mama benar-benar khawatir....


Mama..."


Mama berhenti berbicara ketika melihat Laura termenung dan membisu.


"Ada apa?" tanya mama bingung. "Mengapa kau seperti ini?"

__ADS_1


Kaki Laura lemas dan terduduk di lantai. Mama langsung menyadari sesuatu yg buruk telah terjadi pd putrinya.


Mama langsung memeriksa seluruh tubuh putrinya, seakan memastikan tidak ada luka disana.


"Apa yg terjadi?"


Laura akhirnya menatap mama dengan tatapan kosong.


"Mama, maaf aku tidak memberi kabar."


Mama semakin kebingungan. "Tidak apa-apa, tapi kau kenapa?"


"Aku tidak tahu Hp ku dimana," kata Laura dengan tatapan kosong. "Sepertinya aku menghilangkannya."


"Itu tidak penting." Mama mulai menggucang pundak Laura dengan kencang. "Ada apa denganmu?"


Air mata Laura mengalir lagi. Laura menangis sekencang-kencangnya sambil memeluk mama. "Sakit sekali, Ma," isak Laura. "Hatiku sakit sekali."


Mama hanya bisa balas memeluk. Ia membiarkan putrinya menangis sepuasnya. Beberapa lama kemudian, tangis Laura berubah menjadi isakan perlahan.


Mama melepaskan pelukannya dan menyuguhkan segelas air putih pd Laura. "Minumlah," katanya lembut. "Setelah itu sebaiknya kau beristirahat di kamar." Laura mengangguk dan meminum air yg diberikan mama.


Mama membantu Laura berdiri lalu memapahnya ke kamar tidur. Setelah Laura berbaring di ranjangnya, mama menyelimutinya lalu mengecup keningnya. "Tidurlah."


Setelah mama pergi, meskipun lampu telah dimatikan, Laura tetap tidak bisa tidur. Ia masih mengingat kejadian sebelumnya. Erika terjatuh dari tangga. Tatapan Niko yg dingin padanya. Laura tahu dirinya akan berpisah dengan Niko, tetapi ia tidak ingin perpisahannya berakhir dengan kejadian yg menyakitkan seperti ini.


Ketika mama mengetuk pintu kamar Laura keesokan paginya, ia melihat putrinya sudah bangun dan memakai seragam.


"Kau sudah bangun", seru Mama.


Laura tersenyum. (Aku tidak tidur sama sekali.) "Ayo kita sarapan," ajak mama.


Di meja makan, Laura sarapan dengan tenang.


"Kemarin mama lupa bilang, kepindahan kita dipercepat tiga hari. Kita harus pindah besok," katanya hati-hati. "Tampaknya kau tidak bisa mengahadiri wisudamu. Tapi kalau kau ingin menghadirinya, Mama bisa memesan tiket yg lain untukmu. Nanti kau tinggal menyusul mama".


Laura menggeleng. "Tidak perlu, ma. Aku akan pergi bersama mama besok."


"Apakah kau yakin?" tanya mama ragu. "Kau tidak menghadiri acara wisudamu?" Laura menatap mama dengan pasti. "Aku yakin."


Mama tahu putrinya baru patah hati kemarin malam. "Baiklah, nanti siang mama telepon wali kelasmu agar menyerahkan ijazahmu lebih dulu."

__ADS_1


Laura mengangguk setuju. Ia mengambil tasnya dr kamar setelah sarapan. Amplop cokelat berisi gambar Niko masih disana. Ia mengambilnya juga dan keluar dari kamar.


__ADS_2