
**KEESOKAN harinya, Luki keluar dari kamar Laura dan bertemu dengan ibu tirinya. "Bagaimana keadaan Laura?" Tanya Helen.
"Sudah baikan. Dia masih tidur sekarang. Bisakah kita bicara sebentar?" Luki tidak sempat berbicara dengan ibu tirinya secara pribadi sejak kecelakaan yang menimpa Laura.
Helen mengangguk.
Di kantin rumah sakit, Luki membelikan secangkir teh untuk ibu tirinya.
"Kau terlihat lelah," kata Helen khawatir. "Sebaiknya kau pulang beristirahat. Selama seminggu ini kau menunggui Laura terus."
Luki menggeleng. "Aku tidak lelah. Ehm...... aku sudah membaca kartu ucapan ulang tahun yang ditulis olehmu. Laura membErikannya padaku di hari dia mengalami kecelakaan. Maaf, aku tidak tahu selama ini kau memikirkanku juga."
Helen menarik napas panjang dan memandang Luki, anak asuhnya yang kini sudah dewasa. "Aku tidak punya keberanian untuk mengirimkannya padamu."
"Kau benar-benar pergi." Luki menatap Helen dengan sedih. "Ketika aku menyuruhmu pergi waktu itu, kau benar-benar pergi. Aku tidak menyangka kau akan mengikuti keinginanku."
Helen meletakkan cangkir tehnya. Menatap Luki dengan lembut. "Aku tahu aku takkan pernah bisa menggantikan ibumu. Tapi, aku menyayangimu seperti anakku sendiri."
"Waktu itu...," pikiran Luki melayang ke masa 25 tahun yang lalu. "Sebenarnya aku tidak membencimu. Aku benar-benar takut. Kalau aku mulai menyukaimu,aku takut aku akan melupakan ibuku."
"Kenangan ibumu tidak akan hilang selamanya, Luki."
"Aku tahu itu sekarang. Kau bisa saja tinggal waktu itu. Aku hanya seorang anak kecil. Papa tentu akan membelamu. Mengapa....mengapa kau menuruti keinginanku untuk pergi?"
Helen menatap putra tirinya dengan lembut. "Karena....sebelum aku mencintai papamu, aku menyayangimu lebih dulu. Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu. Kau berada di taman dengan mamamu. Kau berumur tiga tahun. Kau tersenyum padaku dan memberiku setangkai mawar. Saat itu aku menyadari kau telah mengambil hatiku. Mengasuhmu bukan sekedar pekerjaan lagi bagiku, melainkan hidupku. Aku menyayangimu, Luki. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa papamu menyukaiku dan memutuskan untuk menikahiku. Dia berpikir aku bisa menjadi ibu yang baik untukmu."
Luki tertegun mendengar penuturan Helen. Hatinya merasakan keharuan yang mendalam. "Maaf. Aku menyebabkan putrimu mengalami kecelakaan." Lalu Luki menceritakan bagaimana dia bertemu dengan orang yang menabrak Laura.
Helen hanya menggeleng. "Tidak. Bukan salahmu."
__ADS_1
"Aku menyakiti putrimu. Dan kau tidak marah?" Tanya Luki bingung.
"Aku rasa kau sudah cukup menghukum dirimu sendiri." Helen menyentuh tangan Luki perlahan. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku yakin Laura juga tidak menyalahkanmu. Satusatunya orang yang merasa bersalah hanya dirimu sendiri. Kau harus melepaskan rasa bersalahmu, Luki."
"Aku tidak bisa." Luki mengepalkan tangannya. "Aku terlalu marah untuk bisa melepaskannya. Sama seperti ketika papa tidak berada disamping mama saat mama meninggal. Aku masih marah pada papa karena hal itu."
"Oh...kau salah sangka." Helen menggenggam jemari Luki erat-erat. "Papamu berada di luar negeri karena dia ingin mencari dokter terbaik untuk mengobati penyakit mamamu. Dia memohon dokter terbaik itu untuk pulang bersamanya. Tapi papamu tidak menyangka penyakit mamamu sudah parah. Dan ketika pulang, papamu sudah terlambat. Mamamu sudah tidak bisa diselamatkan."
"Apa?" Tanya Luki tidak percaya. "Papa tidak pernah memberitahuku soal ini. Mengapa?"
"Aku rasa papamu merasa terlalu bersalah dan berduka dengan kepergian mamamu. Dia tahu kau tidak akan menerima penjelasannya. Papamu benar-benar mencintai mamamu, Luki. Dia benarbenar kehilangan semangat hidup ketika mamamu meninggal. Berbaikanlah dengannya. Jangan biarkan papamu kehilanganmu juga."
Luki tidak kuasa menahan kesedihan dihatinya. Kini, setelah 25 tahun, kebenaran masa lalu terungkap.
"Aku harus kembali ke kamar Laura. "Helen berdiri dari kursinya. "Luki, sebaiknya hari ini kau tidak usah menjaganya, biar aku saja. Kau istirahatlah. Aku tidak mau kau jatuh sakit."
Saat Helen berbalik pergi, Luki tersenyum. "Terima kasih... ma..."
Luki berdiri dan mengahampiri Helen. "Aku bilang...terima kasih,mama. Kau adalah mamaku sekarang."
Helen menangis mendengar pengakuan Luki.
Luki memeluk Helen untuk pertama kalinya. "Aku senang kau yang menjadi ibu keduaku. Papa tidak salah pilih."
Helen memeluk putra tirinya sambil terisak-isak. "Terima kasih. Terima kasih karena telah menerimaku."
"Sekarang kita satu keluarga." Luki melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Helen, mamanya sekarang. "Aku akan pulang dan istirahat. Hari ini mama yang jaga. Tapi besok aku yang jaga, oke?"
"Baiklah." Helen tersenyum.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sesampainya di apartemen, Luki bergegas mandi. Kelelahan selama satu minggu akhirnya memaksa tubuhnya untuk beristirahat. Lima jam kemudian, Luki bangun dengan tubuh segar. Ada satu panggilan tak terjawab di HP nya. Dari inspektur Rahmat, petugas polisi yang menangani kasus kecelakaan Laura. Luki menelepon balik. Ternyata ada kabar baik. Keberadaan Dragon sudah terlacak. Polisi sudah menemukan tempat tinggal Dragon.
Sebelum sambungan telepon berakhir, Luki meminta sesuatu hal pada pak Rahmat. Dan setelah berbicara panjang lebar, akhirnya pak Rahmat menyetujui keinginan Luki.
************************
Dragon membuka pintu rumahnya pelan-pelan. Dia baru saja pulang dari pertemuan geng premannya. Minggu depan dia berencana mencuri mobil mewah di kawasan elite.
Ruang depan di rumahnya gelap. Dragon menyalakan lampu. Dan betapa kagetnya ia melihat Luki Rafael duduk dikursinya.
"Halo, Dragon. Kita bertemu lagi."
Mata Dragon mulai mengawasi sekelilingnya. "Bagaimana kau bisa ada disini?"
Luki berdiri. "Itu tidak penting. Kau telah sengaja menabrak adikku dan membiarkannya terkapar tak berdaya di jalan."
Dragon melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
Luki memperlihatkan salinan surat ancaman Dragon. "Kau menulis ini. Yang kau tabrak bukan pacarku. Tapi adikku. Seorang gadis yang sangat istimewa."
"Semua orang bisa menulis surat ancaman," Dragon berkelit. "Kau pasti punya banyak musuh.
Bisa saja orang itu menulisnya dengan memakai namaku."
__ADS_1
Luki berusaha menahan amarahnya dengan mengepalkan tangan. "Ketika kau menbrak adikku, dia sempat melihatmu. Saat aku memberi fotomu, dia mengenalimu sebagai orang yang menabraknya. Kau akan berada di penjara untuk waktu yang sangat lama**."