
**Luki mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Dia telah melakukan ini pada Laura. Semua ini kesalahannya, karena dia terlalu sombong dan tidak memedulikan perasaan orang lain. Aksinya menghajar seorang preman telah berbuah kecelakaan tragis. Pada adiknya. Yang selama beberapa hari ini berusaha membujuk Luki untuk menerima ibunya.
Dan selama itu pula, Luki menolaknya tanpa peduli pada perasaan Laura. Kini, adiknya terbaring di meja operasi. Nyawanya terancam. Luki tidak ingin perkataan terakhir mereka ditandai dengan kemarahan. ("Kau harus hidup, Laura") pintanya dalam hati.("aku ingin kau memaafkanku. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku hanya ingin kau hidup").
Lampu ruang operasi telah dipadamkan. Seorang dokter keluar dari pintu ruang operasi.
"Bagaimana keadaan putri saya, dokter?" Charles langsung bertanya. Helen bangkit dari kursinya dan menghampiri dokter yang mengoperasi Laura.
"Saat ini keadaan putri anda stabil," dokter Riswan menjelaskan dengan tenang.
Luki menarik napas lega. Laura masih bertahan hidup.
"Saya sudah melakukan operasi untuk memperbaiki kerusakan kaki kanannya," kata dokter Riswan lagi. "Saya perlu melihat perkembangan kaki kanan putri anda beberapa hari lagi. Kalau tidak terjadi infeksi, saya optimis putri anda bisa sembuh. Hanya saja, putri anda memerlukan terapi fisik untuk kakinya supaya bisa berjalan lagi. Putri anda masih muda, saya yakin dia bisa sembuh total."
Charles mengucapkan terima kasih berkali-kali pada dokter Riswan. Dua orang suster mendorong ranjang tempat Laura berbaring. Luki menghampiri ranjang tersebut. Dia melihat adiknya tidak sadarkan diri dengan perban putih membalut kepala, kaki, dan tangannya. Tangannya dipenuhi slang infus dan transfusi darah.
Melihat wajah putrinya yang lebam, Helen mulai menangis lagi. Ia memandangi Laura sampai ke kamar perawatan intensif. Ia bersikeras untuk tinggal di sana semalaman menjaga Laura.
Ketika seorang suster meminta Helen untuk menunggui Laura di luar kamar, Helen tidak mau beranjak. Charles Rafael menelepon dokter kepala rumah sakit pusat,salah satu relasinya, dan meminta supaya keluarganya punya akses untuk berada di ruang perawatan intensif selama mungkin.
Selama dua hari dua malam Laura tidak sadarkan diri. Pada hari ketiga, ketika mulai siuman, Laura melihat wajah mama yang sedih. Tangannya hendak menyentuh mama, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya tidur lagi.
Luki tidak bisa tinggal dia. Dia ingin preman yang manabrak Laura ditangkap. Bukan. Dia ingin preman tersebut babak belur ditangannya. Tunggu. Itu saja belum cukup. Dia ingin preman tersebut merasakan sakit yang sama dengan yang dirasakan Laura. Luki menelepon polisi dan membErikan surat ancaman Dragon kepada seorang inspektur polisi. Menurut sang inspektur, Dragon memang sudah menjadi incaran polisi sejak lama, tapi sulit ditangkap karena kurangnya barang bukti.
Luki meminta inspektur polisi tersebut menghubunginya kalau dia sudah tahu keberadaan Dragon. Luki tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai adiknya lolos begitu saja.
Kesembuhan Laura berjalan lambat, tetapai pada hari ke enam, Laura sudah bisa dipindahkan ke ruanag rawat biasa. Kini dia sudah bisa tersadar lebih dari enam jam sehari, walaupun tubuhnya kelelahan.
__ADS_1
Laura senang melihat Luki menjenguknya. Tadi siang Luki menggenggam tangannya dan tersenyum sendu. Laura balas tersenyum padanya. Mama dan papa tidak henti-hentinya bergantian merawat Laura. Laura masih belum bisa berbicara banyak. Tubuhnya masih banyak di pengaruhi obat anti sakit.
Ketika membuka matanya lagi, Laura melihat Luki tertidur di bangku dekat ranjangnya. "Lu....ki," katanya perlahan.
Luki langsung terbangun mendengar namanya di panggil. "Laura, kau tidak apa-apa? Kau butuh sesuatu?"
Laura menelan ludah lalu berusaha berbicar. "Haus..."
Luki mengambil segelas air diatas meja. Perlahan-lahan ia membantu Laura minum melalui sedotan di gelas tersebut. Setelah dahaganya hilang, Laura memandang Luki lagi. "Kau menjagaku semalaman?"
Luki mengangguk.
"Maaf kalau aku harus berkata jujur...." Laura tersenyum singkat. "Tapi kau kelihatan seperti gelandangan yang tidak mandi selama seminggu."
Luki tertawa lepas. "Kau sudah bisa bercanda." Luki menggenggam tangan Laura. "Maafkan aku, Laura. Semuanya gara-gara kesalahanku."
Laura menggeleng perlahan. "Aku mengalami kecelakaan. Ini bukan kesalahanmu."
"Ya," ucap Laura perlahan.
Luki langsung mengambil selembar foto dari tas kerjanya. "Apakah orang ini yang menabrakmu?"
Laura menyipitkan mata untuk melihat foto yang dibErikan Luki. "Aku rasa iya. Aku ingat ada gambar tato naga di tangannya."
"Bagus." Luki tersenyum puas. "Aku akan membuatnya membayar perbuatannya padamu. Maaf, Laura."
"Aku tidak mengerti." Laura menatap Luki dengan bingung. "Kenapa kau harus berurusan dengan orang yang menabrakku? Biarkan polisi saja yang mengurusnya."
__ADS_1
Luki menggeleng. "Aku harus memastikan Dragon tidak akan mencelakai siapa-siapa lagi. Dia menabrakmu untuk memberiku peringatan. Maaf, Laura. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Gara-gara aku kau jadi seperti ini."
Laura menekan tombol untuk menaikkan bagian kepala ranjang. "Aku mengalami kecelakaan, Luki. Kenapa kau harus merasa bersalah?"
Luki duduk di ranjang Laura dan mulai menceritakan kejadian dua minggu yang lalu, ketika Dragon menabrak mobilnya di luar pub, Luki menghajarnya, kemudian menabrak mobil Dragon lagi.
Laura mendengar penuturan Luki tanpa menyela. Setelah Luki selesai menjelaskan, Laura mengangkat tangan untuk menyentuh wajah Luki. "Kau tidak tahu," katanya dengan pandangan lembut. "Kau tidak tahu bahwa preman itu akan datang membalas dendam padamu. Itu bukan kesalahanmu, Luki. Aku yakin orang yang berbuat jahat akan mendapat balasannya."
"Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak akan bisa memaafkan orang itu, Laura," Luki bersikukuh.
"Kebencian tidak akan membuatmu merasa lebih baik, Luki." Laura menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Baik. Kalau kau tidak bisa memaafkannya, itu urusanmu. Tapi, jangan melakukan apa pun padanya. Biarkan pihak berwenang yang melakukannya. Tolonglah, Luki. Untukku. Maukah kau lakukan ini untukku?"
"Saat ini,aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena telah mencelakaimu," kata Luki sedih.
"Aku memaafkanmu," kata Laura tulus.
"Kenapa?" Tanya Luki. "Kenapa sebegitu mudahnya kau memaafkanku?"
"Jawabannya sederhana." Laura menatap Luki dengan lembut. "Karena kau keluargaku.
Keluarga saling memaafkan. Tanpa syarat."
Luki tersenyum. "Tetap saja masih belum bisa membuat rasa berasalahku berkurang."
Laura mendesah. "Jadi menurutmu, mengejar orang yang menbrakku dan menghajarnya akan membuat rasa bersalahmu berkurang?"
"Mungkin." Luki mengangkat bahu.
__ADS_1
Laura terdiam. Matanya menutup kembali. "Kalau kau menghajar preman itu," katanya perlahan sebelum beristirahat. "Kau sma saja dengannya. Sebagai kakakku, seharusnya kau lebih baik dari itu."
Luki memandang Laura yang tertidur pulas tidak berapa lama kemudian. Dia menyelimuti adiknya dan duduk termenung memikirkan perkataan tersebut**.