Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 32


__ADS_3

**Pukul 07.58, Laura tiba di depan kantor Luki.


"Aku kira kau tidak akan sempat," kata Luki ketika Laura memasuki kantornya.


Laura meletakkan paket menu B di depan meja Luki. "Satu-satunya penjelasan adalah... hmmm..... karena aku seorang chef yang hebat. Selama ini aku tidak pernah mengecewakan pelangganku."


Luki tersenyum melihat kepercayaan diri Laura, tapi sebentar lagi dia akan menghancurkannya. "Bisakah kau membukakan kotak makanannya?"


Laura membuka kotak makanannya dan menyodorkan garpu ke hadapan Luki, setengah berharap garpu tersebut bisa menusuk jantung pria itu. Tapi Laura menggantinya dengan tersenyum manis. ("Ingatlah,Laura,") katanya dalam hati, ("dia adalah pelanggan").


Luki mencoba mencicipi spageti Laura, tapi kemudian meletakkan garpu. "Ehm... aku rasa sebaiknya aku pindah lagi ke menu A. Jadi sebaiknya kau menyiapkan lagi menu A untuk besok pagi. Waktu yang sama. Sebelum jam delapan."


Laura memandang Luki dengan tenang. Luki kebingungan dengan tatapan Laura padanya. "Kau bisa keluar dari ruanganku sekarang. Sampai jumpa besok."


Laura berdiri dan mengambil satu-persatu kotak makanan dari tas yang dibawanya tadi dan meletakkannya di depan Luki. Totalnya berjumlah sembilan kotak makanan. Laura membuka semua tutup kotak tersebut dan menunjuk tiga kotak paling kiri. "Menu A." Lalu menunjuk tiga kotak selanjutnya. "Menu C." Terakhir dia menunjuk tiga kotak paling kanan. "Menu D. Kau bisa mencoba semua menu hari ini juga."


Luki tercengang. Dia tidak menyangka Laura bisa menyiapkan semua menu dalam waktu yang singkat.


Laura tersenyum penuh kemenangan melihat tampang Luki yang terdiam. "Kau sudah mencicipi menu B. Silahkan mencicipi tiga menu yang lain..... Aku sudah bilang kan, aku chef hebat?" Laura mengambil garpu baru dari tasnya dan menyodorkannya pada Luki. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan bahan makanan untuk tiga ratus karyawan yang tinggal dua hari lagi. Kalau kau tidak keberatan, aku mau kau memutuskan menunya hari ini juga."


Luki mengambil garpu baru dari tangan Laura. Kali ini dia mengaku kalah pada gadis di depannya. Setelah mencicipi semua menu, Luki memutuskan untuk memilih menu A.


Laura mengeluarkan selembar kertas. "Aku mau kau menandatangani kertas ini."

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Luki sambil mengambil kertas dari mejanya.


"Perjanjian kerjasama antara perusahaanmu dan restoranku. Di situ tertulis kau sudah memilih menu A dan tidak akan mengubah pilihanmu lagi. Kalau kau mengubahnya sehari sebelum pesta, perusahaanmu yang menanggung semua ganti ruginya."


Luki membaca perjanjian tersebut. Dia sudah meremehkan kemampuan Laura. Kali ini dia kalah telak dari seorang gadis. Luki mengambil balpoinnya dari meja dan menandatangani perjanjian tersebut.


Laura memberikan satu salinan untuk Luki dan mengambil satunya lagi untuk dirinya. "Terima kasih."


Laura membereskan kotak makanan di meja Luki dan merapikannya kembali ke dalam tasnya. Sebelum Laura pergi, Luki berkata, "aku terlalu meremehkan dirimu bukan?"


"Aku tidak menyukai permainanmu, Luki," kata Laura serius. "Aku menyukai pekerjaanku. Aku tidak akan bermain-main dengan pekerjaanku. Sampai ketemu dua hari lagi."


Laura meninggalkan Luki yang menatap pintu kantornya lama setelah itu.


LAURA mencoba mengangkat panci spageti ke ruangan hotel. Pesta karyawan Rafael akan dimulai satu jam lagi. Semua makanan sudah sampai di hotel, tinggal menata penyajiannya di meja.


"Terima kasih, ma?" Kata Laura mulai menata masakannya. Dia melihat mama membantu pelayan yang lain. Mama bilang dia bosan kalau kerjanya hanya menjahit dirumah. Jadi setiap kali Laura bertugas menyiapkan katering, mama pasti membantunya. Mama bilang ia senang bisa bekerja dengan putrinya.


Spanduk pesta mulai dipasang. Dan beberapa detik kemudian suara piring pecah terdengar. Konsentrasi Laura langsung buyar. Ia melihat mama tertegun memandang spanduk dan tidak menyadari piring yang berada di tangannya sudah berada di lantai.


Laura menyuruh seorang pelayan lain membersihkannya, lalu berjalan mendekati mama. "Mama, mama tidak apa-apa?"


Mama tersadar kembali. “Maaf, mama menjatuhkan piringnya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ma." Laura cemas melihat gelagat mamanya yang tidak seperti biasanya. "Mama tidak apa-apa? Kalau mama tidak enak badan, sebaiknya mama beristirahat dan pulang saja."


"Pesta ini..." mama memegang kedua tangan putrinya dengan erat. "Untuk... karyawan Rafael?"


Laura mengangguk bingung. "Ya. Benar. Pesta untuk karyawan Rafael group. Ada apa,ma?"


Pegangan tangan mama semakin erat. "Kau pernah bertemu dengan direkturnya?"


Laura semakin bingung dengan pertanyaan mama. "Tentu saja. Minggu kemarin aku bertemu


Charles Rafael. Ada apa, ma? Muka mama pucat sekali. Sebaiknya mama pulang dulu."


"Laura...," kata mama terbata-bata, "...ehm... kau benar.... sebaiknya mama pulang saja."


Tiba-tiba dari belakang mereka seorang pria berseru. "Helen?"


Mama sama terkejutnya. "Charles?"


Laura melihat mama kemudian om Charles. "Kalian saling kenal?"


"Mama ingin pulang sekarang," kata mama pada Laura dengan panik.


"Baiklah." Laura masih bingung dengan sikap mamanya, tapi ia memutuskan untuk menuruti kemauan mama. "Robi, tolong gantikan aku."

__ADS_1


Laura menuntun mama keluar dari hotel.


"Helen, tunggu!" Teriak Charles. Tapi sebuah tangan menahan kepergiannya**.


__ADS_2