
Laura terpana dgn jawaban Niko. (''tolong jangan buat aku menyukaimu dr awal lagi. Karena aku tdk yakin aku bisa melupaknmu kalau itu terjadi lagi''), kata Laura dalam hati sambil memandang Niko.
Niko menghela napas panjang. ''Aku ingin siapapun yg mengenakan cincin itu tahu bahwa dia bisa menggapai sesuatu yg tidak mungkin. Tapi kelihatannya aku berharap terlalu banyak,ya?''
Jantung Laura berdetak kencang. Perkataan Niko membuat perasaan yg telah dipendamnya kembali muncul. Ia semakin menyukai Niko.
''Aku beranggapan tdk ada yg mustahil kalau kau berusaha,' 'kata Laura memberi tanggapan atas pertanyaan Niko.
Niko menatap Laura dgn lembut, hatinya sedikit tergerak mendengar perkataan itu. Sinar mentari sore jatuh mengenai wajah Laura. Niko terdiam. Laura sangat cantik di matanya saat itu. Niko memejamkan mata sesaat dan membukanya kembali. Laura tersenyum padanya. Niko tdk bisa menjelaskan perasaan apa yg berkecamuk dihatinya.
Laura berkata lagi, ''Kau ingin jalan-2 ke sekitar pantai?''
''Oh...baiklah,'' balas Niko, masih sedikit bingung dgn perasaannya.
Mereka berjalan-jalan melihat matahari tenggelam. Niko merasakan keberadaan Laura disampingnya membuatnya tenang dan nyaman. Ia tdk pernah memberitahukan mimpinya menjadi perancang perhiasan kepada orang lain. Bahkan orang tuanya tidak pernah menanyakan alasan Niko ingin melukis perhiasan. Mereka hanya langsung melarang.
Laura mengambil beberapa kerang indah di pasir.
''Aku tdk pernah menyangka pemandangan matahari tenggelam sungguh indah,'' katanya.
''Kau tidak pernah ke pantai sebelum ini?'' tanya Niko.
''Belum'' jawab Laura, ''Ini yg pertama kali.'' (Dan aku senang bisa menghabiskan hari ulang tahunku di pantai bersamamu).
__ADS_1
''Teman-2 mengusulkan acara perpisahan sekolah setelah ujian nanti di adakan disini. Bagaimana menurutmu?'' tanya Niko.
''Wah ide bagus,'' sambut Laura gembira.
''Malam harinya kita bisa membuat acara api unggun, aku akan mengusulkan hal ini pada kepala sekolah besok.''
Laura berharap kepala sekolah mengabulkan usul Niko.
''Apa itu?'' tanya Niko tiba-2.
Laura mengikuti arah pandang Niko. Penglihatannya jatuh pd sebatang pohon tua. Banyak daun kertas disana. Sebagian siswa jg berada disana.
''Ayo kita kesana,'' ajak Niko.
''Kau mau mencobanya?'' tanya Niko.
Laura mengangguk. Niko mengambil dua lembar daun kertas dan memberikannya satu kepada Laura. Keduanya menulis keinginan masing -masing di daun tersebut, setelah itu mengikatkannya pd pohon keinginan. Tak berapa lama kemudian, kepala sekolah mengingatkan mereka utk berkumpul di bus, karena piknik mereka di pantai sudah berakhir.
Dalam perjalanan menuju bus, Niko menanyakan keinginan Laura. ''Apa keinginanmu?''
Laura menggeleng. ''Apakah aku harus memberitahukannya padamu?''
Niko tersenyum. “Tadi aku menulis supaya semua anak kelas tiga lulus ujian. Jadi apa keinginanmu?''
__ADS_1
Laura berkata perlahan, ''sesuatu yg tdk mungkin.''
Niko tertawa. ''Bukankah kau mengatakan tdk ada yg mustahil kalau kita berusaha?''
''Aku tahu,'' sorot mata Laura terlihat sedih, ''tapi yg ini pasti tdk mungkin.''
Niko beranjak menaiki bus. ''Oke. Aku tdk akan memaksamu mengatakan keinginanmu. Aku rasa apapun itu, kau pasti bisa mendapatkannya.''
Laura ikut menaiki bus sambil tersenyum lirih. Ia tahu pasti keinginannya tdk akan terpenuhi. Dalam perjalanan pulang, Laura tdk bisa menahan kantuknya dan tertidur. Ketika ia bangun entah berapa lama kemudian, kepalanya bersandar di pundak seseorang. Matanya bertemu dgn mata Niko.
''Maaf,'' katanya sambil berusaha menjauh dr Niko.
''Tidak apa-2,'' kata Niko, ''kau kelihatan lelah sekali.''
Laura menatap Niko lagi. ''Tapi, bukankah kau duduk di bangku depan?''
''Tadinya iya,'' kata Niko, ''Tapi teman sebangkuku mendengkur sambil tidur, jd aku memutuskan pindah, dan kursi yg tersisa hanya kursi belakang.''
''Oh begitu,'' kata Laura cepat.
Untunglah bus sudah sampai disekolah, sehingga Laura tdk perlu terlalu lama menahan malu karena sudah tidur di pundak Niko.
''Sampai jumpa besok dikelas,'' kata Niko.
__ADS_1
Laura mengangguk. Sementara itu, berpuluh-puluh kilometer dr sana, di pohon keinginan, sehelai daun kertas terjatuh. Terdapat sebuah permohonan disana. Permohonan Laura. (Semoga hari ini tak pernah berakhir). Daun kertas tersebut lalu tersapu air di pantai dan tidak terlihat lagi.