Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 31


__ADS_3

"**Saya sudah membuat empat paket menu untuk pesta karyawan anda." Laura mengulurkan kertas proposalnya pada Charles. "Anda bisa memilih salah satu dari paket tersebut. Masing-masing paket terdiri atas makanan pembuka, makanan inti, makanan penutup, dan minumannya. Saya dengar acaranya nanti akan diadakan di hotel anda?"


Charles mengangguk. "Ya. Kau bisa berkoordinasi dengan manajer hotel. Acaranya minggu depan."


Laura mencatat nama manajer, waktu pelaksanaan, dan nomor telepon Hotel Rafael di bukunya. Tiba-tiba pintu ruangan Charles terbuka. Seorang pria masuk.


"Pa," kata pria tersebut. "Aku butuh tanda tangan untuk proyek ini."


Pria tersebut menyodorkan map biru pada Charles. Laura melihat wajah pria tadi dan kaget. Pria itu pria yang tadi di lift. Kekesalan yang tadi dirasakan Laura kembali muncul. Gara-gara pria di depannya tidak mau mengalah, Laura harus menunggu selama lima belas menit.


Charles menandatangani isi map tersebut lalu mengenalkan pria tadi pada Laura. "Laura, kenalkan, ini putraku. Luki...." Lalu katanya pada Luki, "Luki....ini Laura, chef kepala restoran Antonio yang akan mengurus pesta karyawan kita minggu depan."


Luki tersenyum kecil melihat kekesalan di mata Laura.


"Laura... senang bertemu denganmu."


Laura tidak punya pilihan selain berdiri dan menjabat tangan Luki *si pria menyebalkan* Rafael dengan kesal. "Senang... bertemu dengan anda juga."

__ADS_1


"Proposal menu Laura sangat menarik." Charles Rafael memberikan proposal tersebut pada putranya. "Kau belum pernah makan di restoran Antonio, kan? Papa jamin makanannya benarbenar enak."


Luki Rafael menatap Laura yang terlihat kesal dengan kejadian di lift tapi berusaha menutupinya dengan senyuman. "Pa, bagaimana kalau aku saja yang mengurus soal ini. Beberapa hari ke depan papa kan sibuk dengan kontrak kerja sama dengan perusahaan Jepang."


("Apa?") Laura berteriak dalam hati. ("Aku harus bekerja dengan pria menyebalkan seperti


Luki? Tolong jawab tidak, om. Saya tidak mau bekerja dengan putra om.") "Benar juga." Charles mengangguk. "Kau tidak keberatan mengurus ini, Luki?"


"Tidak sama sekali." Luki tersenyum lebar dan memandang Laura yang mati kutu.


"Kau tidak keberatan aku bekerja denganmu, kan?" Luki berkata pada Laura lagi.


Luki mendekati Laura dan berkata perlahan. "Oh.... kita akan bersenang-senang kok." Sudah lama Luki tidak bermain-main dengan seseorang. Dia yakin permainannya dengan Laura pasti akan menyenangkan. Sejak kembali dari luar negeri enam bulan yang lalu, hari-hari Luki di penuhi pertemuan bisnis. Sebenarnya Luki lebih suka bersenang-senang di luar negeri dengan mobil formula satunya. Tapi setelah kecelakaan kecil yang menyebabkan kakinya patah, papanya menyuruhnya pulang. Ketika Luki bersikeras tidak mau pulang, papa malah terkena serangan jantung dan harus dirawat dirumah sakit. Akhirnya Luki mengalah dan pulang ke Indonesia. Hubungan Luki dan papanya memang tidak pernah akur, tapi Luki tidak mau papanya sakit garagara dia. Jadi selama enam bulan ini dia berusaha menjadi putra yang baik bagi papa supaya penyakit papa tidak kambuh lagi.


Luki melihat papa yang sedang memandangi wajah Laura dengan penuh perhatian. Luki mengernyitkan kening.


Merasa dipandangi oleh Charles, Laura berkata, "Apakah ada sesuatu pada wajah saya?"

__ADS_1


Charles tersenyum. "Tidak. Hanya saja wajahmu mengingatkanku pada seseorang."


Laura tersenyum. "Oh, begitu." Pandangan Laura beralih pada Luki. "Saya akan menghubungi anda lagi, Luki. Saya harap dalam dua hari anda bisa menentukan menu mana yang anda pilih. Maaf, saya masih ada pekerjaan di restoran. Apakah saya boleh permisi?"


Charles tersenyum ramah. "Tentu saja. Sampai jumpa lagi, Laura."


Begitu pintu ruangan Charles tertutup, Luki menatap wajah papanya dengan tajam. "Gadis itu mengingatkan papa pada siapa? Wanita itu?"


Charles manarik napas kesal. "Wanita itu ibumu."


Kini giliran Luki yang mendengus kesal. "Ibuku sudah meninggal. Papa menikahi wanita itu hanya setahun setelah mama meninggal. Apakah papa tidak ingat?"


"Papa ingat." Charles memandang putranya dengan tajam. "Untung saja wanita itu tidak pernah muncul lagi di hadapanku." Luki menatap papa dengan kesedihan yang mendalam.


"Suka atau tidak, dia masih istri papa." Charles menatap putranya dengan kesal.


"Aku harap papa tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu," kata Luki perlahan tapi pasti.

__ADS_1


"Luki.....kau...." Charles tidak tahu harus mengatakan apa untuk mengungkapkan amarahnya. "Aku tidak mau kembali ke sini," Luki membuka pintu ruang kerja papanya, "tapi papa memaksaku datang. Aku sudah memenuhi permintaan papa. Apalagi yang papa mau? Aku tidak mau bertengkar lagi tentang masa lalu."


Pintu ruang kerja Charles ditutup. Charles duduk kembali di kursi kerjanya. Dia menarik laci mejanya, dan memandang foto seorang wanita yang sedang tersenyum padanya**.


__ADS_2