
Saat memberikan tiket pesawatnya pada petugas bandara, Laura menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanya mama.
Laura menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Sepertinya seseorang memanggilku. Tapi itu tudak mungkin, kan?"
Mama tersenyum. "Ayo kita masuk."
Laura mengangguk dan berjalan masuk.
Beberapa saat kemudian, pesawat yang membawa Laura lepas landas. Laura melihat lautan awan di bawahnya dan tersenyum. Ia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalunya dan memulai lembaran baru.
***
Niko berlari-lari selama beberapa jam dari satu terminal ke terminal lain, tapi tetap tidak menemukan Laura. Kakinya kelelahan dan ia terduduk di sebuah kursi. Niko menyadari Laura pasti sudah berada di salah satu pesawat yang lepas landas. Ia telah kehilangan Laura. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Niko melihat nomor tak dikenal di sana. Harapannya melambung tinggi. Ia langsung mengangkat telepon.
"Laura?" harapnya.
Tapi suara di telepon tersebut bukan suara wanita. "Apakah ini Niko Fareli?"
Niko menjawab. "Ya, benar. Saya Niko fareli."
Si penelepon berkata lagi, "Nama saya Julien Bardeux. Apakah kau tahu siapa saya?"
Niko tercengang. "Saya tahu siapa anda. Tapi, mengapa anda menelepon saya?" "Saya sedang melihat gambar rancangan perhiasanmu," kata Julien.
("Gambar rancanganku?) tanya Niko semakin bingung. "Bagaimana gambar rancangan saya bisa berada di tangan anda?"
"Bisa kita bertemu?" tanya Julien. "Kita bisa membicarakan hal ini lebih lanjut." kemudian Julien memberikan informasi hotel tempat dia dia menginap.
Niko mengangguk. "Saya tahu tempatnya. Saya akan ke sana sekarang."
***
Niko menatap pria di hadapannya dengan sedikit gugup. Julien Bardeux. (Ahli perhiasan terkenal dari prancis). Setelah memperkenalkan diri, Niko dipersilahkan masuk ke kamar hotel Julien.
__ADS_1
Tatapan Niko beralih pada gambar rancangannya di meja tamu. "Jadi", katanya perlahan, "bagaimana anda bisa mendapat gambar rancangan saya?"
"Temanmu yang memberikannya," jelas Julien. "Seorang gadis muda." Niko bisa menebak siapa yang menyerahkan rancangannya. Pasti Laura.
"Kau masih sekolah?" tanya Julien ingin tahu.
"Saya baru lulus SMA," kata Niko.
Julien meminum kopinya perlahan, lalu menatap Niko. "Kau tertarik pada perhiasan?"
Tangan Niko gemetaran menutupi kegugupannya. "Begitulah."
"Gambar rancanganmu benar-benar menawan," kata Julien sambil tersenyum. "kau sangat berbakat."
Mendapat pujian dari ahli perhiasan terkenal membuat Niko benar-benar tersanjung. "Terima kasih."
"Apa rencanamu setelah lulus SMA?" tanya Julien.
"Kuliah," kata Niko singkat.
Julien menatap mata Niko dengan serius. "Kau tertarik masuk GIA (Gemological Institute of America) di New york? Aku bisa memberimu rekomendasi. Kau bisa belajar banyak tentang perhiasan disana."
Niko sungguh-sungguh tergoda dengan tawaran Julien. Tapi orang tuanya pasti tidak setuju. Ia sudah diterima di fakultas kedokteran universitas terkenal. Kalau ia memutuskan masuk GIA, ia tidak akan mendapat dukungan dari orangtuanya sama sekali.
Julien menatap anak muda di depannya dengan tertarik. "Masalahnya bukan dana. Masalahnya adalah apakah kau sungguh-sungguh ingin menjadi perancang perhiasan. Aku tertarik membeli karya rancanganmu. Karyamu akan sangat cocok untuk koleksi musim gugurku nanti. Kalau kau berminat menjualnya padaku, kurasa uangnya cukup untuk membiayai kuliah pertamamu di GIA."
Niko kaget tidak percaya. "Anda mau membeli karya saya?"
"Kau kelihatanya terkejut sekali," kata Julien tertawa lebar. "Aku tidak pernah main-main dalam hal perhiasan."
Sedikit demi sedikit harapan Niko untuk menggapai mimpi yang telah lama terpendam muncul ke permukaan.
"Saya jatuh cinta pada perhiasan sejak saya berumur sepuluh tahun," kata Niko berterus terang. "setelah itu saya tidak pernah bisa berhenti menggambarnya."
Melihat kesungguhan di mata Niko, Julien tersenyum. Ia mengerti apa yang Niko rasakan. "Aku menyukai gambar rancanganmu". katanya kemudian. "Kau bisa menjadi perancang perhiasan yang hebat."
"Aku benar-benar berharap demikian." ujar Niko.
"Kalau kau benar-benar ingin belajar di GIA, aku bisa membantumu. Aku kenal dengan pengajar disana. Kau tidak perlu khawatir soal tempat tinggal, kau bisa tinggal di apartemenku di New York.”
__ADS_1
Niko menatap Julien tidak percaya. "Anda benar-benar akan membantu saya? Anda bahkan tidak mengenal saya."
Julien menyodorkan gambar Niko padanya. "Sudah lama sekali aku tidak pernah setertarik ini pada karya seseorang. Apalagi kau masih muda. Kalau semuda ini saja kau sudah menunjukkan bakatmu, aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa kau lakukan di masa depan."
Niko berpikir keras. (Apakah aku punya keberanian mempertaruhkan segalanya untuk menggapai mimpiku? Bertahan seorang diri di negeri asing tempat aku tidak mengenal seorang pun?)
"Temanmu menunggu berjam-jam untuk bertemu denganku kemarin," kata Julien lagi sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Ketika memberikan rancangan-rancangan ini kepadaku, dia bilang dia ingin menyerahkan mimpi seseorang."
Tangan Niko berhenti gemetaran. Benaknya dipenuhi wajah Laura, lalu perlahan senyumnya mengembang. (Laura ingin mewujudkan mimpiku. Mengambil karyaku dari tempat sampah dan memberikannya pada orang yang kukagumi. Seandainya kau ada disini Laura. Aku pasti akan lebih bahagia).
Dengan tekad dan semangat baru, Niko menatap Julien. "Aku tidak mau menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma. Anda bisa membeli semua karya saya kecuali gambar rancangan cincin bintang saya", usulnya. "Tentang apartemen anda di New York, saya akan menempatinya, tapi dengan syarat saya akan bekerja pada anda selama dua tahun setelah kelulusan saya dari GIA."
Julien mengusap dagunya perlahan. (Seseorang yang punya prinsip dan harga diri). Sebelumnya Julien hanya mengagumi rancangan pemuda ini, kini ia juga menyukai pribadinya. "Kenapa kau tidak mau menjual karya rancangan yang satu itu padaku?" tanyanya penasaran.
Niko menjawab dengan tenang. "Karena karya itu sudah menjadi milik seseorang." (milik
Laura). Mata Niko menantang Julien. "Jadi, apakah kita telah mencapai kesepakatan?"
Julien mengulurkan tangannya. "Aku sepakat." Niko menjabat tangan Julien dengan erat.
Malam harinya, Niko menatap kedua orantuanya dengan serius sesudah makan malam. "Aku tidak akan kuliah kedokteran," ucapnya tenang.
Papa membelalak tidak percaya. "Ada apa lagi ini, Niko? bukankah kita sudah sepakat kau akan menjadi dokter?"
"Maaf," kata Niko tulus. "Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak pernah ingin menjadi dokter. Itu mimpi papa, bukan mimpiku."
"Beraninya kau berkata seperti itu!" Teriak papa.
Mama langsung pindah ke sisi papa untuk menenangkannya. "Tenanglah, Pa. Niko, jangan buat papamu marah. Bukankah kau sudah diterima di fakultas kedokteran? Kalau kau tidak kuliah kedokteran, kau mau belajar apa?"
"Aku akan belajar perhiasan di GIA." Niko menatap kedua orangtuanya tanpa perasaan takut. "Maafkan aku, pa, ma. Aku tidak bisa mewujudkan impian kalian. Ini hidupku. Dan kali ini aku ingin mengejar impianku."
Papa menatap putranya sambil tersenyum sinis. "Kalau kau pergi kuliah disana, papa tidak akan mendukungmu. Papa tidak akan membantumu secara finansial. Apakah kau mengerti?"
Niko mengangguk. "Aku mengerti. Aku tidak akan meminta dukungan finansial pada Papa selama aku kuliah disana."
Papa kaget mendengar perkataan putranya. "Kalau kau ingin pergi, pergilah. Papa tidak akan menahanmu. Kita lihat saja nanti, sampai berapa lama kau bertahan disana."
__ADS_1
Niko menarik napas dalam-dalam. "Terima kasih, pa."
Seminggu kemudian Niko pergi meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke New York.Mengejar mimpinya.