Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab34


__ADS_3

"**Mama tidak pernah menghubungi om Charles setelah aku lahir?" Laura menatap mama yang tengah bersedih.


Mama menggeleng. "Maaf, sayang. Mama takut kalau Charles tahu kau putrinya, dia akan mengambilmu dari mama. Mama tidak bisa kehilanganmu. Mama tahu mama egois, tapi mama bisa bertahan hidup karenamu."


Laura memeluk mama yang mulai menangis. "Tidak apa-apa ma. Aku tidak peduli kalau Charles Rafael adalah ayahku. Aku tetap akan memilih berada disamping mama sampai kapanpun."


Mama memeluk putrinya sambil menangis. Laura menyentuh punggung mama perlahan. Laura kemudian berpikir,("kalau aku putri Charles Rafael, berarti Luki kakak tiriku"). Laura mendesah perlahan. Sewaktu kecil, Laura pernah berandai-andai memiliki saudara, tapi Luki jauh sekali dari harapannya.


Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Laura. Laura membuka pintu dan melihat Charles Rafael berdiri dihadapannya. Laura memandang pria dihadapannya dengan tatapan berbeda.


"Laura," kata Charles perlahan. "Boleh aku bertemu ibumu?"


"Mama sudah menceritakan semuanya," kata Laura terus terang. "Sebaiknya om pulang saja. Mama tidak siap berbicara dengan Om sekarang. "Laura baru saja menemani mama beristirahat sejam sebelumnya.”


"Kau benar-benar putri Helen." Charles menatap Laura dengan seksama. "Seharusnya aku sudah menyangka. Kau benar-benar mirip dengannya."


Laura keluar dan menutup pintu rumahnya perlahan. Ia tidak ingin mama terbangun. "Saya juga putri anda." Laura memutuskan untuk berterus terang.


"Aku tahu." Charles Rafael mamandang Laura dengan mata cerdasnya. "Aku sudah menyuruh salah seorang tim legalku mencari informasi tentang dirimu dan mamamu. Kau lahir delapan bulan setelah mamamu meninggalkanku."


Laura tahu orang kaya bisa mendapatkan informasi tentang siapa saja dengan cepat. "Sebaiknya om pergi saja. Om bisa berbicara dengan mama kalau mama sudah siap."


"Aku mencari mamamu kemana-mana." Charles Rafael menolak pergi. "Bekas bosnya, agensinya, teman-temannya. Tapi tidak ada yang tahu mamamu pergi kemana. Mamamu menghilang tanpa jejak."


Laura sedikit bingung. "Kenapa harus bersusah payah mencari mama? Bukankah om tidak mencintainya? Mama bilang om mencintai istri om."

__ADS_1


Charles Rafael menatap Laura dengan sedih. "Aku mencintai Anna istriku. Tapi Anna sudah tiada. Awalnya aku memang tidak mencintai mamamu, tetapi setelah Helen meninggalkanku, aku baru menyadari bahwa aku mencintainya dan merindukannya."


Laura sedikit kaget dengan pengakuan Charles. Perkataannya benar-benar terdengar tulus. Dia mengatakan yang sebenarnya. "Tapi, mama bilang dia sudah menandatangani surat cerai."


"Aku tidak pernah menandatangani surat itu," kata Charles jujur. "Mamamu masih istriku. Aku benar-benar ingin menemuinya. Aku berkata yang sejujurnya, Laura. Tolong percayalah padaku."


"Besok," kata Laura perlahan. "Om bisa menemuinya besok pagi. Saat ini mama sedang istirahat."


Charles Rafael mengangkat tangannya ingin menyentuh putrinya, tapi tidak jadi. "Bisakah kau memanggilku papa?"


"Saya akan memanggil om dengan sebutan papa, kalau mama sudah bisa menerima om kembali. Selamat malam, om."


Charles Rafael tersenyum. "Aku tidak akan menyerah, Laura."


Esok paginya, Charles Rafael mengetuk pintu rumah Laura. Laura mempersilahkan masuk. Mama duduk di kursi ruang tamu. "Kalian berdua perlu bicara." Laura mengambil jaketnya dan pergi keluar rumah.


"Helen....,"ucap Charles perlahan.


Mama menarik napas perlahan. "Charles..."


"Aku rasa Laura sudah menyampaikan yang kukatakan kemarin malam?" Charles menatap Helen dengan lembut.


"Ya,"jawab Helen. Ia memikirkan kenangannya bersama Charles bertahun-tahun silam, dan menyimpulkan bahwa sampai saat ini ia tetap mencintai Charles.


"Aku mencintaimu Helen," kata Charles perlahan. "Percayalah padaku. Aku berusaha mencarimu selama ini."

__ADS_1


"Maaf." Helen gemetar melihat pria yang tetap dicintainya hingga kini.


"Tidak apa-apa. Aku sudah menemukanmu sekarang." Charles tersenyum. "Maukah kau dan Laura tinggal bersamaku?"


Helen menggeleng. "Aku tidak bisa melakukannya kalau Luki tidak setuju."


Charles mendesah kesal. "Kau tidak perlu memikirkan pendapat Luki. Dia sudah dewasa sekarang. Kalau dia tidak suka dengan keputusanku, itu urusannya."


"Aku ingin Luki menerimaku," kata Helen perlahan.


"Anak itu benar-benar keras kepala," Charles mengeluh. "Dia tetap saja membencimu walaupun sudah lebih dari dua puluh tahun. Kalau harus menunggu persetujuannya, kita tidak akan bisa bersatu."


"Kalau begitu, aku tidak akan tinggal bersamamu," komentar Helen singkat.


Charles tidak bisa menerima jawaban Helen. "Kenapa kau bersikeras meminta persetujuan Luki?"


"Charles.....,sebelum aku mencintaimu, aku sudah terlebih dahulu menyayangi Luki. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi satu keluarga kalau salah seorang dari kita tidak menginginkannya?"


Charles terdiam. "Baiklah, aku akan membicarakan hal ini dengan Luki." "Terima kasih," kata Helen.


"Tapi aku tidak mau berhenti mengunjungimu," kata Charles tiba-tiba.


Helen tertawa. "Tentu saja. Kau boleh datang kesini kapan saja. Bagaimanapun, kau adalah ayah Laura. Kau pasti ingin mengenalnya."


*Next Eps Update 3 Hari Sekali***

__ADS_1


__ADS_2