Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 24


__ADS_3

******Bagian Tiga


Niko Fareli G.G


Niko, 19 tahun


NIKO FARELI menggigil kedinginan. Butiran-butiran salju bulan Januari kota New York jatuh mengenai mantelnya. Niko memasuki gedung GIA yang terletak di Madison Avenue. Di dalam ruangan, dia melepaskan mantel dan membiarkan udara hangat mengaliri tubuhnya. Ini musim dingin pertamanya. Tubuhnya belum terbiasa dengan hawa dingin yang berada dibawah sepuluh derajat celcius.


Pertama kali masuk GIA, Niko merasa sedikit gugup. Tetapi para pengajar dan teman-teman seangkatannya benar-benar baik padanya. Hampir semua. Kecuali satu orang, George finley. Niko tidak tahu mengapa George begitu tidak menyukainya. Apalagi setelah Niko mendapat banyak pujian dari para pengajarnya pada bulan-bulan pertama. Niko merasa kemungkinan George iri karena Niko mendapat perhatian banyak orang, sedangkan George, sebagai putra Elliot Finley___ahli perhiasan terkenal di New York, yang namanya sudah melegenda dan memiliki puluhan cabang Forever Jewelry___tidak bisa menyamai jejak ayahnya.


Butuh lebih dari sekedar bakat untuk bertahan dibidang perhiasan. Niko menyadarinya setelah masuk GIA. Ada banyak sekali yang harus dipelajarinya tentang perhiasan sebagai hobi.


GIA membagi pelajarannya menjadi dua program utama. Ilmu gemologi dan seni perhiasan. Dalam program ilmu gemologi, Niko belajar bagaimana menilai berlian dan batu-batu berharga, berdasarkan warna, kejernihan, potongan, dan berat karatnya. Selain itu, dia juga diajari bagaimana menggunakan peralatan terbaru untuk menganalisis, menilai, dan mengidentifikasi batu perhiasan.


 


Saat ini Niko memulai pembelajarannya dengan ilmu gemologi, dan setelah mendapatkan diplomanya dia akan melanjutkannya pada seni perhiasan. Di bidang ilmu tersebut dia bisa belajar cara merancang perhiasan menggunakan teknologi komputer terbaru dan membuat modelnya menjadi nyata.


Niko melangkah memasuki kelasnya. GEM 2500. Pengajarnya, Dr. Patrick Evans, merupakan ahli geologi yang menyukai batu perhiasan dan astronomi sejak berusia sepuluh tahun, seumur dengan Niko ketika Niko pertama kali tertarik pada perhiasan.


Niko sangat menyukai metode pengajaran Dr. Evans, yang benar-benar menyukai perhiasan dan mengharapkan anak didiknya menyukainya sebesar dia menyukainya. Pengajar-pengajar lain juga benar-benar berpengalaman dalam bidangnya dan Niko menyukai setiap pelajaran yang dilaluinya.

__ADS_1


Niko tidak bisa membayangkan seandainya dia jadi masuk fakultas kedokteran. Dia pasti akan putus asa dan membencinya pada tahun pertama.


Jalanan kota New York masih diselimuti salju. Pertama kali datang ke New York, Niko tertarik dengan keramaian kota itu. Saat didalam bus, taksi kuning melewatinya sepanjang perjalanan. Niko memejamkan mata sebentar lalu membukanya kembali, melihat pemandangan kota New York. New York memiliki semuanya. Teater-teater Broadway, museum-museum, aneka restoran, dan ratusan galeri seni.


Niko akan menyelesaikan kuliah gemologi pertamanya pada bulan maret. Dia sudah mendaftarkan diri untuk program beasiswa yang diberikan GIA. Dia berharap bisa mendapatkan beasiswa tersebut, bersaing dengan puluhan murid lain yang juga menginginkannya. Terutama George Finley. Biasanya Niko mudah menyukai seseorang, tapi perilaku George padanya membuat Niko tidak bisa menolerirnya. Niko tidak suka George yang selalu membawa-bawa nama ayahnya dalam setiap kesempatan. Seperti ketika mendaftar beasiswa tadi, George amat yakin akan mendapatkannya karena ayahnya adalah Elliot Finley. Niko yakin George akan kecewa sekali kalau beasiswa itu jatuh ketangan orang lain.


Niko melangkah pasti menuju kereta bawah tanah. Ia menikmati perjalanannya. Kereta itu berhenti di sebuah stasiun. Pintu kereta terbuka dan Niko turun. Tak berapa lama kemudian dia sampai di sebuah kedai makanan. Dia memasuki kedai tersebut, menyapa para pelayan yang berada disana dan masuk keruangan. Dia mengganti bajunya dengan kemeja putih dan celana hitam.


Sekeluarnya dari sana, dia sudah membawa bolpoin dan buku catatan. Siap menerima pesanan. Niko tersenyum ramah pada salah seorang pelanggannya dan membacakan menu spesial hari itu. Setelahnya, dia mencatat pesanan kemudian membErikannya pada juru masak di dapur.


Niko sudah bekerja di kedai makan Mike selama empat bulan. Walaupun gaji per jamnya tidak besar, tapi bila ditambah tips dari pelanggan, cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Kedai makan Mike terletak di 9th Avenue, dekat apartemen tempat tinggalnya. Pemiliknya, Mike, pria gemuk berumur 55 tahun, telah membuka kedainya selama lima belas tahun. Dan selama itu kedainya tidak pernah sepi pengunjung.


Kedai Mike buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 02.00. Menunya lengkap tersedia, mulai dari penchakes, omelet, sandwich, egg benedict, sampai burger, tacos, macaroni and cheese. Niko bekerja di kedai Mike hampir setiap hari, setelah selesai mengikutu kuliahnya di GIA.


Walaupun tinggal di apartemen Julien tanpa uang sewa, Niko masih membutuhkan uang seandainya dia tidak menerima beasiswa yang telah diajukannya. Sebagian lainnya dia sisihkan untuk menabung. Dia ingin membeli berlian pertamanya dengan uang hasil usahanya sendiri.


Delapan jam berikutnya Niko bergantian dengan pelayan lain dan mengakhiri kerjanya hari itu. Dia kembali menganti bajunya dan merapatkan mantelnya. Jarak apartemennya dan kedai Mike hanya berbeda dua blok, dan Niko memilih berjalan kaki menuju apartemennya. Tangannya menggenggam erat buku sketsa pemberian Laura tahun sebelumnya.


Niko masih merasakan kesedihan mendalam saat memikirkan Laura. Dia tidak tahu sampai kapan rasa sedih itu akan terus menghantuinya. Laura telah membantunya mewujudkan mimpinya. Saat ini Niko berharap gadis itu berada disisinya, menyemangatinya. Dia sungguhsungguh ingin bertemu kembali dengan Laura suatu saat nanti.


Sesampai di depan apartemennya, Jack, penjaga pintu apartemen, tersenyum padanya. "Selamat malam, Jack," sapa Niko.

__ADS_1


"Selamat malam, sir," kata Jack. "Ada orang yang hendak bertemu dengan anda."


Niko mengernyit keheranan. "Terima kasih, Jack."


Niko berjalan ke lobi depan apartemen. Sepasang pria dan wanita duduk di sana. Niko mendesah. Papa dan mama.


"Niko!" Sapa mama gembira melihat kedatangan putranya.


Niko menghampiri kedua orangtuanya dan duduk diseberang mereka. "Kapan mama dan papa saampai di New York?"


"Baru tadi sore," kata mama sambil tersenyum. "Kau tidak pulang liburan, padahal mama merindukanmu. Mama membujuk papamu untuk datang kemari."


Niko memandang papa yang diam saja sejak kedatangannya. Dia merasa papa masih marah padanya.


"Mama benar-benar kedinginan sejak tadi," kata mama lagi. "Kau pasti tidak tahan juga dengan hawa dingin di kota ini."


Niko tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku juga belum terbiasa. Mungkin tahun depan aku baru terbiasa."


"Jadi kau masih ingin belajar di sini?" potong papa tiba-tiba.


Niko menatap mata papa dengan serius. "Ya.Tentu saja. Aku menyukai apa yang kupelajari sekarang."

__ADS_1


Papa memandang Niko dengan kesal. Putranya sudah berani menentang keinginannya tahun lalu. Dia menyangka seiring berjalannya waktu,putranya tidak akan bertahan dengan pilihannya. Tapi pilihan Niko untuk tidak pulang saat liburan membuat papa menyangsikan hal itu. Niko tidak pernah meminta bantuannya dan tidak pernah menghubunginya. "Kalau kau ingin kuliah di sini, papa bisa mengaturnya. Banyak kuliah kedokteran yang bagus di New York. Kau masih bisa masuk semester depan**."


__ADS_2