Butuh Waktu

Butuh Waktu
Insden II


__ADS_3

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Niko, dengan kesedihan yang mendalam Laura menemui wali kelasnya.


"Ini ijazahmu, Laura." Pak Bambang memandang anak didiknya dengan tersenyum.


"Terima kasih, pak," kata Laura sambil menerima ijazahnya dari tangan pak Bambang. "Terima kasih sekali lagi atas semua bimbingan bapak."


"Ibumu bilang kau akan pindah ke luar kota besok," kata pak Bambang lagi.


Laura mengangguk. "Iya. Mama saya dipindah tugaskan ke kota lain."


Pak Bambang berkata lagi, "Semoga kau berhasil di masa depanmu nanti."


Laura mengucapkan terima kasih lagi pada pak Bambang lalu keluar dari ruang guru. Sebelum meninggalkan sekolah, Laura berbalik memandang sekolahnya sekali lagi. ("selamat tinggal sekolahku"), katanya dalam hati.


Tak berapa lama kemudian, Laura berada dalam bus kota yang akan mengantarkannya ke terminal. Ia menyadari ini terakhir kalinya ia akan menaiki bus di kota ini. Pandangannya beralih ke gedung - gedung tinggi di seberangnya.


Tiba - tiba matanya berhenti pada spanduk besar di sebuah gedung. Pameran perhiasan Julian Bardeux. Tatapannya lalu beralih pada amplop cokelat di tangannya. Karena pertemuannya dengan Niko di kelas tadi pagi, Laura lupa ia masih membawa gambar rancangan Niko.


"Pak! Berhenti!" teriaknya pada supir bus.


Laura bergegas turun dari bus dan berlari menyeberangi jembatan penyeberangan menuju ke hotel berbintang lima tempat pameran perhiasan Julian Bardeux diadakan. Laura terengah-engah memasuki lobi hotel. Ia bertanya pada resepsionis dimanakah pameran tersebut diadakan, lalu bergegas kesana.


Dalam lift yg membawanya, Laura mengenggam erat gambar Niko. ("setidaknya ini hal terakhir yg bisa kulakukan untuk Niko,) pikirnya.


Pintu lift membuka, Laura melangkah keluar dan menemui petugas pameran.


"Saya ingin menemui Mr. Julien Bardeux," katanya tanpa ragu sedikitpun.


Salah seorang petugas penjaga pameran tersenyum lalu bertanya, "Apakah kau membawa undangan masuk pameran?"


Laura menggeleng. "Saya tidak punya undangan."


Si petugas tersenyum menyesal. "Maaf. Kau tidak boleh masuk tanpa undangan."


"Apakah saya tidak bisa menemui Mr. Julien Bardeux sebentar saja?" tanya Laura tanpa patah semangat.


Si petugas menggeleng. "Maaf. Jadwal beliau padat sekali. Apalagi ini hari terakhir pameran. Apakah kau punya janji temu sebelumnya?"


Laura menggeleng.


"Maaf kalau begitu," kata si petugas.


"Tapi Mr. Bardeux ada didalam sana kan?" tanya Laura penasaran. "Dia akan keluar melalui pintu ini nanti?"

__ADS_1


Si petugas menatap Laura dengan penasaran. "Ya. Tapi beliau masih lama berada di dalam sana." "Tidak apa-apa," kata Laura tersenyum ramah. "Saya akan menunggu disini."


Si penjaga menggeleng atas tekad Laura dan mulai melayani tamu lain yang menunjukan undangan masuk.


Laura berdiri menunggu di samping pintu depan dengan sabar.


Setelah tiga jam Laura berdiri tanpa mengeluh, si petugas bersimpati dengan kegigihannya. Ia memanggil Laura dan menyuruhnya duduk di kursi yang ditinggalkan salah satu temannya. Laura tersenyum. "Terima kasih."


***


Sementara itu di rumah sakit, Niko membawakan makan siang untuk Erika.


"Bagaimana kondisi kakimu?" tanyanya.


"Masih sakit," jawab Erika.


"Aku membawakan makan siang untukmu. Makanlah dulu," saran Niko.


"Thanks," sahut Erika.


Selama Erika menyantap makan siangnya, pikiran Niko melayang pada pertemuanya dengan Laura.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Erika penasaran setelah merasa Niko tidak memperhatikannya.


Erika sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. "Apa maksudmu?"


Niko mendesah. "Aku masih belum mengerti mengapa Laura tiba-tiba mendorongmu dari tangga."


Mendengar itu Erika jadi kesal. "Laura cemburu padaku. Dia cemburu pada kepopuleranku dan kedekatanku denganmu."


"Benarkah?" tanya Niko curiga. "Sepertinya Laura bukan tipe cewek seperti itu."


Erika mencibir. "Apakah kau mengetahui semua tentang Laura? Kau tidak tahu sifat Laura yang sebenarnya. Kau baru mengenalnya satu tahun ini."


Niko terdiam. Perkataan Erika memang masuk akal. Kalau dipikir-pikir lagi, Niko memang tidak mengenal Laura seperti ia mengenal Erika.


"Ah, sudahlah," kata Erika kesal, "Aku tidak mau membicarakan Laura lagi. Nafsu makanku jadi hilang."


"Maaf," kata Niko. "tidak seharusnya aku membuatmu kesal." "Aku mau istirahat," kata Erika ketus.


Niko mengangguk. "Baiklah, aku akan kembali sore nanti."


***

__ADS_1


Tiga jam berikutnya, Laura masih duduk di depan pintu pameran. Matanya melirik jam tangan warna perak di tangannya. Hari semakin sore.


"Kau mau menunggu Mr. Bardeux sampai kapan?" tanya si petugas pameran.


"Sampai saya bertemu dengannya," jawab Laura singkat.


"Apakah bertemu dengan Mr. Bardeux benar-benar sangat penting?" tanya si petugas lagi.


Laura mengangguk. ''Ya. Penting sekali. Saya ingin memberikan Mr.Bardeux mimpi seseorang."


Si petugas tertegun mendengar perkataan Laura. Hatinya tersentuh. Lalu tersenyum pada Laura. "Aku akan membantumu."


Laura tersenyum senang. "Terima kasih".


Tak berapa lama kemudian, seorang pria prancis berambut pirang keluar dari pintu.


Si petugas pameran bergegas menghampiri pria tersebut dan berbicara padanya lalu menunjuk pada Laura.


Menyadari bahwa si petugas pameran sedang berbicara dengan Julien bardeux, Laura berdiri. Jadi, dialah sang ahli perhiasan terkenal.


Laura mendekati pria asing di hadapannya.


"Kau ingin menemuiku?" tanyanya pada Laura.


Laura sedikit kaget. Julien bardeux bisa berbicara bahasa indonesia dengan masih. "Anda bisa berbicara bahasa saya?"


Julien bardeux tersenyum singkat. "Ibuku orang Indonesia."


Laura mengerti sekarang. "Saya ingin memberikan ini kepada anda." Laura menyodorkan amplop cokelat di tangannya. "Di dalamnya berisi gambar rancangan perhiasan karya teman saya."


Julien bardeux menerima amplop tersebut dari tangan Laura.


Si petugas pameran tersenyum pada Julien dan menambahkan, "Dia bilang dia ingin memberikan mimpi seseorang pada Anda."


Julien Bardeux tersenyum hangat sambil menatap jam di tangannya. "Ehm, saya masih agak sibuk. Tapi nanti malam, saya akan melihat rancangan temanmu "


Laura tersenyum lebar. "Terima kasih. Nama perancang dan nomor HP nya ada di depan amplop. Sekali lagi terima kasih, Mr. Bardeux."


Julien Bardeux tersenyum singkat. "Saya pergi dulu," katanya lalu bergegas menuju lift.


Laura menemui si petugas pameran lagi dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sekeluarnya dari hotel, Laura menatap mentari sore sambil tersenyum. Hatinya senang bukan main. Ia berharap Julien Bardeux bisa melihat rancangan karya Niko dan menyadari bakat yang ada disana.


 

__ADS_1


__ADS_2