
**Bulan demi bulan berlalu. Terapi fisik yang dijalani Laura berjalan lancar. Pada akhir bulan ketujuh, Laura sudah bisa berjalan perlahan-lahan tanpa bantuan besi penyangga. Dokter Riswan ingin Laura menginap selama dua hari untuk menjalani pemeriksaan tubuh secara keseluruhan sebagai tahap akhir dari proses terapi fisiknya. Kalau hasil pemeriksaan Laura bagus, bisa dipastikan Laura bisa kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
"Laura." Luki masuk membawa termos panas. "Aku membawakan sesuatu untukmu."
Laura mendesah. Luki menemaninya hampir setiap hari. Bukannya Laura tidak senang, tapi dia tahu ada alasan penting mengapa Luki melakukannya. Rasa bersalah Luki belum juga hilang, padahal sudah berulang kali Laura bilang ia tidak pernah menyalahkannya bahkan, tertangkapnya Dragon, orang yang menabraknya, dan hukuman penjara selama lima belas tahun pun masih belum membuat Luki berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Luki membuka termos di tangannya. "Aku membuatnya sendiri."
Laura menatap kakaknya dengan sedikit kesal. "Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain mengujungiku terus? Aku yakin kerjaanmu menumpuk di perusahaan."
"Tidak ada hal yang lebih penting dari pada merawatmu," kata Luki sungguh-sungguh. "Lagi pula, aku kan punya banyak asisten. Biarkan saja mereka yang mengerjakan tugasku."
"Aku dengar dari papa, kau berjanji untuk bekerja padanya selama satu tahun." Laura memegang tangan Luki. "Tolong pikirkan ulang. Papa membutuhkanmu di perusahaan. Papa benar-benar bangga padamu. Selama satu tahun ini, papa bilang kau punya banyak ide bagus untuk kemajuan perusahaan."
__ADS_1
"Baiklah. Kalau kau ingin aku tetap bekerja di perusahaan papa, aku akan melakukannya," Luki berjanji.
Laura menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau kau melakukannya karena aku. Aku mau kau melakukannya karena dirimu sendiri. Tidakkah kau ingin memajukan usaha yang dirintis papa?"
"Kau benar." Luki duduk disamping tempat tidur Laura. "Aku akan mempertimbangkannya baikbaik. Sekarang, ayo minum kopi buatanku. Aku benar-benar membuatnya khusus untukmu." "Kopi?" Laura menelan ludah. Luki tidak tahu bahwa Laura tidak suka kopi. Laura tidak bisa memberitahu Luki soal ketidaksukaannya. Laura tidak tega membuat Luki kecewa. Apalagi Luki membuat kopi itu khusus untuknya. Itu hanya akan membuat rasa bersalahnya bertambah lagi.
"Baiklah. Aku akan meminum kopi, tapi...." Laura menatap Luki serius, "berjanjilah padaku untuk melepas semua rasa bersalah itu dari hatimu. Setiap kali kau merasa demikian, hatiku merasa tidak enak. Mulai sekarang aku tidak ingin melihat kau memandangku dengan tatapan seperti itu lagi. Gantikan rasa bersalahmu dengan kasih sayang. Dan aku akan menerimanya dengan senang hati."
"Aku tidak pernah dikalahkan oleh seorang wanita sebelumnya." Luki memandang Laura sambil mengingat pertemuan pertama mereka. "Kau mengalahkanku dengan telak saat membuatku terkejut dengan membawa semua jenis menu makanan ke hadapanku. Tapi aku tidak heran. Hanya seorang Rafael yang bisa mengalahkan Rafael lainnya, bukan?"
Laura tersenyum. "Ya, kau benar. Aku bahkan menyebutmu si pria menyebalkan berulang kali dalam hati. Kini kau sudah berubah menjadi kakak yang hebat."
Laura menarik napas panjang dan bersiap-siap meminum kopi buatan Luki. Mungkin kalau menahan napasnya sambil meminum kopi, ia tidak akan menghirup baunya dan tidak akan memuntahkannya. Laura mengambil gelas di hadapannya dan meminumnya perlahan-lahan. Laura berpikir untunglah dia berada dirumah sakit. Ia bisa meminta obat anti mual sesudahnya.
__ADS_1
Luki menatap Laura yang meminum kopi buatannya. Perlahan-lahan perasaan bersalah pada adiknya mulai berkurang.
"Aku sudah meminum kopimu." Laura barharap perutnya bisa bertahan sesaat. "Sekarang aku mau istirahat dulu. Kau pulanglah."
Luki mengangguk. "Aku akan kembali lagi besok. Kau istirahatlah."
Setelah Luki keluar dari kamarnya, Laura segera menekan tombol untuk memanggil suster dan meminta obat anti mual. Beberapa saat kemudian setelah perutnya merasa baikan, Laura perlahan-lahan mengangkat baju rumah sakitnya. Ia melihat parutan luka mengErikan sepanjang paha hingga lututnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun. Laura menangis terisak-isak. Ia merasa ada satu bagian dalam dirinya yang tidak bisa kembali lagi. Ia telah cacat. Dan bekas luka itu akan menjadi sebuah tanda yang tidak akan hilang selamanya.
("Hanya untuk satu hari ini saja"), janjinya dalam hati. ("Biarkan aku menangisi lukaku hari ini").
*******************************
Pada hari ketika Laura bisa berjalan dengan normal, orangtuanya menikah ulang. Luki dan Laura menjadi saksi mereka dalam perayaan pernikahan sederhana orang tua mereka. Laura memandang mama yang tampak cantik dengan gaun putih. Ia tersenyum senang. Mama berhak mendapatkan kebahagiaannya. Sedangkan untuk dirinya, keluarga barunya dan pekerjaan memasaknya sudah membuatnya senang. Itu saja sudah cukup**.
__ADS_1