Butuh Waktu

Butuh Waktu
Move on


__ADS_3

**Bulan telah berganti tahun. Perasaan suka Laura pd Niko sedikit demi sedikit memudar. Lagi pula, kini Laura lebih berkonsentrasi pd pelajarannya, karena ujian nasional tinggal beberapa bulan lagi. Namun, kalau hatinya sedang lengah, ia mendapati dirinya memandang Niko di kejauhan.


Besok, hari minggu, sekolah akan mengadakan piknik ke pantai untuk seluruh siswa kelas 3. Kepala sekolah ingin anak-2 mendapatkan selingan sebelum berkonsentrasi menghadapi ujian nasional.


Laura bangun dengan semangat baru di hari itu. Ia ingin melupakan soal-2 ujian di benaknya untuk sesaat.


''Selamat pagi, sayang,'' kata mama melihat putrinya yg baru keluar dr kamar.


''Selamat pagi ma,'' balas Laura.


Mama mendekati putrinya lalu menciumnya. ''Selamat ulang tahun, sayang.''


Laura baru menyadari hari ini hari ulang tahunnya. Selama ini ia sibuk dgn pelajaran, hingga melupakan hari ulang tahunnya sendiri. Mama menghadiahinya baju baru.


''Kau bisa memakainya hari ini, untuk piknik sekolah, bersenang-2lah.''


Laura mengangguk setuju. ''Terima kasih,ma.''


***


Sesampainya di sekolah, jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Piknik ke pantai dijadwalkan berangkat pukul 08.00. Sudah banyak siswa yg berkumpul di lapangan. Enam bus besar sudah terparkir di depan area sekolah. Laura menatap Niko yg sedang mengobrol dgn teman-2 nya. Hati Laura sedikit goyah. Ia tdk pernah melihat Niko mengenakan baju santai. Dengan kaus biru, celana jeans hitam, dan topi hitam, Niko terlihat sangat tampan.


Laura membalikkan badannya. (''Aku tidak boleh terus-menerus memandangnya, aku tdk ingin perasaanku jatuh lebih dalam lagi''). Ia buru-2 naik ke bus dan duduk di kursi belakang. Kepala sekolah meminta para siswa masuk bus masing-2. Sepuluh menit kemudian, bus yg ditumpangi Laura melaju menuju pantai. Sepanjang perjalanan Laura mendengar musik dr hp nya. Ia berusaha tdk menatap Niko yg berada di kursi paling depan. Dua jam kemudian, terlihat hamparan laut dr kaca jendela bus. Laura tersenyum.


Laura belum pernah ke pantai. Selama ini ia hanya melihatnya dr buku-2 atau televisi. Cahaya matahari pagi membuat air laut berkilauan. Setelah bus berhenti ditempat parkir, para siswa langsung turun dan berteriak gembira menuju pantai. Laura turun paling akhir. Kedua kakinya menginjak pasir pantai dgn senang. Setelah itu, ia bergegas mengikuti jejak teman-2 yg lain utk merasakan air laut. Laura melepas sandal yg dikenakannya dan membiarkan kakinya terendam air laut. Para siswa lain sedang bermain pasir. Laura memandang lautan luas di depannya, senang menghabiskan ulang tahunnya di tempat seperti ini.


***


Keringat mambasahi punggung Niko. Setelah beberapa sesi bermain voli pantai bersama teman-2 nya, dia sedikit kelelahan. Teman-2nya mengajak naik banana boat, tp Niko memutuskan utk beristirahat sejenak.

__ADS_1


Dia berjalan menuju kafe utk membeli minuman. Dilihatnya Laura sedang mengantre.


''Hai Laura,'' sapa Niko.


Laura berbalik perlahan. ''Niko, hai. Mau antre beli minuman juga?'' 


Niko mengangguk. Saat antrean sampai pd giliran Laura, Niko menyela. ''Biar aku yg traktir.''


Laura keberatan dgn usul itu. ''Tidak usah, Niko, biar aku bayar sendiri saja.''


Tapi Niko sudah memesan pd petugas kafe. ''Kopi dingin, dua.'' ''Niko,'' sela Laura lagi.


''Aku tahu kau tidak mau ditraktir. Tapi anggap saja ini hadiah karena sudah membuat kelas kita menang sewaktu bazar dulu. Aku belum sempat mengucapkan selamat padamu.''


"Ehm... bukan begitu,'' lanjut Laura ragu. ''Bisakah kau mengganti pesananku? Aku tidak bisa minum kopi. Ganti jus jeruk saja.''


Niko keheranan. ''Kau tdk bisa minum kopi?''


''Baiklah,'' kata Niko, lalu berkata lagi pd petugas kafe, ''Ganti pesanannya, satu kopi dingin dan satu jus jeruk.''


''Terima kasih,'' kata Laura.


Mereka duduk berdua di kafe menunggu pesanan.


''Di mana Erika? Dia tdk bersamamu hari ini?' 'tanya Laura bingung. Biasanya Erika selalu berada disamping Niko.


''Dia pergi keluar kota. Ada kompetisi marching band disana,'' kata Niko memberi penjelasan. ''Dia baru saja mengirimiku kabar. Katanya dia lebih suka berada disini. Tapi bagaimanapun, sebagai ketua klub, dia harus berada di sana. Lagi pula, ini kompetisi terakhir yg akan dia hadiri.''


''Semoga Erika bisa memenangkan kompetisinya,'' kata Laura tersenyum. ''Aku pernah melihatnya beraksi. Dia mayoret hebat.''

__ADS_1


Niko tersenyum. ''Ya, dia memang hebat.''


Sang pelayan kafe mengantarkan pesanan mereka. Niko menyodorkan jus jeruk di depannya utk Laura. Keheningan meliputi ke duanya. Niko meletakkan gelas kopinya di meja.


''Kita jarang berbicara lagi sejak bazar waktu itu.''


Laura berhenti meminum jusnya. ''Ya, aku tahu.''


''Kau tdk perlu merasa bersalah. Aku sudah melupakan masalah itu. Aku sudah baikan dgn papa,'' kata Niko memberi penjelasan.


''Syukurlah,'' ujar Laura lega.


''Aku tdk pernah menyalahkanmu. Maafkan aku, aku tdk ingin kau jd tdk enak hati karena kejadian itu.'' Niko menatap Laura seakan meminta maaf.


Laura menggeleng cepat. ''Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Aku yg minta maaf karena sudah mencoba meyakinkanmu utk memajang gambarmu.''


Niko tersenyum. ''Sudahlah, lupakan saja masalah itu. Aku senang waktu gambarku dipajang. Hampir semua orang mengatakan gambarku bagus.'' (''kecuali papamu,'') pikir Laura. ''Saat itu aku benar-2 puas,'' lanjut Niko lagi.


Laura menatap Niko dgn lembut. ''Kau memang berbakat, seandainya kau menjadi perancang perhiasan, aku pasti akan memakai perhiasan buatanmu.''


Niko tertawa pelan, ''Terima kasih.'' Lalu mata Niko menerawang dan dia menatap Laura lagi. ''Aku sudah menyukainya sejak kecil. Waktu umurku 10 tahun, papa dan mama mengajakku ke pameran perhiasan. Dan saat itu aku melihat kalung berlian yg sangat indah. Mataku tak bisa berpaling dr situ, menurutmu aneh tdk kalau seorang pria menyukai perhiasan wanita?''


Laura menggeleng. ''Tidak''


“Tampaknya hanya kau yg tdk menganggapnya aneh.'' Niko tersenyum lagi. ''Orang tuaku manganggapnya aneh. ''Menurut mereka aku tidak cocok menjadi perancang perhiasan. Lagi pula orangtuaku ingin aku menjadi seperti mereka.''


Laura tdk tahu bagaimana perasaan seorang anak yg ditentang orangtua utk meraih keinginannya, karena selama ini mama selalu mendukungnya. Pasti perasaan Niko sedih sekali. Apalagi waktu itu Niko masih kecil.


''Niko'', kata Laura serius, ''gambar cincin bintang yg pernah aku kembalikan padamu, kenapa kau menggambarnya?''

__ADS_1


Niko menjawab tanpa ragu, ''Aku ingin setiap wanita merasakan bagaimana mengenggam bintang dijarinya. Tidak hanya harus memandangnya dr kejauhan''.


Laura terpana dgn jawaban Niko. (''tolong jangan buat aku menyukaimu dr awal lagi. Karena aku tdk yakin aku bisa melupaknmu kalau itu terjadi lagi''), kata Laura dalam hati sambil memandang Niko**.


__ADS_2