Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 21


__ADS_3

Laura menatap delapan piring tiramisu buatannya. Masing-masing dibuat dengan takaran bahan yang berbeda. Selama hampir tiga bulan, ia mencoba membuat berbagai macam makanan pencuci mulut italia. Ia memulainya dengan biscotti cokelat (kue panggang berbentuk roti), zeppole (semacam donat italia yang bisa dilapisi gula atau madu), dan sekarang tiramisu.


Ia agak kesulitan membuat tiramisu, karena ia harus mencelupkan kue spon ke dalam kopi espreso. Menghirup aroma kopi yang kental sudah membuat perutnya berontak. Tapi demi mendapat hasil terbaik, Laura berusaha menutup hidungnya selama proses itu dan bertahan berjam-jam dalam aroma kopi.


Setelah sehari di dalam lemari es, tiramisunya sudah jadi dan siap dimakan. Ia tidak berani mencoba karena takut perutnya mual dengan aroma kopi dari dalam kue. Ia membuat delapan jenis tiramisu dan berharap mama mau mencobanya satu persatu.


"Jadi bagaimana, ma?" tanya Laura pada mama yang sudah merasakan tiramisu satu persatu dari kedelapan piring Laura.


"Mama rasa tiramisu nomor lima punya rasa yang paling enak."


Laura mengambil sendok dan mengiris sepotong kecil tiramisu nomor lima, lalu mencicipinya. "Aku setuju dengan selera mama. Besok aku akan mencoba membuat tiramisu ini untuk menu makanan pencuci mulut di restoran."


Dua hari kemudian, di papan tulis depan restoran tertulis menu makanan pencuci mulut spesial. Tiramisu #5. Dan pada hari tersebut, banyak pengunjung restoran yang mencoba tiramisu buatan Laura.


Sorenya, Laura dipanggil ke hadapan Antonio. "kau bisa mulai memasak pasta besok."


"Terima kasih. Saya akan berusaha keras memasak makanan yang disukai pelanggan," ujar Laura sambil tersenyum hangat.


Antonio tertawa pendek. "Jangan yakin dulu. Seperti biasa, percobaan tiga bulan." Laura mengangguk mengerti.


 


*********************************


Setelah masa percobaan tiga bulan usai, Antonio memberitahu Laura ia akan memberi masa percobaan tiga bulan lagi. Dan hal itu berjalan terus-menerus sampai dua tahun. Antonio tidak pernah memujinya sekali pun selama dua tahun tersebut, tetapi Laura tahu Antonio menyukai masakannya.


Di akhir masa dua tahun Laura sebagai koki, Antonio menghampirinya. "Kau bisa mencoba sebagai asistenku mulai besok."


Saat itu Laura tahu ia sudah berhasil meyakinkan Antonio atas kemampuan memasaknya.


 


Laura, 22 tahun

__ADS_1


"Robi, kau masak baked lasagna untuk meja delapan, Donna kau masak pasta salad untuk meja lima, Johan kau masak house tortellini untuk meja enam belas, dan aku masak pasta combo untuk meja sepuluh dan sebelas."


Ruang dapur terasa panas. Restoran dibanjiri pelanggan, hal yang biasa terjadi pada akhir pekan. Laura membagi-bagi pekerjaan kepada ketiga teman kokinya yang sudah ia kenal selama dua tahun. Sejak Antonio mengangkatnya menjadi asisten chef beberapa minggu lalu dan mulai menyuruh Laura memanggil namanya tanpa embel-embel signor', sedikit demi sedikit Laura mendapat respek dari ketiga koki yang lain. Lagi pula, di ruang dapur Laura tidak pernah menganggap mereka bawahannya, tetapi rekan kerjanya.


Karena Laura tidak bertemperamen buruk seperti Antonio, ketiga rekan kerjanya ini merasa lebih nyaman bekerja dengannya. Laura melihat Maya membawa pesanan baru.


"Shrim parmigiana dengan spageti, meja tiga," kata Maya sambil membaca pesanannya.


Laura mengernyitkan dahi. "Mbak, tolong bilang meja tiga, pesanannya mungkin sedikit terlambat. Aku akan langsung mengerjakan pesanan ini setelah dua pasta combo__nya selesai."


Maya mengangguk penuh pengertian. "Aku akan bilang pada mereka." "Thanks, mbak," kata Laura disela-sela kesibukan.


"Meat balk spagetti untuk meja tujuh." seorang pelayan lain masuk membawa pesanannya. "Aku akan ambil pesanan ini," saran Donna. "Aku sudah hampir selesai dengan pasta saladnya." "Oke," kata Laura lega.


Dalam dua jam berikutnya, tangan Laura tidak pernah beristirahat memasak. Ketika lelah, ia berhenti sejenak, menarik napas, dan melanjutkan lagi aktivitasnya. Tidak peduli sesibuk atau selelah apa pun, Laura merasa beruntung karena bisa melakukan hal yang paling disukainya.


Ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam, restoran sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa pelanggan. Laura memasak pesanan yang terakhir sebelum akhirnya bisa duduk untuk mengistirahatkan kakinya.


Laura tersenyum kelelahan. "Ya."


"Seandainya Antonio ada di sini sekarang, dia pasti bangga padamu," kata Maya lagi 


"Berapa lama lagi Antonio pulang dari italia?" tanya Laura yang terkadang sudah tidak bisa mengingat lagi hari dan tanggal. "Aku benar-benar berharap dia cepat pulang. Dapur kita kekurangan orang. Terutama untuk akhir pekan seperti sekarang."


"Dia akan pulang lusa," kata Maya sambil menyodorkan segelas air putih dingin pada Laura. "ini minumlah. Sepertinya kau benar-benar butuh minum."


"Thanks, mbak." Laura mengambil minuman yang disodorkan Maya. "Mbak juga pasti kelelahan."


"Aku sudah terbiasa," kata Maya.


Laura memandang ketiga teman kokinya. "Kalian bisa pulang lebih awal. Aku yang akan membereskan dapur nanti."


"Thanks, Laura," kata ketiga temannya berbarengan.

__ADS_1


Laura memandang ketiganya satu persatu. "Kerja yang bagus hari ini." "Kau juga," timpal mereka.


"Kami pulang dulu ya." Donna dan Johan sudah melepaskan celemek dan mengenakan jaket.


"Hati-hati di jalan," kata Laura.


Ketiganya melambaikan tangan lalu keluar dari dapur. Laura tahu mereka pasti ingin cepat-cepat kembali pada keluarganya.


"Tak terasa waktu cepat berlalu," kata Maya, pikirannya menerawang ke masa lalu.


Laura meminum air dari gelasnya. "yah... hampir empat tahun. Aku tidak pernah menyangka aku bisa berada di dapur ini."


Maya tersenyum. "Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu. Sejak mencicipi spageti bolognese__mu, aku tahu Antonio sudah menemukan asisten yang dicari-carinya selama ini."


Laura meminum habis air di gelas nya, lalu beranjak ketempat cucian dan mulai mencuci semua peralatan yang digunakannya.


"Biar kubantu." kata Maya.


"Terima kasih," kata Laura.


Keduanya menutup restoran pukul dua belas malam.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Pagi itu. Laura memulai hari seperti biasa. Setelah sarapan ia mandi, kemudian membaca koran yang ada di meja ruang tamu. Tatapannya jatuh pada bagian halaman iklan. Di situ tertulis bahwa sekolah SMA nya dulu akan mengadakan reuni untuk angkatannya. Seluruh alumni diharapkan hadir. Nama dan nomor hp Erika tertera disana sebagai ketua panitia alumni.


(Apakah sebaiknya aku pergi?) tanya Laura dalam hati. (Aku bisa datang dan bernostalgia di sekolahku dulu. Bertemu Niko. Mungkin sekarang dia sudah ditingkat akhir fakultas kedokteran).


Laura meletakkan korannya kembali ke meja, lalu berjalan kekamar tidurnya. Ia membuka kertas JANGAN MENYERAH dari Niko dengan perlahan. (Aku takut sampai sekarang dia belum memaafkanku), pikirnya lagi. (Hubungannya dengan Erika pasti semakin erat). Mungkin saja mereka sudah bertunangan. Apakah aku bisa melihat Niko tanpa perasaan sedih?).


Empat tahun. Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan luka hati. Tapi Laura belum bisa melupakan Niko. (Apakah empat tahun berikutnya aku baru bisa melupakannya?) pikirnya. Laura mendesah. Ia sungguh tidak tahu. Selama ia masih belum melupakan Niko. Ia tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain. Ia tahu ia memang bodoh karena masih mengingat Niko setelah sekian lama, tetapi hatinya tidak bisa berbohong.

__ADS_1


__ADS_2