Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 28


__ADS_3

**Dia berhasil mendaftarkan karyanya untuk kontes Tiffany pada menit-menit terakhir. Kini dia tinggal menunggu pengumuman tiga hari lagi.


Niko kembali ke apartemennya dengan perasaan lega. Dia menguap kelelahan dan malam itu tertidur pulas selama sepuluh jam.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Tiga hari kemudian, Niko menanti pengumuman pemenang kontes di layar komputernya. Pihak penyelenggara akan mengumumkan pemenangnya secara online di internet. Jam menunjukkan pukul 09.59. Satu menit lagi. Niko merasa enam puluh detik berikutnya merupakan detik-detik terlama dalam hidupnya.


Tepat pukul sepuluh, Niko mengetikkan alamat Tiffany & Co. Dia memilih menu pengumuman pemenang kontes. Sebuah halaman biru terbuka dengan cepat. Niko tidak melihat namanya diurutan pertama. Dia melihat nama George Finley di situ. Nama Niko berada di urutan kedua. Niko merasa sedikit kecewa, tapi ia masih senang karyanya mendapat urutan kedua.


Satu jam kemudian, bel pintu apartemennya berbunyi. Niko membuka pintu aparetemennya dan melihat George Finley berdiri didepannya


"Aku menang," kata George pada Niko.


"Aku tahu, selamat atas kemenanganmu." Niko hendak menutup pintu apartemennya, tapi ditahan oleh George.


"Hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya George heran.


"Ya. Sekarang pergilah." Usir Niko, bersikeras mengabaikan kehadiran George.


George malah masuk ke apartemen Niko. "Aku tidak mengerti kau tidak marah?"


Niko duduk di punggung kursi dan melipat tangannya di depan dada. "Kenapa aku harus marah?"


"Aku menang. Kau kalah. Aku mengalahkanmu. Akhirnya setelah sekian lama aku berhasil mengalahkanmu," kata George cepat.


Niko tertawa pendek. "Selamat. Kau sudah berhasil mengalahkanku." Sindirnya.


George makin kesal. "Aku mencuri karyamu." Dia berusaha membangkitkan amarah Niko.


"Aku tahu." Niko memandang George dengan santai. "Itulah sebabnya aku tidak marah. Karyaku tetap menang."


"Mengapa?" George melangkah mundur. "Mengapa aku tetap tidak bisa mengalahkanmu?" Niko balik bertanya. "Kenapa kau selalu ingin mengalahkanku?"


Goerge menatap Niko dengan sedih. "Kau tidak mengerti. Ketika ayahku ditunjuk menjadi dewan fakultas untuk memberikan beasiswa pertamamu di GIA, dia bertanya padaku kenapa aku tidak bisa sepertimu. Kenapa bukan aku yang memenrima beasiswa itu dari tangannya. Semakin dia memujimu, semakin aku membencimu. Itulah sebabnya aku ingin mengalahkanmu. Aku ingin membuat ayahku memujiku sekali saja."

__ADS_1


Niko mengerti sekarang mengapa George membencinya. "Kau salah."


"George mengeryitkan kening. "Apa maksudmu?"


"Aku mengerti semuanya." Niko tersenyum pada George. "Aku mengerti bahwa ayahmu ingin kau menjadi seperti dirinya, seorang ahli perhiasan terkenal. Ayahku juga ingin aku mengikuti jejaknya menjadi dokter, tapi aku memilih untuk meraih impianku sendiri. Kau tidak menyukai bidang perhiasan, bukan? Sampai kapan kau bisa berpura-pura untuk bertahan? Cepat atau lambat kau akan kelelahan. Aku rasa kau tidak bisa mencuri karya orang lain seumur hidupmu untuk mendapat pengakuan dari ayahmu. Berhentilah mengejar mimpi ayahmu. Kejarlah mimpimu sendiri."


"Ayahku tidak akan memaafkan kalau aku mengejar mimpiku menjadi pemain teater." George menelan ludah.


Niko menggeleng sambil tertawa perlahan. "Ayahku belum memaafkanku sampai sekarang. Tapi aku tidak bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak kusukai selamanya. Selama delapan belas tahun ayahku menyiapkanku untuk menjadi dokter. Lama-kelamaan aku kesulitan bernapas. Aku takut membuka mataku pada pagi hari karena harus melakukan hal yang tidak kusukai berulang-ulang. Jangan biarkan hal itu terjadi padamu, Finley."


George tertegun mendengar perkataan Niko. Dia tidak menyangka Niko memiliki masalah yang sama dengannya. "Tapi bagaimana aku bisa berhenti? Bukankah sudah terlambat untuk mengejar mimpiku?"


"Yang kau butuhkan hanya keberanian. Percayalah pada dirimu sendiri, maka kau pasti bisa melakukannya. Kalau boleh aku berterus terang, sejak pertama aku sudah bilang, kau tidak berbakat di bidang perhiasan. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak menyukai perhiasan bisa merancang perhiasan yang indah?" Niko berjalan mendekati George dan menatapnya. "Jangan menyia-nyiakan hidupmu. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengejar mimpimu."


George tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Niko. "Maaf. Aku telah membencimu selama ini. Aku tidak menyangka justru kau yang menyadarkanku akan impianku. Hei, Fareli, apakah kita bisa berteman?"


Niko menjabat tangan George. "Tentu Finley. Dan... semua temanku memanggilku Niko."


George tersenyum. "Kau bisa memanggilku George."


"Aku senang kau menjadi temanku, George," kata Niko sungguh-sungguh.


"Aku akan mengejar mimpiku mulai saat ini," tekad George.


Niko tersenyum. "Semoga berhasil, George. Aku akan menanti tiket undangan pertunjukan perdanamu nanti."


George tertawa. "Pasti. Selamat tinggal, Niko. Aku pergi dulu."


Ketika Niko hendak menutup pintu apartemennya setelah kepergian George, tiba-tiba seseorang berkata padanya dari luar pintu.


"Apakah hidup dengan papa benar-benar membuatmu tidak bisa bernapas?" tanyanya.


Niko menyimpulkan papa mendengar semua perkataannya dengan George. "Masuklah, pa."


Papa memasuki ruangan apartemen Niko untuk yang kedua kalinya. "Papa tidak pernah menyangka papa sudah membuatmu menderita."


Niko mengambil dua kaleng bir dari kulkasnya dan memberikan satu pada papa. "Tidak semua hari-hari bersama papa membuatku tidak bisa bernapas. Aku ingat ketika kita berdua pergi memancing sewaktu aku mau masuk SMA. Aku benar-benar bahagia saat itu."

__ADS_1


Papa tersenyum sebentar. "Maaf karena papa sudah memaksakan keinginan papa padamu."


Akhirnya permohonan maaf terucap dari mulut papa. Niko meminum birnya beberapa teguk.


"Aku banyak memikirkan masa laluku selama dua tahun ini. Tidak ada yang salah dengan fakultas kedokteran. Aku tidak pernah membencinya. Hanya saja aku lebih menyukai perhiasan. Mungkin seandainya aku tidak pernah menyukai perhiasan, aku akan masuk fakultas kedokteran. Maafkan aku juga, pa. Maaf karena aku tidak bisa mewujudkan mimpi papa."


"Kita berdua terlalu keras kepala untuk meminta maaf, bukan?" Papa tersenyum.


"Jangan salahkan aku," canda Niko. "Aku mendapatkan sifat itu dari papa."


Papa menarik napas perlahan. "Papa bangga padamu."


Hati Niko diliputi perasaan gembira. "Terima kasih, pa."


Beberpa saat kemudian, ketika mereka sedang berbicara, HP Niko berbunyi. Pihak penyelenggara kontes mengatakan George Finley telah mengundurkan diri dari kontes dan menyerahkan tempat pertamanya pada Niko.


"Selamat, Niko," kata papa setelah mendengar kabar tersebut. Niko memeluk papa sambil tersenyum kegirangan. Akhirnya dia bisa berbagi kebahagiaan dengan papa.


 


*************************************


Niko memeluk Mike erat-erat. Ini adalah hari terakhirnya bekerja di kedai Mike. Besok dia akan memulai masa magangnya di Tiffany.


"Semoga berhasil, Niko." Mike melepaskan pelukannya dan memandang Niko dengan sedih.


"Thanks, Mike. Aku akan selalu mampir ke kedaimu kapanpun aku berada di New York."


"Aku akan selalu menanti kedatanganmu." Air mata mulai menggenangi mata Mike. Selama dua tahun terakhir Niko sudah seperti putranya sendiri.


Niko mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. "Aku punya sesuatu untukmu. Ini, bukalah."


Mike membuka kotak beludru berwarna hitam yang diberikan Niko. Di dalamnya berisi kalung perak berbentuk hatim di belakang hati tersebut terukir nama Mike dan istrinya.


"Kau bisa memberikannya untuk Carrie. Untuk ulang tahun perkawinanmu yang kedua puluh lima bulan depan."


Air mata Mike membasahi pipi. "Terima kasih, Niko. Kalung ini indah sekali. Carrie pasti menyukainya."

__ADS_1


Setelah itu Niko mengucapkan selamat tinggal dengan teman-teman sekerjanya di kedai Mike. Ketika menaiki taksi yang akan mengantarnya menuju bandara, Niko tahu kenangannya di kedai Mike akan menjadi salah satu bagian dari hidupnya.


Selama bulan-bulan berikutnya, Niko benar-benar sibuk dengan rancangan perhiasannya untuk Tiffany. Di akhir masa magangnya, Tiffany menawari Niko untuk menjadi pegawai tetap, tapi dengan berat hati Niko menolak. Dia sudah berjanji pada Julien untuk bekerja padanya selama dua tahun**.


__ADS_2