Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 30


__ADS_3

**Bagian Empat (Laura & Luki)


Laura, 24 tahun


Laura turun dari taksi dengan terburu-buru. Setelah dua jam terjebak macet di jalan raya, ia menaiki tangga memasuki Gedung Rafael. Setahun lalu Laura mengusulkan untuk membuka jasa katering demi menaikkan penjualan restoran. Setelah uji coba beberapa kali dan berhasil, Antonio memutuskan untuk meneruskan jasa kateringnya untuk pesta ulang tahun, pernikahan dan pesta kantor.


Kini setelah satu tahun mengurus jasa katering tersebut, Laura berhasil mendapatkan klien besar.


Rafael Group bergerak di bidang properti, hotel, supermarket, dan otomotif. Direktur utamanya, Charles Rafael, yang pernah menyantap makanan di restoran Antonio, sangat menyukai masakan italia yang di masak Laura. Minggu kemarin ia menelepon untuk menyewa jasa katering restoran Antonio untuk pesta karyawan kantornya.


Walaupun belum pernah bertemu secara langsung dengan Charles Rafael, Laura bisa menyimpulkan bahwa beliau pria yang ramah setelah beberapa kali percakapan melalui telepon. Bahkan setelah mengetahui umur Laura yang masih muda, Charles Rafael bersikeras meminta Laura memanggilnya 'om'. Laura menganggap itu sebagai pertanda baik. Kalau jasa katering untuk Rafael Group berhasil, Laura yakin bisnis kateringnya bisa berkembang.


Setahun yang lalu Laura meminta mama untuk berhenti dari pekerjaannya. Setelah diangkat menjadi chef kepala di restoran Antonio, Laura tidak ingin mama bekerja keras lagi. Gaji Laura cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Laura mengatakan pada mama, kini sudah saatnya dia yang menjaga mama.

__ADS_1


Setelah dibujuk berulang kali, akhirnya mama setuju. Kini mama tinggal di rumah, dan untuk mengisi waktu dia mulai menjahit pakaian, hobinya yang dulu tidak sempat dilakukan.


Laura membawa kertas proposal untuk menu makanan pesta karyawan nanti sambil setengah berlari. Di depan lobi, dia diberi kartu tamu dan melanjutkan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas. Ia sudah terlambat satu jam dari janjinya. Pertanda yang tidak bagus untuk sebuah kerjasama yang baik. Ketika melihat pintu lift terbuka, Laura langsung berlari. Seorang pria masuk ke lift mendahului Laura. Saat Laura masuk, lift berbunyi. Tanda kelebihan orang. Laura mendesah kelelahan. Ia melihat orang-orang di belakangnya. Semuanya wanita, kecuali pria yang tadi ikut masuk dengannya.


"Maaf mas..." kata Laura sambil memohon. "Bisakah mas mengalah dan keluar lift ini? Saya sudah sangat terlambat untuk janji penting."


Pria itu memandang Laura tanpa rasa iba. "Aku masuk lebih dulu. Bukankah yang terakhir masuk yang harusnya mengalah?"


Laura tidak menyangka pria tersebut bisa berkomentar seperti itu. Dia kan pria satu-satunya di lift tersebut. "Saya benar-benar terlambat. Tak bisakah mas mengalah?"


Dengan entengnya si pria berkata. "Bukan salahku kalau kau terlambat, kan?"


Akhirnya dengan berat hati karena tidak enak dengan orang-orang di belakangnya, Laura melangkah keluar dari lift. Sebelum pintu lift menutup, pria itu berkata lagi. "Kalian para wanita tidak mau diperlakukan khusus, kan? Wanita harus setara dengan pria. Hm.....apa itu istilahnya... emansipasi, bukan?"

__ADS_1


Pintu lift tertutup. Laura kesal sekali. Pria tersebut benar-benar menjengkelkan. Terpaksa Laura menunggu lift berikutnya. Lima belas menit kemudian, ia sampai di ruang kerja Charles Rafael. Sekretaris Charles Rafael menyuruhnya untuk masuk setelah Laura memperkenalkan diri. Laura menarik napas panjang dan bersiap meminta maaf.


"Saya minta maaf, saya terlambat." Laura menatap mata Charles Rafael dengan sungguhsungguh. "Ada kecelakaan di jalan raya. Sehingga saya terlambat datang kemari. Maafkan saya."


Charles Rafael terpaku memandang Laura. Wajah Laura mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.


Laura terdiam serba salah. Charles Rafael tidak berkomentar selama beberapa saat. "Ehm... Om... Saya Laura, chef kepala dari restoran Antonio. Maaf saya terlambat."


Charles Rafael kemudian tersadar dari lamunannya. "Oh iya, Laura. Aku sangat menyukai masakanmu."


"Terima kasih, om." Laura tersenyum. "Maaf, saya datang terlambat."


"Tidak apa-apa." Charles Rafael tersenyum ramah. "Silahkan duduk."

__ADS_1


Laura duduk di sofa ruang kerja Charles Rafael. Ruang kerja tersebut sangat luas. Dekorasi bernuansa hitam putih mendominasi dinding ruangan. Laura menyiapkan kertas proposal menu yang sudah dibuatnya selama seminggu**.


__ADS_2