Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 38


__ADS_3

**KETIKA Laura setengah sadar, entah berapa lama kemudian dia melihat deretan cahaya putih di atasnya.


"Korban tabrak lari. Wanita. Umur sekitar dua puluhan. Kaki kanan terluka parah." Laura mendengar suara seorang wanita disampingnya. Pandangan Laura beralih pada suara tersebut. Wanita di sampingnya memakai jas putih. Melihat mata Laura yang terbuka, wanita tersebut mendekat.


"Kau ingat namamu?" Tanyanya dengan sabar.


".....Lau...ra..." Laura berusaha berbicara dengan keras, tetapi kerongkongannya seakan tercekik.


Wanita tersebut mengangguk. "Oke, Laura. Kau baru saja mengalami kecelakaan. Kau akan baik-baik saja. Kau dengar?"


Suara wanita tersebut makin lama makin perlahan. Laura berkata dengan lemah. "Ma...ma..." setelah itu Laura pingsan.


Tak berapa lama setelah itu, dokter wanita yang berada disamping Laura memeriksanya, lalu mulai memberi perintah pada salah satu suster. "Cedera kakinya terlalu parah. Panggil dokter Riswan sekarang juga. "Suster yang diperintahkan langsung keluar dari ruang periksa untuk menelepon dokter Riswan.


Sang dokter wanita kemudian keluar ruangan, ada seorang pria tua disana. "Pak, anda kenal dengan pasien?"


Sang pria tua menggeleng. "Saya tidak kenal, dokter. Saya melihatnya tergeletak di jalan raya. Jadi saya memanggil ambulans. Ini tas wanita tadi. Maaf, dok. Saya masih ada keperluan. Saya harus pergi."


Sang dokter menyuruh suster jaga untuk meminta informasi dari bapak tersebut, lalu membuka tas sang pasien, mengeluarkan Hp yang ada di dalamnya dan melihat daftar nama kontak yang terakhir meneleponnya. Saat menemukan nama *mama* di daftar tersebut, sang dokter langsung meneleponnya.


"Halo, Laura. Ada apa?" Sapa suara seorang wanita.


"Maaf, bu. Saya dokter sandra. Saya dokter jaga dirumah sakit pusat. Putri anda baru saja mengalami kecelakaan. Sebaiknya anda datang ke rumah sakit."

__ADS_1


Terdengar teriakan histeris di ujung telepon. "Bagaimana keadaannya, dok? Apakah Laura, tidak apa-apa?"


"Saya belum tahu pasti. Untuk sementara ini putri anda masih dirawat." Dokter Sandra menarik napas perlahan. Memberitahukan kabar buruk kepada pihak keluarga bukanlah salah satu kegiatan yang disukainya. "Anda perlu datang secepat mungkin kerumah sakit pusat."


"Saya akan segera datang. Dokter....tolong... selamatkan putri saya," pinta suara dari seberang telepon.


"Saya akan berusaha, bu." Dokter Sandra menutup telepon, kemudian memerintah suster lain. "Tolong beritahu saya jika kerabat Laura, korban tabrak lari kita, datang kerumah sakit. Dan tolong nanti bErikan tas pasien pada mereka."


"Baik, dokter," kata sang suster sambil mengambil tas Laura dari tangan dokter Sandra.


 


*********************************


Luki mendesah. Perasaanya tidak tenang. Dia meletakkan birnya. Dia bangkit dari kursinya, lalu masuk ke kamarnya dan mengambil kunci mobil. Dia tidak akan menunda sampai besok. Hari ini juga dia ingin berbicara dengan ibu tirinya.


Sesampainya di depan mobilnya, Luki mengernyit heran. Ada selembar kertas putih di sana. Luki membuka kertas tersebut.     ain  kali tidak hanya pacarmu yang akan mengalami *kecelakaan*. Anggap saja ini peringatan karena kau telah berani menantangku.


Luki meremas kertas tersebut. Dia tidak mengerti apa maksudnya. ("Pacar? Aku tidak punya pacar. Jadi, siapa yang dia maksud?") Pikir Luki. Saat hendak masuk ke mobilnya, Luki baru tersadar. Minggu lalu, dia memukul seorang preman bertato naga. Napas Luki berhenti.


Tiba-tiba handphone Luki berbunyi. Ada telepon masuk. Luki mengangkatnya.


"Luki!" Teriak papa panik. "Laura kecelakaan. Sekarang papa dan Helen sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pusat."

__ADS_1


Luki menghentikan mobilnya tiba-tiba. Laura. Laura yang dimaksud Dragon.


Napasnya terengah-engah. Dia merasakan hal yang sama seperti saat ibunya meninggal. Kekosongan dan kesedihan. Dia memaksa pikirannya untuk tetap fokus dan mengendarai mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit.


 ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Dokter Sandra berusaha menenangkan Charles Rafael dan Helen yang sedang panik.


"Putri anda sedang berada di ruang operasi," dokter Sandra menjelaskan dengan tenang. "Dokter Riswan adalah dokter bedah ortopedi terbaik di rumah sakit ini. Beliau akan berusaha menyelamatkan putri anda.


Dokter Sandra melihat mama Laura menangis, sedangkan Charles Rafael memeluk pundak istrinya tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Terima kasih, dokter." Charles Rafael berusaha tersenyum.


"Saya akan kembali kalau ada kabar selanjutnya. Anda berdua harus tabah," dokter Sandra berusaha menenangkan.


"Terima kasih....", ucap Helen perlahan.


Dokter Sandra tersenyum, lalu pergi meninggalkan keduanya. Sepuluh menit kemudian, Luki melihat papa dan ibu tirinya menangis.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Luki panik.


Papa menjelaskan," Laura sedang di operasi. Masih harus menunggu kabar selanjutnya.

__ADS_1


Luki terduduk lemas disamping ibu tirinya. Jam demi jam berlalu tanpa kabar. Papa bolak-balik di depan pintu ruang operasi dengan tidak sabar. Ibu tirinya, setelah menangis selama dua jam, kini berhenti, dan terdiam seakan tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun.


__ADS_2