Butuh Waktu

Butuh Waktu
Bab 41


__ADS_3

**Dragon tersenyum lebar. "Kalaupun aku menabrak adikmu,seperti yang kau tuduhkan, kau tidak punya bukti. Adikmu bisa saja mengenaliku,tapi kalau memang dia terkapar dijalan seperti katamu, bukankah kondisi tubuhnya pasti lemah? Mana mungkin dia bisa melihat secara jelas siapa yang menabraknya? Walaupun kau punya seribu pengacara, argumenmu tidak akan bertahan di pengadilan."


Luki memandang wajah Dragon dengan tatapan mematikan. "Aku tahu. Selama melakukan aksimu kau tidak pernah meninggalkan jejak. Sampai sekarang."


"Apa maksudmu?" Tanya Dragon lantang.


"Kau membuat satu kesalahan," Luki balas menantang Dragon.


"Kesalahan apa?" Dragon mengerutkan kening, tangannya bergerak tidak mau diam.


"Kau menabrak adikku di depan gedung apartemen Rafael. Apartemenku." Luki manatap Dragon sambil berjalan mendekatinya. "Ada banyak kamera pengawas di apartemenku. Ada beberapa kamera yang merekam kejadian saat kau menabrak adikku. Mukamu terpampang jelas disana. Kalau itu belum cukup, kau melakukan kesalahan lagi. Kau membuat surat ancaman dan menaruhnya di mobilku di dalam gedung parkir. Ada kamera pengawas juga disana. Kau boleh menutupi tubuhmu dengan jas hitam dan kacamata, tapi itu tetap dirimu. Semuanya sudah berakhir. Kau akan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama. Aku akan memastikan hal itu sendiri."


Muka Dragon menjadi pucat. Dia mencoba berlari keluar pintu masuk rumahnya. Tetapi beberapa petugas polisi sudah mengacungkan senjata dan menyuruh Dragon diam di tempat.


Luki mendekati Dragon lagi. "Aku benar-benar ingin menghajarmu sampai kau tidak bisa bangkit berdiri lagi. Kau harus berterima kasih pada adikku. Dia membuatku menyadari, kalau aku melakukannya, maka aku sama rendahnya denganmu."


Dua polisi menggiring Dragon dan memborgolnya. Mereka memasukkan Dragon ke mobil polisi. Sebelum mobil tersebut pergi, Luki membungkuk dan berbisik pada Dragon, " kau melakukan kesalahan di hari kau bertemu denganku." Tatapan Luki menusuk tajam tanpa perasaan kedalam mata Dragon. "Tidak ada yang boleh menyakiti keluargaku. Ingat itu!


Dragon beringsut menjauh dari tatapan Luki. Tatapan Luki terlihat sangat mengErikan di matanya. Tak lama kemudian mobil tersebut pergi. Membawa Dragon kekantor polisi.


"Terima kasih atas bantuan bapak." Luki berjalan ke arah inspektur Rahmat.


"Ini sudah menjadi tugas saya," kata inspektur Rahmat. "Lagi pula, saya juga harus berterima kasih pada anda. Akhirnya penjahat kelas kakap seperti Dragon bisa tertangkap. Saya yakin, dengan bukti yang kuat, Dragon akan mendekam di penjara cukup lama."

__ADS_1


Luki mengangguk perlahan.


"Jangan sungkan menelepon saya kalau anda butuh bantuan," kata inspektur Rahmat. Selama beberapa hari ini Luki sudah mengumpulkan barang bukti untuk membantu polisi menyelidiki kecelakaan Laura. Inspektur Rahmat belum pernah melihat orang segigih Luki untuk mendapatkan keadilan. Diam-diam dia menghormatinya.


"Tentu." Luki mengangguk lagi, lalu menjabat tangan inspektur Rahmat, pria yang patut dihormatinya.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


"Tinggal satu langkah lagi. Ayolah,Laura! Kau bisa melakukannya!" Luki memberi semangat.


Laura mengangakat tangannya dan menyuruh Luki menurunkan suaranya. "Jangan kencangkencang. Malu dong dilihat orang-orang. Pergi sana. Kau malah mengganggu terapiku."


Laura memandangi wajah Luki. Ia tahu Luki masih merasa bersalah atas dirinya. Selama tiga bulan Laura tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali. Lalu setelah tiga bulan, dokter Riswan memberi sinyal positif atas pemeriksaan kaki Laura,dan menyarankan Laura untuk menjalani terapi fisik.


Laura berpegangan pada dua tiang dan mencoba berjalan satu langkah lagi. Dalam waktu satu bulan berikutnya, Laura sudah mengalami kemajuan. Ia bertekad untuk sembuh. Luki selalu menemaninya setiap terapi. Mama sudah pindah dan tinggal kerumah papa. Selama masa penyembuhan,Laura juga pindah kerumah orangtuanya, tapi ia bersikeras kembali kerumah lamanya setelah sembuh. Ia tidak ingin berada terlalu jauh dari tempat kerjanya.


Selama berada dirumah sakit, Antonio, Maya, dan semua karyawan restoran bergantian menengoknya tiada henti. Antonio berharap Laura cepat sembuh dan bisa kembali ke dapurnya lagi. Antonio untuk sementara menjabat kembali menjadi chef kepala dibantu oleh Robi, koki senior yang sudah bekerja lebih dulu dari Laura. Untuk mengisi kekosongan waktunya selama masa tidak kerjanya, Laura sering menulis resep-resep baru untuk restoran Antonio,dan meminta Antonio untuk mempraktikkannya.


setelah selesai terapi, Laura membujuk Luki untuk mengantarnya ke restoran. Sudah lama ia tidak berkunjung ke sana. Luki mengalah dengan syarat Laura tidak boleh bekerja sama sekali. Hanya boleh melihat dan bertemu teman-temannya.


"Laura!" Seru maya terkejut melihat kedatangan Laura. "Aku akan bilang Antonio kau ada disini.

__ADS_1


Para pelayan lain mengerubungi Laura dan menanyakan kabarnya. Mereka menempatkan Laura dan Luki di tempat duduk dekat dapur. Antonio keluar dari dapur sambil tersenyum. "Bagaimana kabar chef favoritku?"


Laura tertawa lebar dan memeluk Antonio. "Aku baru saja selesai terapi. Kau tidak akan menjadi chef kepala terlalu lama. Aku akan kembali dalam waktu dekat."


"Bagus." Antonio ikut senang dengan ke optimisan Laura. "Tapi, kau tidak boleh bekerja terlalu lama. Lima masakan perhari saja. Tidak lebih."


Laura cemberut. "Masa cuma lima? Dua puluh masakan perhari."


Antonio menggeleng. "Tidak. Tidak ada tawar-menawar."


"Sepuluh saja,oke?" Kata Laura ngotot. "Sepuluh masakan perhari. Dan setelah sembuh total,aku mau bekerja penuh."


Antonio tampak berpikir panjang. "Hm..... tujuh saja. Dan setelah sembuh kau boleh bekerja penuh, tapi hanya empat hari dalam seminggu. Tiga hari lainnya kau libur."


"Oke," Laura menyetujui dengan cepat. "Aku juga ingin menghabiskan waktu libur bersama keluargaku. Sekarang aku ingin makan masakan buatanmu, Antonio. Selama empat bulan ini aku makan masakan rumah sakit yang benar-benar hambar. Sekarang aku ingin makan enak," katanya sambil tersenyum lebar.


"Aku akan menyiapkan makanan yang enak untukmu," Antonio tersenyum lalu masuk ke dapur.


Melihat Laura tersenyum senang, Luki merasa lega. Dia tahu betapa sulit terapi yang dijalani Laura. Tapi Laura tidak pernah sekalipun mengeluh kesakitan padanya. Dalam waktu empat bulan, hati Luki dipenuhi dua wanita istimewa. Helen dan Laura. Luki berbaikan kembali dengan papa. Dan untuk pertama kalinya, Luki merasakan kekuatan


kasih sayang keluarga**.


 

__ADS_1


__ADS_2